KH Deny Setiawan: 10 Hari Terakhir Ramadan yang Sangat Menentukan

Dr KH Deny Setiawan SE MPd. (Foto: Istimewa)

HAWA dingin kawasan Turgo, Purwobinangun Pakem Sleman terasa menusuk bagi yang tak biasa kena udara pegunungan. Namun bagi para santri Pesantren Bidayatussalikin 2, cuaca dingin tak menghalangi semangat mereka untuk melaksanakan rutinitas petang itu.

Pada Selasa petang (10/3/2026) kegiatan 57 santriwan dan generasi hijrah, 20 santriwati bersama 23 guru mengikuti Salat Magrib berjamaah di masjid kompleks pesantren yang diasuh Dr KH Deny Setiawan SE MPd. Kiai Deny menuturkan, santri generasi hijrah istilah bagi seseorang yang beriman yang ingin memperbaiki diri di jalan Alloh dengan sungguh-sungguh. Terlepas apa pun latar belakang sebelumnya.

“Di pondok semua santri namun ada kelas generasi hijrah istilah di pondok yang pengertiannya generasi yang mau bertaubat. Para santri di sini diarahkan selalu untuk memperbaiki akhlak, mengaji hafalan bacaan salat, hafal juz 30 dan hafal surat pilihan. Untuk amalan yakni amalan Kitab Hakkul Yakin untuk perlindungan,” terang Kiai Deny sembari menunggu tanda waktu berbuka puasa Ramadan 1447 H.

Baca Juga:  Inisasi Konsorsium Riset Kopi, UGM Terima Kunjungan Tim Riset Kopi University of California

Agenda malam itu di Bidayatussalikin 2 di samping Salat Tarawih dilanjutkan pengajian Nuzulul Quran. Kiai Deny bertindak sebagai imam salat Tarawih sekaligus penceramah dalam pengajian Nuzulul Quran.

Di masjid dengan bangunan cukup bersih dan megah, para santri takzim duduk menyimak pengajian. Kiai Deny menerangkan keutamaan waktu sepertiga malam di mana Alloh Swt turun ke langit. “Kata Alloh, barang siapa yang berdoa kepada-Ku Aku akan kabulkan. Barang siapa minta ampun maka Aku ampunkan,” ucap Kiai Deny.

Keistimewaan sepertiga malam banyak dimanfaatkan untuk menjalankan berbagai amalan ibadah. Salat malam salat Tahajud, Hajat, salat Taubat juga untuk membaca Alquran.

Menurut Kiai Deny, sepertiga malam merupakan bagian malam yang paling akhir sebelum terbit fajar. Detik-detik akhir itu masa-masa berharga dan menentukan. Dia contohkan dalam umur misalnya. Detik-detik terakhir menentukan seseorang akan khusnul khotimah atau suul khotimah. “Muda penuh dosa tapi di penghujung usia bertaubat. Akhir yang baik. Lebih baik jadi mantan preman daripada mantan kiai. Lebih baik mantan pencuri daripada mantan santri,” imbuhnya.

Baca Juga:  Berbagi di Tengah Pandemi Covid-19, Warga di Purbalingga Bagikan Sembako Hasil Jimpitan

Saat-saat sepertiga malam harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Apalagi di 10 hari terakhir terdapat satu malam yang penuh berkah yakni malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar khoirun min alfisahr. Lebih baik dari seribu bulan.

“Seribu bulan apabila dikonversi tahun sekitar 83 tahun lamanya. Dulu di zaman Rasulullah para sahabat bahagia ketika turun Surat Alqadr. Beribadah pada malam Lailatul Qadar beristighfar atau menjalankan ketaatan lain maka kualitas nilainya lebih dari beribadah selama 83 tahun,” jelasnya.

Keistimewaan malam Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Alquran fase pertama dari lauhul mahfud ke baitul izzah. Fase kedua dari baitul izzah ke bumi ke Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun.

Diterangkan, Alquran kitab suci yang istimewa. Bentuk keistimewaan Alquran, Alquran punya banyak fungsi. Alquran merupakan kitab petunjuk dari Alloh untuk menyelesaikan persoalan manusia. Begitu banyak masalah yang dihadapi umat manusia tetapi Alloh menurunkan Alquran untuk menjawab masalah umat manusia.

Kiai Deny kemudian menerangkan empat fungsi Alquran. Alquran diturunkan bagi umat manusia tanpa pandang bulu. Pertama Alquran sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Alquran berfungsi pula sebagai pengajaran terkait segala sesuatu yang manusia lakukan. Di samping pengajaran di dalam Alquran terkandung pelajaran. Misalnya hablum minannas. Baik kepada orangtua. Perintah berbuat baik kepada kerabat, berbuat baik kepada orang-orang yang menjadi tanggungan.

Baca Juga:  Pimpinan Pesantren Lintang Songo Tausiah Melalui Whatsapp

Alquran juga berfungsi sebagai obat. Obat manusia di bagian batin dan bagian dhohir atau luarnya. Masuk Ramadan hingga fase 10 hari terakhir, kata Kiai Deny sudah melampaui doa-doa yang kita minta. Sejak Rajab berdoa agar bersua Ramadan. Namun di 10 hari terakhir Ramadan menjadi semacam masa penentuan. Apakah mau lulus dari Fakultas Ramadan apa tidak. “Mau jadi orang yang bertakwa atau mukmin biasa. 10 hari terakhir yang sangat menentukan. Babak penentuan sebagus apa ibadah kita,” pungkas Kiai Deny. (Skr)

Tinggalkan Komentar