KLATEN – Suasana penuh semangat terasa di Selasar Jagarumeksa Kwaren, Ngawen, Klaten, saat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) PW Jawa Tengah dan Pemuda Kwaren (Selasar Jagarumeksa) bersua dalam kunjungan yang bertajuk “Studi Lapangan Appreciative Inquiry”. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari tahap akhir pengkaderan IPM dan menitikberatkan pada berbagi gagasan dan nilai terkait upaya gerakan pemuda dalam isu-isu perdesaan.
Dalam kunjungan yang berlangsung di Selasar Jagarumeksa, Kamis 25 Mei 2023, IPM dan Jagarumeksa menyelami fenomena pemuda desa yang tidak melihat desa sebagai harapannya. Mereka berbagi pemikiran yang mendalam tentang bagaimana mengubah paradigma tersebut dan menginspirasi pemuda desa untuk menjadi agen perubahan dalam membangun dan mengembangkan desa mereka.
“Pemuda memiliki peran sentral dalam menginisiasi gerakan kultural yang kontekstual agar dinamika pembangunan pasca UU Desa 2014 benar-benar demokratis. Pemuda desa memiliki potensi yang besar untuk memimpin transformasi yang berkelanjutan,” ujar Alyas, seorang kader IPM dari Banyumas, berbagi pandangannya.
Selain itu, Obet, Ketua Pemuda Kwaren, berbagi pengalamannya mengenai dinamika yang terjadi dalam proses transformasi desa. Ia menyampaikan, romantisasi pedesaan sering kali menjadi faktor mengapa isu-isu perdesaan kurang dipahami secara holistik oleh banyak kalangan.
“Melalui kunjungan ini, kami berupaya untuk mendekonstruksi pemikiran tersebut dan mencari solusi yang lebih inklusif. Salah satunya adalah dengan mengadopsi strategi gerakan melalui pendidikan yang berperspektif lokal dan partisipatif. Hal ini bertujuan untuk mentransmisikan nalar-kesadaran desa kepada generasi penerus agar mereka tidak selalu meletakkan harapannya di kota,” papar Obet.

Lebih lanjut, Obet berujar bahwa gap informasi sekaligus melimpahnya informasi menjadi tantangan dalam dinamika gerakan pemuda yang berkait isu pedesaan dapat dipahami oleh masyarakat setempat. Pasalnya, masih banyak anggapan menyoal relevansi standing poin dan nilai-nilai yang dibawa dalam agenda ini.
Mufid, salah satu penggerak Jagarumeksa juga mengungkapkan upayanya dalam menjembatani gap informasi lintas generasi ini. “Basisnya bukan soal informasi, melainkan lebih kepada paradigma pendidikan kita hari ini. Sosmed, adalah bagian dari resonansi pendidikan kita yang tak berbasis kontekstualitas dan partisipatif. Kami menginisiasi riset sederhana untuk anak-anak desa mengenal lokalitas mereka, dan diskusi isu perdesaan yang agak serius kepada generasi muda desa,” jelas Mufid.
Kunjungan ini juga menjadi ajang diskusi yang menyeluruh mengenai upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong pemuda desa agar memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang potensi desa mereka. IPM PW Jawa Tengah dan Sanggar Jagarumeksa sepakat bahwa melalui pendidikan dan partisipasi aktif pemuda, desa dapat berkembang secara berkelanjutan.
Abi Umar selaku kader IPM Banjarnegara, menekankan pentingnya kolaborasi antara IPM dan platform pemuda semacam Selasar Jagarumeksa ini dalam menghadapi tantangan perdesaan. “Kunjungan ini adalah langkah awal kolaborasi. Bersama-sama, kita dapat membangun generasi pemuda yang memandang desa sebagai basis kehidupan mereka dan menjadi motor penggerak perubahan yang positif,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Obet, Ketua Pemuda Kwaren, menyambut baik kerja sama ini dan berharap dapat melahirkan lebih banyak inisiatif yang bermanfaat bagi pemuda desa. “Melalui kerja sama yang kuat antara jaringan IPM dan Sanggar Jagarumeksa, kami berharap dapat menciptakan program-program yang menggerakkan pemuda desa untuk berpartisipasi aktif dalam membangun desa. Dan tentu pertemuan ini amat disayangkan jika tak berlanjut pada inisiasi gerakan kongkrit,” pungkas Obet. (Ilyas Syatori)








