Peduli Populasi Ikan Lokal, Suryanto Raih Kalpataru Tingkat DIY

 Peduli Populasi Ikan Lokal, Suryanto Raih Kalpataru Tingkat DIY

Suryanto mengembangbiakkan berbagai jenis ikan hias. (Foto: Wiradesa)

KULONPROGO – Hobi memelihara ikan hias terus dikembangkan Suryanto. Dari satu kolam dan satu akuarium di samping rumah, ia mencoba menangkarkan dan kemudian sukses mengembangbiakkan berbagai jenis ikan hias.

“Jenis ikan menyesuaikan tren. Beli sepasang dua pasang. Dari koi lanjut lohan, cupang, cichlid, dan banyak ikan hias kecil lain,” ucap Suryanto.

Banyak orang bisa membeli ikan hias namun menurut Suryanto tak banyak yang kemudian sanggup menangkarkan dan mengembangbiakannya. Hal itu yang membuatnya penasaran lalu memberanikan diri mencoba dan berhasil. Ikan hias koleksi Suryanto makin bertambah dan dia tak ragu menambah fasilitas kolam dan akuarium. Apalagi hobi yang mulai dia seriusi pada 2008 mulai menghasilkan pundi rupiah beberapa tahun berikutnya. “Meski sudah memberi hasil dari sisi keuangan, namun ikan hias hingga saat ini masih kegiatan sampingan belum menjadi mata pencaharian utama,” tuturnya, Jumat 17 September 2021.

Menekuni bisnis sampingan jualan ikan hias di rumahnya di Carikan, Bumirejo, Lendah, yang sudah jalan dan mulai dikenal khalayak luas, langkah Suryanto tak selalu lancar. Pernah suatu ketika biaya operasional mendadak meningkat mengharuskannya beberapa kali tombok. Dikisahkan, format jualan memang tak seperti pedagang lain yang buka toko, tetapi mengandalkan jualan online. Suryanto pun sedikit mengubah orientasi jualan. Tak murni sebagai wahana dagang semata namun kolam dan akuarium rumah merangkap fungsi sebagai tempat berbagi ilmu perihal ikan hias bagi siapa saja khususnya mereka yang datang membeli ikan ke rumahnya.

“Kepada siapa saja yang datang siap sharing pengetahuan. Bagaimana agar ikan yang dibeli tetap sehat. Bila terlanjur sakit bagaimana cara mengobatinya,” ujar Suryanto yang kemudian membranding usahanya dengan sebutan Surya Fish Farm Education.

Baca Juga:  Manfaatkan Limbah Perca, Produk Beny Tembus Pasar Jerman

Sebagai sarana edukasi, sebelum pandemi, anak-anak TK, SD berdatangan ke rumahnya belajar mengenal ikan hias. Dengan model seperti itu, usaha jualan ikan hias jalan karena tak sedikit dari anak-anak yang datang belajar, pulangnya justru membeli ikan kepadanya.

Peduli Lingkungan

Menggeluti usaha sampingan ikan hias memanfaatkan kolam dan akuarium yang dibangun berderet dan saling berdekatan tak jauh dari rumah, Suryanto rupanya menaruh perhatian khusus kepada ikan-ikan lokal. Dalam pengamatannya, ikan-ikan lokal keberadaannya makin terpinggirkan dan terancam punah akibat maraknya praktik ilegal fishing dan masuknya ikan luar akibat proses perdagangan.

“Praktik ilegal fishing misalnya menangkap ikan pakai racun, setrum, jala pukat. Pada saat yang sama ikan dari luar nonendemik masuk. Ikan luar bersifat invasif. Belum tentu predator namun ikan luar bisa berkembangbiak cepat. Mengancam keberadaan (pakan) ikan lokal,” urai Suryanto sembari menyebut beberapa jenis ikan lokal; wader pari, wader cakul, wader abang, lele lokal, gabus, bethik.

Beragam jenis iklan lokal yang dikembangbiakkan oleh Suryanto (Foto: Wiradesa)

Kepedulian Suryanto terhadap jenis ikan lokal yang kian terancam diwujudkan antara lain dengan turut bergabung bersama komunitas peduli lingkungan. Mencari data jenis-jenis ikan lokal di Kulonprogo dan seputar Yogya. Langkah inventarisasi puluhan jenis ikan lokal dilakukan. Tak berhenti di situ, Suryanto mengambil sampel ikan lokal dari habitat alam, kali, waduk, untuk didomestikasi. Ikan diambil mesti beradaptasi dengan lingkungan baru, dipindah habitatnya dari sungai, kedung, waduk ke habitat kolam, akuarium guna dikembangbiakkan. Hingga kini, tiga jenis wader telah berhasil ditangkarkan secara alami. Anakannya sesekali dirilis kembali ke alam. Ilmu menangkarkan ikan lokal dikuasai Suryanto lewat proses pengamatan.

“Lewat ajakan kegiatan pameran seperti dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo saya berupaya menyampaikan edukasi kepada masyarakat. Mengkampanyekan larangan ilegal fishing karena mengancam populasi ikan lokal,” imbuhnya. Ia tak bosan terus mengajak siapa saja agar tak merilis ikan yang invasif ke alam. Ikan invasif bukan melulu jenis ikan galak alias predator. Termasuk jenis ikan invasif ialah ikan yang mampu berkembangbiak dengan cepat sehingga merusak habitat ikan lokal. “Ikan mas termasuk jenis ikan invasif karena kotoran banyak bikin keruh air,” kata Suryanto.

Baca Juga:  Iswanti, Layani Pesanan Batik Kantoran

Kiprah Suryanto dengan upaya melestarikan ikan lokal membuatnya dilirik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulonprogo untuk diikutkan sebagai nominator penerima penghargaan Kalpataru tingkat DIY 2021. Apa yang dilakukan selama ini jadi modal untuk disampaikan saat penjurian dan hasil akhir Suryanto meraih Juara 1 Kalpataru DIY Kategori Perintis Lingkungan dan ia berhak maju ke tingkat nasional.

Di samping peduli terhadap ikan lokal, Suryanto mengajak masyarakat sekitar tempat tinggalnya untuk menjalankan kegiatan bersih kali. Mengkampanyekan larangan berburu ikan dan burung, menanam pohon pengikat air untuk menjaga kelestarian mata air seperti pohon gayam, beringin, fikus dan munggur. (Sukron)

Sukron Makmun

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: