Mahasiswa RI di Rusia Belajar Normal Offline: Tanya Sikap Media Indonesia Memberitakan Terseretnya Eril Putra Ridwan Kamil di Sungai AaRee Swiss

Nanang Fadillah bersama mahasiswa RI di Kazan. (Foto: KBRI Moskow)

MOSKOW – Situasi dan kondisi di Rusia saat ini (Selasa, 31 Mei 2022), aman terkendali dan tidak ada konflik senjata. Mahasiswa Republik Indonesia (RI) belajar normal secara offline atau tatap muka di kelas.

“Orangtua mahasiswa tidak perlu risau terhadap kondisi putra putrinya, karena kondisi di Rusia aman terkendali dan tidak ada konflik senjata di sini,” jelas Nanang Fadillah, Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya (Pensosbud) KBRI Moskow, kepada Wiradesa, Selasa (31/5/2022).

Nanang melaporkan, situasi dan kondisi di Moskow dan Rusia umumnya aman terkendali, cuaca sejuk berangin 14 derajat celsius. Di perbatasan Rusia dengan Ukraina, kadang artileri Ukraina menyasar masuk wilayah Rusia (Rostov on Don, Kursk), namun belum sampai ke kota.

Mahasiswa RI juga belajar normal offline di Rusia. “Ada kesulitan memang untuk tarik dana di ATM, sistem pembayaran visa dan mastercard menggunakan Unionpay, namun ada jalan keluar melalui jasa titip tukar rubel ke rupiah,” paparnya.

Kepada para orangtua mahasiswa Indonesia yang belajar di Rusia, Nanang Fadillah menghimbau, tidak perlu risau terhadap kondisi putra putrinya karena kondisi di Rusia aman terkendali dan tidak ada konflik senjata. Mahasiswa Indonesia semua belajar offline dan belajar seperti biasa.

Baca Juga:  Pelaku UMKM di Condongcatur Ikuti Bimtek Teknologi Pengolahan dan Pengawetan Pangan

Untuk mendapatkan informasi yang berimbang tentang situasi konflik antara Rusia dan Ukraina, Nanang berharap sebaiknya juga dimonitor berita-berita dari Rusia (Russia Today, Moscow Times, Sputniknews), selain berita dari barat (CNN, BBC, Kyiv Post).

Mahasiswa RI berkunjung ke rumah tinggal Nanang Fadillah. (Foto: KBRI Moskow)

Pada Minggu 29 Mei 2022, para mahasiswa RI yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Permira), berdiskusi dengan Founder Wiradesa Group Sihono HT, melalui zoom. Mereka antusias bertanya tentang berbagai persoalan terkait kerja wartawan dan kondisi pers di Indonesia.

Salah satu yang ditanyakan mahasiswa, tentang sikap wartawan Indonesia saat meliput terseretnya Emmeril Khan Mumtadz (Eril) putra sulung Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, di Sungai AaRee Swiss. “Wartawan Indonesia harus taat pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-undang yang terkait Pers (UU 40/1999 tentang Pers), tidak membuat berita atas dasar prasangka, apalagi ramalan,” jelas Sihono HT.

Sesuai dengan himbauan Dewan Pers, media dari berbagai platform seyogianya tidak membuat berita yang berkaitan dengan prediksi atau ramalan terkait sebuah peristiwa tragedi kemanusiaan. Seperti yang menimpa Aril, putra sulung Ridwan Kamil, di Sungai AaRee Swiss.

Baca Juga:  Kuliah Sambil Usaha, Hasta Meraup Untung Jutaan Rupiah

Sebaiknya lembaga pers lebih banyak menampilkan karya jurnalistik yang berdampak positif bagi kemanusiaan, sesuai kode etik dan tidak melakukan glorifikasi yang akan membuat setiap keluarga korban tragedi kemanusiaan tertekan dan merasa bersalah.

Dewan Pers mengajak kepada seluruh jajaran redaksi di seluruh platform media, untuk bersama-sama mengedepankan jurnalisme empati dan tentu, tetap berpegang teguh terhadap Kode Etik Jurnalistik.

Mahasiswa RI di kota Perm. (Foto: KBRI Moskow)

Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Permira) merupakan salah satu Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di luar negeri. Permira didirikan pada Oktober 2989 di Moskow dan sekarang berkedudukan di kota Moskow. Seiring berjalannya hubungan baik antara Indonesia dan Rusia, maka jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Rusia pun semakin meningkat dan menyebar hampir di seluruh kota yang ada di Rusia. (Ilyasi)

Tinggalkan Komentar