MENYANTAP soto di pinggir jurang rasanya nikmat dan sensasional. Masyarakat, khususnya penyuka kuliner, bisa merasakan perpaduan antara kenikmatan masakan khas desa dan keindahan alam perbukitan.
Perpaduan antara kenikmatan rasa dan keindahan alam, Wiradesa rasakan saat mampir di warung makan Joerang di Candisari, Wukirharjo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu 2 Agustus 2023.
Warung makan Joerang yang oleh pemiliknya disebut warung makan rakyat, berada di jalur wisata menuju Obelix Hills, Mintorogo Hills, dan Gunung Purba Nglanggeran dari arah Prambanan atau Yogyakarta. Jalannya menanjak melintasi perbukitan dan sangat disukai komunitas gowes atau para penyuka sepeda.
Dengan suasana alamnya yang mempesona, warung makan Joerang, dijadikan titik kumpul atau tempat diskusi para pegiat pariwisata. Pada Rabu (2/8/2023) siang, wartawan Wiradesa bertemu dengan para pegiat pariwisata dari Daerah Istimewa Yogyakarta, di antaranya Natsir Ndabey, pegiat kawasan warisan budaya (Heritage Tourism) Kotagede, Yogyakarta dan Mbak Titik pegiat wisata girli Kebon Empring Srimulyo. Piyungan, Bantul.
Selain itu juga “ngobrol ngalor ngidul karo wong nganggur” dengan Wiwid inisiator ruang berkarya Omah Tabon, Masbeng inisiator Agrowisata Latar Ndesan, dan Ndoro Klentheng inisiator destinasi wisata Pengklik. Obrolan dengan orang-orang kreatif, yang menyebutkan dirinya wong nganggur, itu ternyata asyik dan justru memunculkan ide-ide segar untuk pembangunan pariwisata berbasis masyarakat.
“Nganggur ki nak ditlateni jebule nyenengke yo,” ujar Natsir Ndabey sambil tertawa. Jadi menurutnya, pengangguran itu kalau ditekuni ternyata menyenangkan. Kuncinya di ketekunan. Kalau tekun, bidang apa saja bisa menyenangkan. Nganggur aja kalau ditekuni menyenangkan, apalagi kerja, seperti membuka warung, membuat kerajinan, atau mengupayakan potensi desa menjadi destinasi wisata.

Sambil menikmati makanan, minuman, dan cemilan warung makan rakyat Joerang, obrolan menjadi gayeng dan mencerahkan. Makanan yang tersaji, antara lain soto ayam, tempe goreng, dan sate ampela ati. Sedangkan minumannya ada teh nasgithel (panas legi kenthel) dan kopi.
Menu makanan lainnya yang ditawarkan Joerang, meliputi soto sapi, nasi ayam geprek, ayam goreng, ayam kampung, mie geprek telor, mangut lele, mangut nila, lele goreng, dan nila goreng. Sedangkan minumannya, selain the dan kopi, juga ada lemon tea, wedang uwuh, wedang sere, dan teh poci.
Untuk cemilannya, tersaji mendoan, kentang goreng, telo goreng, dan cireng goreng. “Dengan menu masakan seperti itu, maka kami namakan warung makan rakyat. Harganya juga sesuai dengan kantong rakyat,” ujar Wiwid, owner Joerang Warung Makan Rakyat.
Warung makan Joerang, selain tempatnya nyaman untuk berdiskusi, juga bagus untuk berkarya, karena di bawah lereng ada joglo Omah Tabon. Rencananya pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2023 akan ada agenda seni budaya di Omah Tabon. (Ono Wiradesa)







