Hidup Sehat Konsumsi Sayur Organik

Mini Kebun Abang Sayur Organik di Cemoro Kandang, Malang. (Foto: Istimewa)

BERDASAR pengalaman hidupnya, Dyah Rahmawati Wicaksananingtyas, menyarankan masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga untuk mengonsumsi sayuran organik. Karena sayur organik atau non kimia mampu menyehatkan tubuhnya dan menyembuhkan penyakit yang dideritanya.

“Sewaktu kehamilan anak kedua kami, saya menderita Eklamsia, sampai koma, dan dirawat di rumah sakit selama satu bulan,” cerita Dyah, warga Cemoro Kandang, Malang, Jawa Timur, belum lama ini.

Eklamsia kejang biasa terjadi selama kehamilan atau sesaat setelah melahirkan. Penyebab penyakit ini, karena kondisi tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urin selama kehamilan (preeklamsia).

Dokter yang merawatnya menyarankan untuk mengonsumsi sayuran organik. Sejak tahun 2013, Dyah yang lulusan Pertanian Universitas Brawijaya Malang memanfaat lahan di sekitar rumahnya untuk ditanami sayur-sayuran.

Lahan seluas 6 meter persegi atau berukuran 2 x 3 meter diolah menjadi mini kebun yang ditanami berbagai jenis sayuran, mulai dari sawi, bayam, kangkung, brokoli, dan lainnya. Berbekal ilmu tanah dan pengetahuan soal organik, Dyah mengupayakan sayuran yang dihasilkan organik dan sehat untuk dikonsumsi.

Baca Juga:  Dengan Berhidroponik, Kebutuhan Sayuran Sehat Terpenuhi

Hasil dari mini kebun itu semula untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi lama kelamaan banyak warga di sekitar yang memerlukannya. Dyah terus melakukan edukasi bahwa sayuran organik bisa untuk terapi kesehatan.

Karena kebutuhan pasar meningkat, Dyah Rahmawati mendirikan unit usaha ekonomi yang diberi label Abang Sayur Organik. Alumni Pertanian Unibraw ini juga menggandeng 19 petani untuk menjadi mitra. Omzet usaha sayuran organik yang dijalankan sebesar Rp 90 juta per bulan.

“Bidang pertanian merupakan usaha bisnis yang tidak pernah selesai. Selama manusia masih membutuhkan pangan, maka sektor pertanian tetap akan eksis,” tegas Dyah yang sudah menekuni usaha sayur organik selama tujuh tahun.

Bagi ibu rumah tangga, ternyata lahan terbatas di sekitar rumah bisa untuk menanam berbagai jenis sayuran. Jika diupayakan dengan sungguh-sungguh dan mengerti tentang manfaat, serta peka terhadap pasar, maka budidaya urban farming juga bisa untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga. (*)

Tinggalkan Komentar