Intervensi Gizi Sensitif Berkontribusi 70 Persen Turunkan Prevalensi Stunting

Dr Tri Siswati MKes menyampaikan materi pada Desimenasi Riset Sebaran Stunting Sebelum dan Selama Pandemi Covid 19, Model Intervensi dan Rekomendasi Kebijakan Penurunan Stunting di DIY. (Foto: Wiradesa)

YOGYAKARTA – Angka stunting secara nasional ditargetkan maksimal 14 persen pada 2024. Data studi status gizi balita Indonesia (susenas) prevalensi stunting pada 2019 sebesar 27,7 persen.

“Sasaran sesuai rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN)2020-2024 menurunkan prevalensi stunting pada anak di bawah 2 tahun menjadi 14 persen,” ucap Kasubdit Kesra Bappeda DIY Dodi Bagus Jatmiko saat menjadi narasumber Desimenasi Riset Sebaran Stunting Sebelum dan Selama Pandemi Covid 19, Model Intervensi dan Rekomendasi Kebijakan Penurunan Stunting di DIY, di Hotel Horison, Kamis 25 Agustus 2022.

Kegiatan yang diselenggarakan Politeknik Kesehatan Yogyakarta (Poltekkes) Kemenkes RI itu menampilkan narasumber antara lain Dr Tri Siswati SKM Mkes, Doddi Izwardy dari Global Nutrition Expert. Stunting selama ini sering dilihat dari sisi fisik kerdil, definisi berikutnya yakni kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, butuh pengukuran fisik serta nonfisik.

“Penyebab kekurangan gizi masih sebagai faktor utama, terkait faktor ketahanan pangan, stok pangan dan akses pangan. Itu merupakan penyebab paling vital,” ujar Dodi sembari menambahkan masalah lingkungan sosial dan status kesehatan anak balita tak bisa diabaikan pada kasus stunting.

Baca Juga:  Mahasiswa UGM Ciptakan Website untuk Bantu Turunkan Stunting

Berdasar banyak survei Dodi menyampaikan bahwa stunting adalah cucu dari kemiskinan. Menurutnya di mana pada satu lingkungan tinggi angka kemiskinan apalagi disertai derajat pendidikan masyarakat rendah di situ pula mudah dijumpai kasus stunting.

“Pada 2019 di DIY angka stunting masih 21,04 menurun dari beberapa tahun sebelumnya pada 2014 angkanya masih 25 persen,” imbuh Dodi. Sejauh ini intervensi perbaikan gizi dengan dua tipe berkontribusi berbeda. Pada intervensi gizi spesifik seperti upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung, kegiatan umumnya dilakukan sektor kesehatan lewat imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu dengan sasaran kelompok 1000 HPK (ibu hamil, ibu menyusui, dan anak 0-23 bulan, berkontribusi hanya 30 persen pada penurunan prevalensi stunting.

Sementara intervensi gizi sensitif melalui upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung, dengan berbagai upaya nonkesehatan, berkontribusi 70 persen. “Kegiatan antara lain penyediaan air bersih, kegiatan penanggulangan kemiskinan, dan kesetaraan gender. Kelompok sasaran masyarakat umum, bukan khusus kelompok 1000 HPK,” terang Dodi. (Sukron)

Tinggalkan Komentar