Para Seniman Profesional Hadiri Festival Dolanan Aksara di Sekolah Sungai Siluk

Kuat, penggagas Sekolah Sungai Siluk. (Foto: Istimewa)

BANTUL-Kolong Jembatan Siluk Selopamioro Imogiri Bantul di masa lalu penuh tumpukan sampah. Namun kini kondisi tersebut telah berubah.

Sampah pernah menjadi momok di kawasan itu. Bau tak sedap akibat sampah menggunung kini sirna. Bahkan di lokasi bawah Jembatan Siluk difungsikan maksimal sebagai taman baca. Dikelola Yayasan Sekolah Sungai Siluk.

Penggagas Sekolah Sungai Siluk Kuat mengatakan, dengan adanya taman baca, ruang bawah jembatan berfungsi pula untuk menyelenggarakan berbagai event. Event pameran seni rupa, ajang baca puisi, pagelaran seni hingga ruang pembelajaran yang menarik banyak pihak untuk turut serta berpartisipasi di dalamnya.

Pada Februari hingga Juni 2026 di Sekolah Sungai Siluk diselenggarakan Festival Dolanan Aksara, Nggambar Aksara Nari Cerita. Festival diisi kegiatan pameran seni rupa, forum diskusi budaya, workshop wayang, workshop tari, lapak baca, pentas budaya, karawitan, dongeng hingga wayang kulit.

“Festival Dolanan Aksara terbuka untuk umum dengan peserta terbatas. Terselenggara kerjasama Kementerian Kebudayaan RI, LPDP dan Dana Indonesia,” kata Kuat, belum lama ini.

Baca Juga:  Telaga Baturetno Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Kuat mengatakan, di Sekolah Sungai Siluk tiap Minggu ada kegiatan. Akan tetapi pada Ramadan lalu kegiatan sementara diliburkan diganti kegiatan Taman Pendidikan Alquran (TPA). Ditambahkan Kuat, pada kegiatan Festival Dolanan Aksara hadir setidaknya 20 seniman profesional. Kegiatan seni rupa seniman yang hadir diantaranya Samuel Indratma perupa dan presiden mural Indonesia, hadir pula seniman Bayu Widodo (Survive Garage). Pada kegiatan tari aransemen baru hadir komposer Ria Setiawan dan koreografi Amelia.

Di samping menginisiasi Sekolah Sungai Siluk dan mendampingi para pemuda Siluk II sejak awal membersihkan lokasi setempat dari tumpukan sampah, sehari-hari Kuat berkutat dengan kesibukannya sebagai pelukis. Sesekali ia juga diundang mengisi berbagai kegiatan untuk berbagi pengalaman berliterasi di Sekolah Sungai Siluk. Dalam berkarya, Kuat yang sempat mengenyam bangku kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) lebih banyak terinspirasi tema keseharian di lingkungan kampung Siluk.

“Ide-ide dalam berkarya kebanyakan seputar persinggungan sosial. Meski sebenarnya tak membatasi diri. Tetapi saat ini lebih senang melihat yang berbau keseharian. Sehari-hari memang menikmati kegiatan memfasilitasi anak dan berkarya, melukis,” tuturnya.

Baca Juga:  Anggur Ninel Mudah Beradaptasi Buahnya Manis Jadi Unggulan Kampung Anggur Plumbungan

Mengenai aliran lukisan dia mengaku menyukai tema naif kontemporer meski dulunya senang melukis abstrak.

“Untuk berkarya dengan tema naif kontemporer baru sekitar 10 tahun,” terangnya sembari menyebut dirinya sangat mengagumi pelukis Djoko Pekik khususnya dalam hal spirit atau semangat berkarya di samping mengagumi sosok Nasirun. (Sukron)

Tinggalkan Komentar