Sugiyarto, Berlatih Jemparingan untuk Melestarikan Budaya

 Sugiyarto, Berlatih Jemparingan untuk Melestarikan Budaya

Sugiyarto menunjukkan cara memegang gendewa dan menarik anak panah pada jemparingan. (Foto: Wiradesa)

KULONPROGO – Jemparingan, kegiatan olahraga tradisional yang membutuhkan area dan peralatan khusus. Sasaran bidik anak panah pada jemparingan berupa bandul dengan tiga warna.

Bila anak panah menancap pada warna putih nilainya satu. Menancap pada warna kuning nilai dua dan warna merah diberi nilai tiga.

Sekretaris Paguyuban Jemparingan Wonopati Kalurahan Salamrejo Sugiyarto menuturkan, pada jemparingan sasaran yang dibidik berjarak minimal 30 meter. “Untuk bisa mengenai target dalam jemparingan butuh latihan, fokus dan ketenangan. Pertama kali main jemparingan mungkin lengan kiri bakal merah-merah kena tali karena tangan kiri belum terbiasa memegang gendewa dengan tangan kanan meregangkan anak panah,” kata Sugiyarto, Senin 15 Januari 2024.

Latihan jemparingan secara berkala dilaksanakan anggota Paguyuban Jemparingan Wonopati. Terlebih pada momen tertentu, kala mau ikut gladen (pertandingan). Anggota paguyuban dari para pamong Kalurahan Salamrejo termasuk lurah Salamrejo, para pemuda juga sebagian dari warga Salamrejo. “Yang ikut paguyuban dan latihan sekitar 30 orang. Lokasi latihan berada di Padukuhan Dhisil,” jelasnya.

Hampir seluruh anggota paguyuban punya peralatan jemparingan berupa gendewa dan anak panah. Mereka menekuni jemparingan sebagai hobi. Di samping itu, ada yang menekuni jemparingan untuk prestasi atau sebagai atlet.

“Kalau jemparingan tradisional sasaran bidikan berupa bandul sedangkan pada ajang Porkab target mirip pada olahraga panahan bukan pakai bandul,” imbuhnya.

Selain berlatih sebagian anggota Paguyuhan Jemparingan Wonopati pernah mengikuti ajang gladen jemparingan. Seperti gladen ageng jemparingan tingkat nasional di Kulonprogo, lomba jemparingan Mataraman tingkat nasional Pakualaman Cup beberapa tahun lalu.

“Berlatih jemparingan tak semata mengejar prestasi karena di dalamnya ada upaya pelestarian budaya. Gendewa dan anak panah pada jemparingan tradisional merupakan senjata orang Jawa pada masa lalu. Terbukti di Kraton Jogja ada prajurit jemparing,” jelas Sugiyarto.

Baca Juga:  Jazz Syuhada: Sosialisasi Pancasila Melalui Seni, Musik dan Budaya

Selain sebagai upaya melestarikan budaya, kegiatan jemparingan bisa menjadi atraksi wisata edukasi dan bisa disinergikan dengan paket kunjungan wisata desa di Salamrejo.

“Dengan anggota paguyuban, adanya lokasi yang memadai untuk melaksanakan jemparingan, serta adanya peralatan yang cukup, bila ada wisatawan yang berkunjung dan ingin mengenal jemparingan mulai dari alat gendewa seperti apa, sasarannya seperti apa, bagaimana cara memegang dan menarik anak panah, setidaknya kami bisa memberi penjelasan,” pungkasnya. (Sukron)

Sukron Makmun

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: