Pendiri Museum Panji Dwi Cahyono Dijuluki Crazy Man dari Malang

Dwi Cahyono (Foto: Wiradesa)

MALANG – Ide brilian dan konsep itu bisa muncul dari setiap kepala, namun hanya sedikit orang yang bisa mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah karya. Walaupun melalui perjuangan cukup berat, namun individu yang memiliki tekad pasti akan terus berupaya untuk mewujudkan apa yang ada di pikirannya walau banyak rintangan yang menghalanginya.

Sorot matanya yang teduh dipadu dengan tutur bahasa yang kalem namun berbobot, seolah mencerminkan kalau salah satu tokoh sejarah Malang itu merupakan sosok individu yang tidak mudah menyerah dan selalu memiliki cara untuk mewujudkan idenya.

Baginya sebuah halangan untuk mewujudkan ide itu hanya tantangan kecil, tapi tantang terbesarnya adalah bagaimana ide itu terwujud dan bisa bermanfaat bagi orang lain. “Saya harus berani menantang arus agar bisa mewujudkan ide itu,” kata Dwi Cahyono saat ditemui wartawan di Hotel Savana, Kota Malang, Senin 6 Desember 2021.

Yah..dialah Dwi Cahyono, salah satu tokoh sejarah Malang yang memiliki jasa besar bagi sejarah Malang. Melalui kerja kerasnya ia berhasil mendirikan Museum Malang Tempo Doeloe yang berada di Jalan Gajah Mada Kota Malang. Lebih  hebatnya lagi, museum yang didirikannya pada tahun 2012 itu menjadi museum terbaik nasional yang dikelola swasta.

Baca Juga:  Sensasi Menikmati Bakso President Malang di Pinggir Rel Kereta Api

Dalam museum itu terdapat miniatur sejarah kota Malang, dimulai dari kehidupan 1,5 Juta tahun lalu, cikal bakal lahirnya Kerajaan Kanjuruhan, Singasari, penjajahan Belanda, Jepang, masa perjuangan merebut kemerdekaan, hingga berbagai peristiwa pasca kemerdekaan bisa dipelajari di museum ini.

Semua tergambar di dalam museum tersebut lengkap dengan perangkat audio visual yang diputar di layar televisi 20 inci yang ada di hampir setiap ruang. Malang pun ditetapkan sebagai Kota Pusaka Indonesia dari Indonesia Heritage Trust perwakilan Internasional National Trust Organisation (NTO) yang berpusat di London. Penghargaan diberikan kepada Dwi Cahyono selaku pegiat sejarah dan pimpinan Yayasan Inggil Kota Malang.

Dwi Cahyono (kanan) bersama Sihono HT founder Wiradesa Group. (Foto: Wiradesa)

Setelah berhasil mendirikan Museum Malang Tempo Doeloe, ternyata tidak membuat pria kelahiran 13 Juli 1966 itu puas. Kecintaanya terhadap sejarah membuatnya terus memiliki keinginan untuk menjaga literasi budaya yang ada di Malang dengan kembali mendirikan Museum Panji yang berada di Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jatim.

Dibangun di atas lahan seluas tiga hektar, museum yang dibangun sejak tahun 20114 ini  dikonsep sebagai objek wisata edukasi, wisata budaya dan sekaligus menjadi sarana rekreasi.

Baca Juga:  Pembukaan Porwanas XIII, Kontingen Siwo PWI DIY Tampilkan Prajurit Lombok Abang

Cerita Panji bukan sekadar dongeng, namun terdapat ratusan naskah kuno, motif batik dan sejumlah relief candi serta terkait erat dengan sejarah kerajaan di Jatim.

Kekayaan budaya dari Jatim,  ini telah menyebar ke berbagai daerah di Nusantara bahkan hingga ke beberapa negara di Asia Tenggara. Bahkan UNESCO telah menetapkan naskah-naskah Panji sebagai Memory of the World (MoW).

Bagi Dwi Cahyono, kecintaan terhadap sejarah tidak lepas dari kultur keluarganya. Ia juga terinspirasi dari ibunya Hj. Nur Sriati suka menari dan menyanyi maupun memutar lagu-lagu Jawa.

Dari didikan keluarga itulah terlecut di hati Dwi Cahyono untuk mencintai budaya dan ia merasa tergerak untuk menjaga sejarah yang ada di Kota Malang.

“Saat saya masih SMP saya melihat banyak arca peninggalan Majapahit dan Singosari di Kota Malang, malah banyak arca yang sering ditabrak pengguna motor saat parkir hingga arca itu rusak,” tutur pria yang pernah mencalonkan diri menjadi Wali Kota Malang itu.

Salah satu arca yang ia lihat adalah Arca Nandi atau Nandiswara adalah lembu yang menjadi Wahana Dewa Siwa dalam mitologi Hindu dan  juga juru kunci Siwa dan Parvati. “Padahal Arca Nandi itu sangat langka di dunia,” katanya.

Baca Juga:  Ekspresi Orangtua di Kampung Lansia

Melihat kondisi inilah pria berkulit sawo matang itu mulai menggambar sketsa arca yang ditemuinya. Kemudian ia mencoba melaporkan temuannya itu ke Pemkot Malang.

“Jaman dulu tidak ada kamera, jadi saya gambar dengan teknik sketsa, dan gambar-gambar itu sampai sekarang masih saya simpan,” katanya.

Setelah bergulat cukup lama dengan sejarah, maka ia dan kawan-kawannya memiliki tekad untuk mendirikan museum di Malang. Hanya saja saat itu tidak mudah untuk meyakinkan pemerintah, sebab ia harus menunjukkan banyak bukti peninggalan sejarah di Malang. “Tapi syukurlah semua bisa terwujud,” katanya.

Keberhasilannya membangun dua museum itu membuatnya dijuluki crazy man dari Malang. Sebab hanya orang gila yang mau menginvestasikan hartanya untuk membuat museum. “Disebut gila itu bagi saya sudah biasa, saya tidak marah karena yang penting karya,” katanya.

Jika dilihat dari segi bisnis, mendirikan museum bukanlah investasi yang bagus bahkan tidak menguntungkan, tapi keberanian Dwi Cahyono ini setidaknya membuka wawasan bagi para pemilik uang untuk mau berinventasi terhadap dunia pengetahuan. (Wawan Tri)

Tinggalkan Komentar