KULONPROGO – Ada beberapa topik yang menarik perhatian mahasiswa ketika bermusyawarah dengan masyarakat desa. Topik itu antara lain ancaman pencabutan bantuan langsung tunai, rumitnya distribusi pupuk ke petani, rendahnya masyarakat akan kebersihan lingkungan, dan enggannya warga mensertifikatkan tanahnya.
Sejumlah topik hangat itu mencuat saat para mahasiswa mengikuti Rapat Rukun Tetangga (RT). Rapat warga RT 24 Padukuhan Ngipikrejo I, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, di Rumah Parkam, Sabtu (1/11/2025) malam, berlangsung tidak seperti biasanya. Pertemuan rutin setiap Sabtu Pahing, malam itu berlangsung meriah, serius tapi tetap santai, damai, karena dihadiri para mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Awalnya Kepala Dukuh Padukuhan Ngipikrejo I, Purwadi, menginformasikan beberapa masalah yang menjadi perhatian pemerintah, baik di Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, maupun Kabupaten Kulonprogo. Masalah itu, antara lain ancaman pencabutan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Kesejahteraan Rakyat.
“Pangapunten bapak-bapak ibu-ibu, jika penerima bantuan PKH dan lainnya, pada rekeningnya terdeteksi untuk judi online (judol), maka bantuan akan dicabut atau dihentikan,” ujar Purwadi. Menurut Pak Dukuh, informasi ini bukan ancaman, tetapi informasi yang harus disampaikan kepada masyarakat, sebagai tanggungjawabnya.
Selain itu, penyakit Malaria, sekarang ini banyak ditemukan di wilayah Kapanewon Kalibawang, termasuk di Kalurahan Banjararum. “Dari jumlah kasus Malaria, Kalibawang menempati posisi kedua, dari 12 kecamatan di Kabupaten Kulonprogo,” jelas Dukuh Ngipikrejo I.
Untuk mengatasi penyebaran penyakit Malaria, di Padukuhan Ngipikrejo I menggalakkan Program PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Setiap hari Senin akan dilaksanakan pemberantasan sarang nyamuk di 20 kepala keluarga. “Padukuhan Ngipikrejo II ada 80 KK dan nanti dalam waktu satu bulan, program PSN sudah tuntas,” tegas Purwadi.
Selanjutnya Pak Dukuh Ngipikrejo I juga mengingatkan kepada masyarakat agar segera menyertifikatkan tanah miliknya. Bagi pemilik tanah yang sudah memiliki Leter C, D, atau E, segera disertifikatkan. “Ada beberapa tanah di Padukuhan Ngipikrejo I yang belum disertifikatkan. Mohon segera didaftarkan untuk sertifikat, terpenting ada usaha, daftarkan dulu,” pinta Purwadi.
Persoalan yang menyita perhatian masyarakat, karena sebagian besar warga Ngipikrejo I itu petani, adalah cara memperoleh pupuk. Meski Pak Dukuh sudah mendata nama-nama petani dan petani tersebut sudah menyerahkan uang, tetapi pembeliannya sangat rumit. “Masak untuk beli pupuk saja, harus mengumpulkan KTP asli,” kata Dukuh Ngipikrejo I.
Kehadiran 12 mahasiswa UNY malam itu, menambah semarak jalannya rapat rutinan setiap Sabtu Pahing. Para mahasiswa satu persatu memperkenalkan diri. Selanjutnya, Umi Latifah, mahasiswa Pendidikan Fisika, mewakili teman-temannya menjelaskan mereka akan melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Ngipikrejo I selama 2,5 bulan.
Program yang akan dikerjakan, antara lain pengelolaan sampah, sosialisasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Senam Bersama, Bimbingan Belajar, Kerjabakti, Pengajian, Jimpitan, dan Posyandu. “Kami akan bersama warga memanfaatkan sampah menjadi kompos. Agar hasilnya nanti bermanfaat bagi para petani,” ujar Umi Latifah.
Pada akhir pertemuan Ketua RT 24 Ngipikrejo I, Suwarjo, mengajak semua mahasiswa dan mahasiswi yang KKN di RT 24 untuk ikut kerjabakti bersama. Dengan kerjabakti bersama, maka keguyuban dan kerjasama antara mahasiswa dan masyarakat akan terjalin dengan baik. Semoga mahasiswa bisa melaksanakan program-programnya dengan lancar dan masyarakat mendapat manfaat dari kehadiran mahasiswa ke desa. (*)








