Budidaya Lele Terpadu Banjarharjo di Padukuhan Duwet II dikonsep agar bisa bermanfaat bagi anggota kelompok budidaya ikan, masyarakat setempat, dan pemerintah desa/kalurahan. Usaha yang dirintis sejak tahun 2019, sejak akhir 2024 dikelola oleh dua Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) dengan 80 kolam produksi dan 2 kolam pengendapan air. Selain itu juga ada kolam untuk pembibitan dan budidaya cacing sutera (pakan lele).
Dua Kelompok Budidaya Ikan itu, Pokdakan “Alam Tirto” dan Pokdakan “Mina Sejahtera”. Sedangkan 82 kolam, semuanya kolam terpal bulat dengan diameter 3 meter dan tinggi 1,5 meter. Posisi kolam-kolamnya berada di antara Selokan Kalibawang dan Kali (Sungai) Progo. Pengadaan kolam dan instalasi air dibiayai dengan dana keistimewaan.
“Di sebelah atas Selokan Kalibawang dan di sebelah bawah Kali Progo. Jadi pengairan kolamnya menggunakan sistem grafitasi. Tanpa pompa. Air dialirkan dari Selokan Kalibawang dengan paralon dan langsung dibuang ke Kali Progo,” jelas Mokhamad Kharir, Ketua Pokdakan “Alam Tirto” kepada Wiradesa.co, Kamis 26 Maret 2026.
Mokhamad Kharir yang juga Ketua Asosiasi Pokdakan Kulonprogo, menjelaskan Budidaya Lele Terpadu di Padukuhan Duwet II dikonsep agar bisa bermanfaat bagi pengelola dan anggota kelompok, masyarakat, dan pemerintah. Sampai saat ini (Maret 2026) sudah berhasil lima siklus panen dan manfaatnya sudah dirasakan ketiga pihak terkait, namun diakuinya belum optimal.

Pada Juli 2024, Pokdakan “Alam Tirto” mendapat bantuan pembangunan 82 unit kolam terpal bulat dari Pemprov DIY yang dianggarkan melalui dana keistimewaan. Bantuan bernilai Rp 760 juta itu, selain untuk pembangunan kolam dan instalasi airnya, juga untuk pembelian bibit lele dan pakan lele.
Setelah selesai pembangunan kolam, pada September 2024, Gubernur DIY Hamengku Buwono X meresmikan sekaligus dilaksanakan panen lele perdana hasil bantuan anggaran dana keistimewaan. “Panen pertama bulan September 2024-Januari 2025,” ungkap Mokhamad Kharir, Ketua Pokdakan “Alam Tirto”.
Untuk mengelola 82 kolam, yang terdiri dari 80 kolam produksi dan 2 kolam pengendapan air, maka dibentuk lagi Pokdakan “Mina Sejahtera”. Sehingga melibatkan 2 pokdakan, maka pengelolaan kolam lebih efektif dan hasilnya cukup optimal.
Sejak September 2025 sudah menuai 5 siklus panen. Menurut Mokhamad Kharir, siklus dihitung per panen. Periodenya sekitar 3 bulan per siklus. Setiap panen, pendapatan bersih dibagi 2, untuk kelompok 50 persen dan pengelola 50 persen. Pada Siklus I dapat pemasukan bersih Rp 14 juta untuk kelompok Rp 7 juta dan pengelola Rp 7 juta.
Pada Siklus II mendapatkan pemasukan Rp 30 juta, untuk kelompok Rp 15 juta dan pengelola Rp 15 juta. Siklus III pendapatannya Rp 20 juta, untuk kelompok Rp 10 juta dan pengelola Rp 10 juta. Siklus IV pendapatannya Rp 50 juta untuk kelompok Rp 25 juta dan pengelola Rp 25 juta. Siklus V mendapat Rp 40 juta untuk kelompok Rp 20 juta dan pengelola Rp 20 juta.
