Eco Enzyme Mengatasi Sampah Melestarikan Lingkungan dan Merawat Bumi

 Eco Enzyme Mengatasi Sampah Melestarikan Lingkungan dan Merawat Bumi

Produk cairan fermentasi dari sisa bahan organik. (Foto: Wiradesa)

Dengan cairan fermentasi dari sisa bahan organik, Eco Enzyme mengatasi sampah, melestarikan lingkungan, dan merawat bumi. Cara membuatnya mudah, tetapi manfaatnya luar biasa.

Bahan untuk cairan fermentasi itu, air bersih, gula merah atau molase, dan bahan organik. Bahan organik ini meliputi kulit buah dan sisa sayur tidak keras, tidak berlemak, dan tidak dimasak.

Cara membuatnya, air bersih 10 bagian, gula merah/molase 1 bagian, dan bahan organik 3 bagian, terus dicampur dimasukkan ke dalam botol atau tempat lain selama 3 bulan. “Perbandingan bahannya 10 : 1 : 3. Kalau ingin cairan fermentasinya banyak, tinggal mengalikan jumlah yang diinginkan,” jelas Ibu Sri, relawan Eco Enzyme, kepada Wiradesa.co di Telaga Potorono, Potorono, Banguntapan, Bantul, Minggu 17 September 2023.

Pada Minggu kemarin, para relawan Eco Enzyme, menuangkan cairan fermentasi ke Sungai Mruwe, sungai di samping telaga. Cairan fermentasi dari air bersih, molase, dan sisa bahan organik, bisa membuat air sungai menjadi bersih dan terhindar dari pencemaran yang selanjutnya bisa untuk hidup nyaman bagi biota sungai, seperti ikan dan lainnya.

Untuk membuat cairan fermentasi yang bisa mengatasi persoalan sampah dan bermanfaat bagi kehidupan, caranya mudah dan semua ibu-ibu rumah tangga bisa melaksanakan di rumah masing-masing. “Jadi sisa bahan organik tidak usah dibuang di tempat sampah, tetapi dimanfaatkan untuk dibuat cairan fermentasi yang banyak manfaatnya,” ujar Bu Sri.

Manfaat cairan fermentasi yang terbuat dari air bersih, molase, dan sisa bahan organik, antara lain untuk membersihkan kompor dan areal dapur, mencuci piring, mencuci pakaian, mengepel lantai, membersihkan kloset dan kamar mandi, merendam sayur dan buah, dan bisa untuk kumur serta gosok gigi.

Manfaat lainnya, bisa untuk mencuci rambut, mencuci tangan, sanitizer, pembersih udara, terapi rendam kaki, bisul atau luka gores, anti radiasi, sebagai pupuk organik, membersihkan kuningan, dan membersihkan hewan peliharaan.

Baca Juga:  Lestarikan Lingkungan, Kalurahan Jatimulyo Keluarkan Perdes Nomor 8 Tahun 2014

Sampah organik menjadi penyebab global warming. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, timbunan sampah di TPA se Indonesia pada tahun 2019 berjumlah 67,8 juta ton. Sampah itu terdiri dari sampah organik 57%, sampah plastik 15%, sampah kertas 11 %, dan sampah lainnya 17%.

Dengan membuat Eco Enzyme, cairan fermentasi, mengolah sampah organik bisa jadi berkah dan juga menyelamatkan bumi dari pemanasan global. (*)

Redaksi

Mandirikan Desa Sejahterakan Rakyat

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: