KULONPROGO – Menangani ular tatkala masuk rumah butuh ketenangan, dan tidak perlu panik. Alangkah baiknya, sebelum melakukan tindakan terlebih dahulu mengidentifikasi apakah ular tersebut berbisa atau tidak.
Menurut Advance Trainer Sioux Yayasan Ular Indonesia Slamet Riyadi, jenis ular di Indonesia sangat banyak jenisnya mencapai ratusan bahkan mungkin lebih dari itu. Slamet Riyadi yang akrab disapa Memet menuturkan, prinsipnya ular bila tak diganggu terlebih dahulu tak akan menyerang manusia. Kecuali jenis king kobra yang bisa menyerang terlebih dahulu.
Memet yang sehari-hari berdinas sebagai petugas pemadam kebakaran (damkar) Kulonprogo mengaku, hampir setiap hari ada warga minta bantuan penanganan ular yang masuk rumah atau masuk ke lingkungan pemukiman.
“Paling gede diminta bantuan menangkap piton sepanjang tiga meter. Belum lama beberapa waktu lalu dimintai bantuan menangkap kobra jawa sepanjang 1,5 meter di Josutan Karangsari, Pengasih,” ucap Memet kepada wiradesa.co di sela mengisi pelatihan penanganan ular di lingkungan rumah di Gedung PAUD Pedukuhan Suren, Sukoreno, Sentolo, Minggu 12 Februari 2023.
Memet mengisahkan, pernah pula dia mengamankan king kobra peliharaan sepanjang empat meter yang baru mematuk pemiliknya tatkala dimandikan dan berujung nyawa sang pemilik di Samigaluh, tak tertolong.
“Kepada anak-anak penting untuk disampaikan agar saat bertemu ular apa pun agar jangan sampai disentuh. Segera minta tolong kepada orang yang punya keahlian atau jangan ragu mengontak damkar bila ular tersebut sampai masuk rumah,” imbuhnya.
Sebagai petugas yang telah terbiasa menangani berbagai jenis ular, Memet membekali diri dengan sejumlah peralatan standar, seperti grab berfungsi menahan gerak ular, hook berfungsi menjepit, sepatu boot dan wajib berkacamata serta celana panjang.
Sebagai trainer, Memet berbagi materi edukasi soal ular. Seperti siang itu di hadapan anak-anak warga Suren dan anggota Karangtaruna Padukuhan Suren, Memet menerangkan berbagai jenis ular baik yang berbisa maupun yang tidak berbisa.
Mengenal Jenis Ular
“Ciri ular berbisa tak selalu bentuk kepala menyerupai segitiga. King kobra berbisa tinggi, kepala bentuknya biasa seperti umumnya. Hanya dia akan berdiri hingga sepertiga badan. King kobra tak menyemburkan bisa sementara kobra jawa menyemburkan bisa. Ciri khusus king kobra dan kobra leher bisa melebar dan agresif serta mendesis,” jelasnya.
Memet kemudian menunjukkan beberapa jenis ular berbisa dan tak berbisa yang ia bawa. Ular-ular disimpan dalam toples plastik ditutup rapat. Ada ular viper hijau ekor merah yang masuk kategori berbisa tinggi, weling juga berbisa tinggi serta kobra jawa. Karena berbisa tinggi ular-ular tersebut tak dikeluarkan dari kotak boks kontainer plastik dan hanya bisa dilihat dari luar.
Maulina dari Sioux Yayasan Ular Indonesia yang turut mendampingi Memet menambahkan, ular merupakan satwa yang sering banget dijumpai warga khususnya di perkampungan lantaran habitatnya cocok. Maulina menyarankan bila bertemu dengan ular agar diam dan tenang. Bila bertemu di kebun atau di jalan biarkan ular lewat. Bila ular masuk rumah, tetap tenang, pantau posisi ular berada di mana. Segera panggil bantuan tetangga, rescue ular atau petugas damkar. Ia mengingatkan, dengan ratusan jenis ular bahkan lebih, di Indonesia baru tersedia serum antibisa ular untuk tiga jenis ular yakni welang, kobra Jawa, dan viper tanah. Ia menambahkan viper tanah atau rodostoma selain berbisa tinggi taringnya bisa menembus ketebalan sepatu boot.
“Jadi adik-adik, kalau jalan di kebun setiap melangkah perhatikan kaki, injakan kaki, karena viper tanah suka berdiam di tumpukan daun kering kulitnya pun menyerupai tanah,” ujar Maulina.
Mitos seputar ular, ular takut dengan garam tidaklah benar. Ular lebih tidak suka terhadap bau-bauan macam kapur barus, pewangi lantai, karbol. Karena itu, untuk mengantisipasi ular agar tak masuk rumah, salah satu cara yang bisa dilakukan yakni menyebar kapur barus di sudut-sudut ruangan. Perlu juga menutup lubang di bawah pintu dengan papan triplek atau semacamnya biar rapat. Sedangkan penanganan terhadap korban gigitan ular, daerah sekitar luka dipasang bidai seperti pada korban patah tulang. Tujuan immobilisasi untuk menghambat bisa ular agar tak cepat menyebar. Korban sesegara mungkin dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diberi penanganan oleh tenaga kesehatan.

Sementara itu, Ketua Karangtaruna Pedukuhan Suren Fahri mengatakan, acara pelatihan penanganan ular di lingkungan rumah bertujuan agar masyarakat, anak-anak dan remaja setempat teredukasi. Terlebih, di wilayahnya belum lama ini seorang warga menangkap ular jenis piton di sekitar rumah. (Sukron)








