Energi Listrik Mikro Hidro Survive, Warga Kedungrong Didorong Makin Giat Tekuni Usaha Rumahan

Rahmat Suteja menunjukkan salah satu mesin turbin yang menghasilkan tenaga listrik mikro hidro 17 ribu Kwh. (Foto: Wiradesa)

KULONPROGO – Listrik tenaga mikrohidro dinikmati puluhan warga Padukuhan Kedungrong, Purwoharjo, Samigaluh. Tak hanya buat penerangan saat malam hari, listrik yang bersumber dari turbin yang dipasang pada terjunan saluran irigasi selokan Kalibawang, dimanfaatkan pula oleh warga setempat untuk menopang usaha rumahan macam jahit pakaian, pertukangan kayu, bengkel motor, hingga bengkel las juga usaha penetasan ayam.

Lurah Purwoharjo RA Ariwibowo A.Md mengatakan, potensi listrik tenaga mikrohidro di Kedungrong mulai diujicoba pada 2009, oleh tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM). Uji coba pertama dengan kincir listrik mesin kecil sudah barang tentu belum maksimal sesuai harapan.

“KKN tahun berikutnya melakukan uji coba lagi dan menghasilkan daya listrik 400 Volt, dapat digunakan untuk penerangan jalan,” tutur Ariwibowo kepada wiradesa.co, Minggu 26 Desember 2021.

Perkembangan berikutnya, imbuh Ariwibowo, pada 2011 Dinas Pekerjaan Umum dan ESDM Yogyakarta mulai menyosialisasikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Kedungrong. Pada 2012 sudah menghasilkan listrik untuk penerangan rumah warga.

“Awal pemasangan ke warga ada lima rumah dan kini setidaknya sebanyak 40 kepala keluarga/rumah telah pasang jaringan listrik mikro hidro,” kata Rahmat Suteja, dari Komunitas Mikrohidro Terpadu Indonesia (KMTI) Kedungrong.

Tenaga listrik mikro hidro menunjang usaha bengkel warga. (Foto: Wiradesa)

Menurut Rahmat, arus listrik yang dihasilkan PLTMH Kedungrong terhitung sudah lebih stabil ketimbang masa-masa awal dikembangkan. Meski begitu, kemungkinan arus listrik turun bisa terjadi terutama saat debit air turun akibat adanya tumpukan sampah di bagian penyaringan saluran air masuk menuju ruang turbin.

Baca Juga:  Menteri PPPA Apresiasi Upaya UGM Tangani Kekerasan Seksual

“Agar arus stabil, usaha kami dengan membersihkan saringan sampah tiap sore pukul 17.00. Untuk urusan sampah kami beberapa kali harus bereksperimen bagaimana cara membersihkan sampah, bagaimana agar sampah tak masuk dan tak mandek,” imbuh Rahmat sembari menjelaskan eksperimen yang dilakukan diantaranya memperlebar pintu masuk air. Bila kondisi saringan benar-benar bebas dari sampah, lanjutnya, pada sore hingga pagi hari listrik mikro hidro di Kedungrong bebas dari byar pet (mati listrik).

Pihaknya pernah mengajukan pelatihan pengelolaan sampah terpadu semacam bank sampah pada 2020 namun belum sempat terselenggara lantaran pandemi. Mengubah pola pembuangan sampah ke selokan dialihkan lewat program bank sampah diharapkan dapat mengurangi potensi gangguan yang dikeluhkan warga pada produksi listrik mikro hidro.

“Ketika selokan bersih, sampah telah dibersihkan sore hari, arus listrik stabil. Tidak byar pet. Buat nyalain televisi berani. Bila tiba-tiba listrik kedip-kedip tanda arus kurang stabil warga kami edukasi pindah ke listrik PLN,” terangnya.

Kedungrong Benderang

Dari pengelolaan listrik mikro hidro berbasis komunitas, dua orang bertugas membersihkan sampah di saluran PLTMH tiap sore. Tak menutup pula aktivitas gotong-royong membersihkan sampah saat dua orang yang bertugas membersihkan sampah tengah berhalangan.