Pendapatan dari budidaya ikan lele, selain dibagi untuk kelompok dan pengelola, juga Sebagian disetorkan ke kas kalurahan sebagai masukan Pendapatan Asli Desa (PADes). “Sudah ada yang disetorkan ke kalurahan, nilainya sekitar 20 persen dari hasil budidaya ikan lele,” jelas Mokhamad Kharir.
Para pengelola dan anggota juga bersepakat, sebagian dari hasil budidaya ikan lele, untuk membantu kegiatan karang taruna dan pengajian masyarakat. Bantuannya dalam bentuk ikan atau uang. “InsyaAllah, kami juga punya program untuk menyantuni anak-anak yatim, piatu, dan dhuafa di lingkungan Kalurahan Banjarharjo,” ujar Mukhamad Kharir, yang juga Dukuh Duwet II.
Pokdakan “Alam Tirto” dan “Mina Sejahtera” tergabung dalam Kawasan Sentra Produksi Perikanan (KSPP) Kalurahan Banjarharjo. Kawasan ini memiliki belasan pokdakan. Produksi ikan lele di KSPP Banjarharjo pada tahun 2024 sebanyak 171 ton, tahun 2025 naik menjadi 211 ton, dan tahun 2026 ditargetkan 250 ton.

Hasil produksi ikan lele, semua terserap di pasar. Sampai saat ini ada sekitar belasan pedagang besar yang mengambil lele di pokdakan-pokdakan KSPP Banjarharjo. Pedagang besar yang mengambil produksi lele di Padukuhan Duwet II ada 10 pedagang, terdiri dari 3 pedagang dari wilayah Magelang Jawa Tengah (Muntilan, Salaman, dan Borobudur).
Sedangkan pedagang besar dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta ada 1 pedagang dari Wates, 4 pedagang dari Sleman, dan 2 pedagang dari Bantul. Para pedagang besar mengambil lele rata-rata seminggu 4 sampai 5 kali, sekali ambil 3 sampai 6 kuintal lele. Selain itu juga ada pedagang kecil-kecil dan perorangan yang beli langsung ke kolam.
Selain di Padukuhan Duwet II, produksi ikan lele juga banyak di Padukuhan Ngrajun, Kalurahan Banjarharjo. Produksi lele di Ngrajun sekitar 1,5 ton sampai 2 ton per minggu dan langsung diambil oleh 3 pedagang.
Harga lele ke pedagang, Rp 19.500 sampai Rp 20.000 per kilogram. Jika perorangan atau masyarakat yang langsung beli ke kolam harganya sekitar Rp 22.000 per kg. Sudah disepakati, jika ada pembeli langsung ke kolam, bukan pedagang, maka yang disetorkan ke kelompok Rp 20.000 per kg. Kelebihannya menjadi pendapatan tambahan pengelola.
Ada 2 pokdakan di Padukuhan Duwet II, yakni Pokdakan “Alam Tirto” dan “Mina Sejahtera”. Pokdakan “Alam Tirto” memiliki 11 orang anggota dan dikelola oleh 3 orang di lapangan. Sedangkan Pokdakan “Mina Sejahtera” terdiri dari 10 orang anggota dan pengelolanya 5 orang di lapangan.
Budidaya ikan lele, cukup menguntungkan bagi para petani di perdesaan. Hasilnya bisa untuk menambah penghasilan keluarga. Budidaya lele bisa dilakukan secara kelompok dan juga perorangan. Namun yang perlu diperhatikan, setidaknya ada 3 hal, yakni kualitas bibit, cuaca/hujan, dan pemasaran.
Untuk pemasaran, jangan terpaku atau mengandalkan pada 1 atau 2 pedagang. Jika budidaya ikan lele dilakukan oleh kelompok, maka minimal ada 7 pedagang. Persoalan pemula, biasanya belum ada koneksi dengan pedagang atau kurang mengerti pemasaran. Maka untuk pemasaran bisa kerjasama dengan Pokdakan yang sudah dipercaya pedagang besar. (Ono)







