Menulis Naskah Lakon Butuh Detail, Teliti dan Proyeksi ke Panggung

 Menulis Naskah Lakon Butuh Detail, Teliti dan Proyeksi ke Panggung

Para peserta workshop menulis naskah lakon dalam Temu Karya Sastra yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY tengah mendalami karya agar layak dipentaskan. (Foto: Wiradesa)

BANTUL – Karya garapan para peserta workshop penulisan naskah lakon pada Temu Karya Sastra Daulat Sastra Jogja, sudah mulai terkumpul untuk selanjutnya masuk tahap finalisasi. Hingga pertemuan hari kelima semua tugas yang diberikan oleh para tutor pendamping sebagian besar dikerjakan dan dikirimkan.

“Kalau dilihat dari tugas yang diberikan dan dikerjakan lalu dikirim kepada tutor dan pendamping kelas, acara ini sukses. Hampir semua peserta mengirim tugas yang diberikan,” kata Husnul Latif, salah satu tutor pendamping kelas menulis naskah lakon.

Ditemui Selasa 28 Juni 2022, di lokasi acara di Sekolah Anak Alam (Salam) Ngestiharjo, Kasihan, para peserta workshop penulisan naskah lakon tampak membacakan sinopsis. Pembacaan sinopsis tersebut sebagai tahap persiapan naskah lakon untuk penampilan di panggung. “Para peserta cenderung tertarik mengikuti berbagai materi workshop. Mereka berusaha mengimplementasikan karya. Karya-karya yang mereka kirim dievaluasi. Setelah dievaluasi mereka mau menerima masukan dan kemudian membenahi,” tuturnya.

Husnul tak secara spesifik dalam memberikan pendalaman materi. Kelas yang diampunya cenderung berkembang. Bagian mana yang dirasakan masih kurang langsung diberikan pematangan dengan pendekatan personal. “Penajaman satu peserta dengan yang lain tak selalu sama. Yang di bagian penggalian karakter tokoh masih kurang maka dibenahi di bagian itu. Begitu pula dengan penokohan, latar. Pendalaman materi yang banyak dilakukan diantaranya bagaimana menghadirkan setting panggung. Kebanyakan peserta kurang bisa hadirkan suasana panggung dalam naskah lakon mereka,” imbuh Husnul yang bergiat di Teater Tombo Loro Sanden.

Menghadirkan suasana panggung termasuk musik pengiring, properti panggung, agar pementasan bisa hidup, kata Husnul, belum tampak. “Panggung memang harus dikuasai. Contoh mau buat setting warung, pantai, sawah seperti apa harus sudah dipikir sedari awal menulis,” tuturnya.

Baca Juga:  Peserta Temu Karya Sastra Ikuti Workshop Puisi, Cerpen dan Naskah Lakon

Tahap praktik membacakan naskah apakah komunikatif atau tidak, ataukah malah janggal di atas panggung dilakukan siang itu. Dengan mempraktikkan naskah, bisa ditemui bagian yang dirasa masih kurang. Termasuk properti pendukung yang perlu dilengkapi akan kelihatan. Pembacaan sinopsis dan mempraktikkan naskah akan mempermudah finalisasi naskah pada tahap selanjutnya.

“Sebagai pembimbing besar harapan agar ilmu yang didapat bisa disebarluaskan khususnya kepada anak muda di lingkungan masing-masing,” ujar Husnul. Husnul mengaku puas kalaupun hasil karya dianggap kurang maskimal. Ia melihat sisi positif yang ditunjukkan selama proses kegiatan berlangsung. Misalnya para peserta sudah mau memperbaiki karya kala dilakukan evaluasi.

Sementara itu, tutor pendamping lainnya Nani Indarti menuturkan, dalam penyampian materi dan kemampuan menangkap materi yang dia sampaikan tak ada kendala berarti. Hanya saja, dia memperkirakan akibat adanya praktik pembelajaran daring yang cukup lama pada musim pandemi, berpengaruh pada konsentrasi para peserta. Dia menilai saat mengikuti aktivitas tatap muka di kelasnya, tingkat konsentrasi masih kurang maksimal. Ditandai adanya sikap diam, kurang respons. Akan tetapi, peserta yang hadir hingga sesi menjelang akhir workshop menunjukkan catatan bagus.

“Harapannya, mereka menulis naskah lakon, mereka bisa membayangkan, mengimajinasikan naskah ke panggung. Dari teks menuju panggung tidaklah mudah. Karena panggung itu kontekstual. Terlihat secara detail masih ada kekurangan. Contoh, kalimat seperti ini ekspresi seperti apa, marah? Takut?. Ada dialog namun tak ada laku yang dijelaskan,” ungkap Nani menyampaikan sedikit evaluasi yang dilakukannya.

Menurut Nani, menulis naskah lakon butuh detail, ketelitian. Bahwa menulis naskah lakon harus punya proyeksi ke panggung tak sekadar berisi teks cerita semata. Ia mengamati, sebagian peserta masih terbawa dalam arus menulis naskah yang bertele-tele. Menyampaikan banyak adegan yang kurang perlu dengan maksud untuk memperpanjang durasi ketika ditampilkan di panggung. “Naskah lakon yang dikerjakan para peserta sekitar 10 halaman. Bisa dipentaskan dalam durasi pertunjukan satu jam,” pungkasnya. (Sukron)

Sukron Makmun

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: