Ketua Asosiasi Pokdakan Kulonprogo Sarankan Ibu-ibu Pembudidaya Ikan Bangun Kolam Tersentral

Peserta Pelatihan Pokdakan Wanita di Aula Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo, Kamis (16/4/2026). (Foto: Wiradesa)

KULONPROGO – Ketua Asosiasi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kabupaten Kulonprogo, Mokhamad Kharir, menyarankan kepada ibu-ibu atau para perempuan yang ingin berbudidaya ikan agar membangun kolam secara terpusat atau menyentral. Dengan kolam tersentral maka akan memudahkan saat panen dan pemasarannya.

“Saya menyarankan agar ibu-ibu yang baru memulai budidaya ikan lele atau gurami, saat membangun kolamnya jangan sendiri-sendiri, tetapi terpusat atau tersentral. Jadi beberapa kolam di satu tempat,” ujar Mokhamad Kharir, saat menjadi pembicara pada Pelatihan Pokdakan Wanita di Aula Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo, Kamis 16 April 2026.

Selain Mochamad Kharir, hadir sebagai pembicara pada agenda Sub Kegiatan Pengembangan Budaya Bahari, yakni Dr. Senny Helmiati SPi MSc yang menyampaikan materi “Pakan dan Perawatan Harian pada Budidaya Ikan Lele dan Gurami”. Kemudian Indah Istiqomah SPi MSi PhD memaparkan “Penyakit Umum pada Ikan Lele dan Gurami (Pencegahan dan Pengobatan Sederhana)”.

Selanjutnya Dr. Ir. Ignatius Hardaningsih MSi, menjelaskan tentang “Manajemen Kualitas Air, RAS dan Cara Panen”. Narasumber Wagiran mengungkapkan “Tips Budidaya Ikan Lele dan Gurami dan Potensi Pemasarannya”. Sedangkan Mokhamad Kharir menyampaikan materi “Persiapan Kolam, Pemilihan Bibit Ikan dan Penebarannya”.

Baca Juga:  Kabupaten Purbalingga Raih Juara 3 IDSD dan Krenova

Di hadapan ibu-ibu anggota kelompok pembudidaya ikan di wilayah Kulonprogo, Mokhamad Kharir memaparkan tentang bentuk kolam, tebar bibit, pemberian pakan, grading remaja, panen dan pemasaran, serta analisis usaha, khususnya usaha budidaya ikan lele.

Terkait dengan pemasaran, menurut Ketua Pokdakan “Alam Tirto” ini, umumnya pedagang ikan lele lebih suka mengambil atau membeli di tempat yang tersentral. Jadi sekali ambil pada satu tempat bisa dalam jumlah banyak. Misalnya sekali ambil bisa mencapai 500 kilogram sampai 1.000 kg.

“Jika kolamnya menyentral, bagi pedagang itu lebih efisien. Karena, saat mengambil ikan tidak harus mendatangi kolam-kolam yang terpencar,” kata Mokhamad Kharir yang juga mengelola 141 kolam, terdiri dari 135 kolam bulat (terpal) dan 6 kolam kotak di Padukuhan Duwet 2, Kalurahan Banjarharjo, Kapanewon Kalibawang.

Mokhamat Kharir saat menjadi pembicara di Aula Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo. (Foto: Wiradesa)

Mokhamad Kharir yang juga Dukuh Duwet 2 mengingatkan kepada ibu-ibu yang menjadi anggota Pokdakan Wanita untuk memperhatikan saat panen dan pemasaran. Waktu panen lele biasanya setelah 2 sampai 3 bulan masa pemeliharaan. “Namun masa panen ini tergantung pada ukuran bibit, proses pembesaran, dan bobot target lele panen,” ujarnya.

Baca Juga:  Menguak Peran Filantropi dalam Pendanaan Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19

Persiapan sebelum panen, di antaranya puasakan lele selama 12 sampai 24 jam sebelum panen. Dengan puasa, ikan lele tidak muntah atau mengeluarkan kotoran saat pengangkutan.

Untuk pemasaran, bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan menjual langsung ke konsumen akhir, seperti warung makan dan pasar tradisional. Juga bisa menjual atau melayani pembeli atau supplier untuk pedagang di pasar. “Ibu-ibu juga bisa memanfaatkan platform online untuk promosi dan penjualan,” ujar Mokhamad Kharir.

Ibu-ibu anggota Pokdakan Wanita wajib menjaga kualitas lele dan gurami dengan kondisi yang sehat. Hitung biaya produksi termasuk pakan, bibit, listrik, dan lainnya. Kemudian yang tak kalah penting, jalin kemitraan untuk membangun hubungan dengan pembeli atau pemasok, dan menganalisis pasar. (Ono)

Tinggalkan Komentar