“Rata-rata pemakaian memang untuk nonelektronik. Pada sore atau malam digunakan untuk penerangan rumah dan penerangan jalan perkampungan,” jelas Rahmat. Ia menerangkan, penerangan jalan kampung terdapat 33 titik lampu penerangan, dengan sejumlah tiang utama dan tiang pembantu berjarak tak terlampau jauh antara titik satu dengan titik lainnya sehingga suasana kampung Padukuhan Kedungrong selepas Magrib benar-benar benderang. Listrik mikro hidro oleh masyarakat Kedungrong juga dipakai guna menghidupkan peralatan rumah tangga seperti pompa air, seterika, magic com. Listrik mikro hidro sangat mendukung warga dalam urusan pekerjaan saat harus mengoperasikan mesin bor, serut kayu, gerenda, pada tukang kayu serta alat inverter las listrik, grinding cutter pada bengkel las.

Baca Juga:  Pimpinan Pesantren Lintang Songo Tausiah Melalui Whatsapp
Menjelang Magrib, Padukuhan Kedungrong mulai terang benderang. (Foto: Wiradesa)

Listrik mikro hidro sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kedungrong. Dari sisi biaya mereka tak dikenakan tarif hanya diwajibkan membayar iuran Rp 12.000 sebulan. Iuran warga diperuntukkan untuk membiayai penerangan jalan seperti ganti lampu sisanya untuk keperluan perawatan ringan berbagai sarana pendukung listrik mikro hidro. “Penggunaan listrik dibatasi tiap warga dapat jatah 2 ampere. Untuk pemakaian normal. Sedangkan untuk keperluan usaha rumahan dan industri kecil lebih dari 2 ampere,” timpal Rahmat.

Rahmat dan pemerintah desa setempat mengajak warga untuk menggiatkan sektor usaha memanfaatkan energi listrik mikro hidro yang ada. Didukung dua mesin, kapasitas listrik yang dihasilkan PLTMH Kedungrong kini tak kurang dari 17 ribu kwh. Dengan biaya pasang jaringan baru antara Rp 300-400 ribu jaringan listrik mikro hidro sudah masuk ke rumah warga. Pemasangan jaringan listrik mikro hidro menggunakan jalur sendiri di luar jaringan milik PLN. “Kabel-kabel, MCB, paralon, saklar dan lainnya pakai yang standar demi keamanan,” ucap Rahmat.

Dengan biaya pasang relatif terjangkau warga khususnya yang mengelola usaha sangat diuntungkan. Dengan kapasitas pasang listrik PLN 450 watt bila digunakan untuk mengoperasikan alat-alat dengan daya besar listrik sudah tentu akan njeglek. Dan dengan tambahan jaringan listrik mikro hidro kondisi itu dapat teratasi.

Baca Juga:  SIM Online Diluncurkan, Satlantas Purbalingga Siap Menerapkan

“Penggunaan energi baru terbarukan seperti listrik mikro hidro sesuai kampanye pemerintah. Bila persoalan sampah bisa terkondisikan listrik mikro hidro, survive. Bila debit air bagus, selama ini listrik mikro hidro mati hanya pada saat ada perbaikan saluran irigasi,” ungkapnya.

Pembersihan saluran dari sampah mengurangi risiko penurunan arus listrik. (Foto: Wiradesa)

Eksis dengan listrik mikro hidro, warga Kedungrong tetap berkomitmen tak meninggalkan listrik PLN tetapi saling bersinergi. Kehadiran listrik mikro hidro di tengah-tengah mereka diharapkan bisa menjadi penunjang tumbuh kembangnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Tatkala listrik PLN mengalami pemadaman, sektor usaha dan industri rumahan tetap produktif.

“Memang sektor usaha masyarakat harus terus didorong. Eman-eman dengan sediaan energi listrik mikro hidro bila siang hari tak dimanfaatkan maka akan sia-sia. Hanya digunakan malam hari 70 persen untuk penerangan,” pungkas Rahmat. (Sukron)

Tinggalkan Komentar