Pendapatan pemancingan di Embung Potorono selama empat hari pada bulan April 2026, mencapai ratusan juta rupiah. Perkiraannya pemasukan dari pemancingan sekitar Rp 175 juta.
Pada bulan April 2026, pemancingan di Embung Potorono dilaksanakan enam kali, meliputi empat kali berbayar dan dua kali gratis.
Pelaksanaan pemancingan pertama pada Minggu 12 April dengan harga tiket Rp 500 ribu. Panitia menyediakan kuota 270 tiket, namun yang terjual sekitar 250 tiket. Untuk hari pertama pendapatannya Rp 125 juta.
Hari kedua pada Minggu 19 April dengan tiket mancing dijual Rp 100 ribu. Jumlah pemancingnya sekitar 250 orang, sehingga pendapatan yang masuk Rp 25 juta.
Pelaksanaan hari ketiga Selasa 21 April dengan tiket mancing Rp 60 ribu. Jumlah pemancingnya juga sekitar 250 orang. Pendapatan hari ketiga Rp 15 juta.
Hari keempat Kamis 23 April dengan tiket mancing dijual Rp 40 ribu. Diperkirakan jumlah pemancing juga sekitar 250 orang, sehingga pemasukan sekitar Rp 10 juta.
Jika pemasukan hari pertama sampai hari keempat ditotal, maka pendapatan pengelola Embung Potorono dari pemancingan berjumlah sekitar Rp 175 juta. Tambahan pendapatan yang cukup besar bagi pengelola desa wisata.
“Untuk hari kelima dan keenam, Sabtu dan Minggu (26/4/2026) kami menggratiskan. Silahkan pemancing dari Indonesia Raya datang ke Embung Potorono untuk mancing gratis,” ujar Misbachul Munir, pengelola Wana Desa dan Telaga Desa Potorono, Selasa 21 April 2026.
Misbachul Munir yang juga anggota Bamuskal (BPD) Potorono, menjelaskan hasil dari pemancingan itu dibagi untuk pengembangan wisata Embung Potorono, kas kalurahan, dan masyarakat sekitar (kas RT).
Pemancingan itu dilaksanakan secara rutin, setelah ikan-ikan yang ditebar itu besar-besar atau layak dikonsumsi. Setelah mancing selesai, pengelola Embung Potorono menebar benih ikan lagi, dan pakannya oleh pengunjung. Jadi selama ini pengelola embung, tidak repot-repot makani ikan, karena pengunjung Embung Potorono yang makani ikan.
Warga sekitar menjual pakan ikan (pelet) dengan harga kemasan antara Rp 2 ribu sampai Rp 5 ribu. Kemudian pengunjung membeli pakan dan disebarkan ke kolam. Pengunjung, khususnya anak-anak senang melihat ikan-ikan berebut pakan yang disebarkan.
Keberadaan ikan di Embung Potorono itu seperti celengan bagi pengelola. Pembesaran ikan tanpa membeli pakan, tetapi mendapat penghasilan cukup besar setiap empat bulan sekali. (*)







