Sabtu, 5 November 2022, Youth Interfaith Peace Community (YIPC) menggelar perayaan Sirah an-Nabi bersama Qur’anic Piece Study Club dan berkolaborasi dengan Jemaah Ahmadiyah Yogyakarta. Bertempat di Fadli Umar milik Ahmadiyah Yogyakarta.
Dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh Ahmad Hidayat, kemudian dilanjutkan sambutan dari ketua Jemaah Ahmadiyah, Sugiarno. Ia menyambut para tamu, dan berpesan bahwa masjid ini terbuka untuk siapapun. “Tak perlu sungkan, bukan rumah kami tapi rumah kita,” tegasnya.
Perayaan ini bertema “Meneladani Akhlak Nabi Muhammad: Cinta Untuk Semua, Kebencian Tidak Untuk Siapapun”. Menariknya perayaan tidak hanya diikuti oleh umat Islam, justru para pembicara diisi banyak Pendeta dan Romo.
Dimulai dari Pendeta Boydo R. Hutagalung. Ia menceritakan kekagumannya pada sosok Muhammad SAW. Ia melihat keserasian antara Muhammad dan Yesus yang keduanya membawa ajaran yang berpengaruh pada sosial, dari kesetaraan, kritis dan pembaws kedamaian. Teladan kedua agama ini sama ditolak oleh masyarakat sekitarnya sebab semangat revolusionernya.
Selanjutnya Pendeta Gerald Siregar (pelayan umat di gereja Kalam Kudus Malioboro). Ia detail mengenalkan gerejanya agar para audiens juga bisa mengunjungi gerejanya. Pendeta berpesan bahwa gerejanya juga terbuka untuk siapapun. Menurutnya Islam adalah agama yang keras sebab terjadinya banyak kasus terorisme yang dimotori umat Islam, namun hal itu berubah setelah ia banyak belajar tentang Islam. “Islam adalah agama yang damai, Muhammad adalah orang yang bijak,” jelasnya saat berpidato.
Pidato ketiga disampaikan Romo Handrianus Eka Uma. Ia mengaku baru saja ditahbis menjadi Romo, tepatnya tanggal 22 Oktober 2022 setelah 9 tahun studinya. Pada kesempatan ini ia mempresentasikan kekagumannya pada jalan mistik Nabi Muhammad SAW. “Muhammad adalah orang yang rendah hati dan merangkul kaum lemah. Segala yang dilakukan Muhammad memiliki alasan,” jelasnya.
Pembicara selanjutnya disampaikan Pendeta Yane F. Tarigan. Menurutnya Muhammad sangat menjadi teladan bagi umatnya, buktinya setiap tahun selalu ramai dirayakan kelahirannya. Sebagai wanita ia merasa disayangi Muhammad sebagaimana ia menyayangi dan suka menolong perempuan janda dan terpinggirkan. Dalam kesempatan ini audiens melepaskan ketawanya atas pengakuan Pendeta Yane yang baru saat ini berbicara di mimbar berlogo tauhid. Biasanya ia berpidato di mimbar salib.
Kemudian dilanjutkan pembacaan sejarah Nabi Muhammad yang dibawakan oleh Mikha Bastian dari Universitas Kristen Duta Wacana. Audiens seksama mendengarkan.
Pidato keenam dibawakan oleh Romo Joko Lelono. Ia bersyukur diundang hari natalnya Islam. Ia menyampaikan bahwa perjumpaan antar agama diluar mempertandingkan, namun disini kita bersama dalam ruang spirit dan hati. “Muhammad itu duta damai. Ia adalah pribadi yang menyerahkan hidupnya dituntun oleh tuhan”.
Nani Minarni adalah pendeta terakhir yang menyampaikan pidatonya dalam acara ini. Ia begitu fasih dalam menjelaskan agama Islam. Ia mengaku bersedia disebut orang Islam sebab Islam berarti damai. Kefasihannya membuat audiens dari agama Islam geleng-geleng kepala. “Muhammad itu mengajarkan hablum minallah dan hablum minannas, hubungan vertikal dan horizontal. Kalau digabung ya seperti salib,” jelasnya, diikuti gelak tawa lepas dari para audiens.
Kemudian pidato terakhir disampaikan Murtiyono Yusuf Ismail, perwakilan dari Jemaah Ahmadiyah Yogyakarta. Ia menceritakan masa kelam Ahmadiyah yang dikucilkan masyarakat. Ia bercerita sempat mengalami penyerangan di Jamia Ahmadiyah Bogor saat wisuda. Ia juga bercerita akan penggusuran umat Ahmadiyah di lombok yang sampai saat ini belum mendapatkan kembali hak-haknya.
“Membaca sejarah nabi Muhammad adalah autokritik bagi kita, sampai mana kita telah mengikuti jejaknya,” ujarnya. Ia berharap acara seperti ini bisa terus membudaya kedamaian akan terealisasikan.
Acarapun ditutup oleh Daeng Ahmad dari UKDW sebagai pembawa acara. Ia mengingatkan para audiens bahwa cemilan dan minuman masih banyak dan audiens diminta menghabiskannya. Audiens kemudian diminta untuk foto bersama. (Yuniar Aviccena)








