Membuat Wayang dengan Karton Bekas

 Membuat Wayang dengan Karton Bekas

Bagong Soebardjo (Foto: Wiradesa.co)

YOGYAKARTA – Para guru TK se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mengikuti Workshop Mendongeng “Imajinasi Indonesia”, Senin 8 November 2021, mendapat pelatihan membuat wayang dari karton bekas oleh pendiri Sanggar Wayang Dongeng, Bagong Soebardjo.

Teori dan praktik membuat alat peraga dongeng tersebut diselenggarakan Rumah Dongeng Mentari melalui daring. Kegiatan yang melibatkan 60 guru dari 20 sekolah TK di DIY ini merupakan Program Organisasi Penggerak dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Bagong Soebardjo menjelaskan alat yang digunakan untuk membuat wayang dari kertas karton bekas, antara lain gunting, alat pewarna (spidol, krayon, dan cat air), alat penjepit (bambu), dan karton bekas. “Manfaatkan apa yang ada di sekitarmu,” tegas Bagong, agar para guru tidak harus membeli peralatan yang baru.

Ada empat tahap yang dilakukan untuk membuat wayang peraga gonging dari kardus bekas. Pertama menggambar di kertas karton, tahap selanjutnya mewarnai, kemudian menggunting, dan tahap terakhir memberinya gapit.

Pak Bagong memberi contoh dengan menggambar wayang binatang Kancil dan Siput. Lalu ibu-ibu guru diminta mengikuti untuk menggambarnya. Tapi tokoh sering diundang mendongeng ini tidak mengharuskan peserta workshop untuk menggambar Kancil dan Siput. “Ibu-ibu bebas mau menggambar apa saja, yang penting nantinya bisa menjadi alat peraga saat mendongeng,” ujar Pak Bagong.

Para ibu guru TK antusias mengikuti arahan Pak Bagong untuk menggambar wayang peraga dongeng. Ada yang menggambar Kancil dan Siput, tetapi ada juga yang menggambar binatang lain. Misalnya, Ibu Kitri Sawitri, guru TK Negeri Pembina Yogyakarta, membuat wayang Kupu-kupu dan Kumbang.

Peserta Workshop Mendongeng “Imajinasi Indonesia” (Foto: Wiradesa.co)

Pegiat wayang dongeng Bagong Soebardjo berharap nantinya guru-guru TK yang mengikuti Workshop Mendongeng “Imajinasi Indonesia” semuanya membuat wayang alat peraga dongeng dan dipajang di sekolah masing-masing. Jadi nantinya ada 20 sekolah TK di DIY yang punya koleksi peraga dongeng dan menjadi percontohan bagaimana mengajarkan karakter dan ilmu pengetahuan kepada anak-anak melalui dongeng.

Baca Juga:  Adaptasi Dunia Baru, Seniman Wayang Mesti Rambah Jagat Virtual

Menurut Pak Bagong, materi dongengnya bisa dibuat sendiri oleh guru TK dengan menyisipkan nilai-nilai kehidupan dan ilmu pengetahuan. Para guru juga bisa membuat sendiri alat peraga wayang yang dipakai untuk mendongeng.

Usai membuat alat peraga wayang dongeng, Fransisca Endah Heruwati, guru TK PGRI Sentolo, mempraktikkan mendongeng dengan alat peraga wayang Kancil dan Siput yang dibuatnya. “Selamat pagi anak-anak. Pagi ini ibu guru mau mendongeng Kancil dan Siput,” katanya mengawali dongengnya.

Bu Endah mengisahkan, suatu hari Kancil yang sombong dan tinggi hati pergi ke hutan. Dia ketemu dengan Siput yang sedang mencari makan. Dengan kesombongannya Kancil mengejek Siput. Berjalan kok lambat banget, kata kancil, apa bisa mendapat makanan kalau jalannya seperti itu. “Meski jalanku lambat, tapi kalau lari bisa mengalahkanmu,” bisik Siput.

Mendengar bisikan Siput, kesombongan Kancil memuncak. Kancil lantas menantang Siput untuk lomba lari. Tantangan itu disanggupi Siput. Sebelum esok hari yang ditentukan tiba, malamnya Siput menemui beberapa temannya untuk mengelabuhi Kancil yang sombong. Memenangkan lomba lari dengan Kancil. “Pokoknya besok kalau Kancil memanggil Put, nanti teman yang di depannya berteriak Cil,” pinta Siput pada temannya.

Esok pagi yang ditentukan tiba. Kancil dan Siput memulai lomba lari. Tapi teman-teman Siput sudah berjejer di lintasan lomba dari pohon besar sisi utara hutan sampai bangunan gubuk sisi selatan hutan. Saat aba-aba belum selesai, Kancil sudah berlari kencang. “Mana bisa jalannya aja lambat, mau menang lomba lari dengan saya,” pikir Kancil.

Tapi setiap Kancil memanggil Put, selalu ada suara Cil di depannya. Sampai garis finish, suara Kancil yang memanggil-manggil Put terus berada di belakang suara Siput yang menjawab Cil. Akhirnya Siput dinyatakan menang.

Baca Juga:  Rumah Dongeng Mentari Terbitkan Buku Seri 10 Dongeng Nusantara

“Anak-anak, ternyata kesombongan dan tinggi hati bisa dikalahkan dengan kebersamaan, gotong royong, saling membantu dan rendah hati,” jelas Ibu Endah dari TK PGRI Sentolo, Kulonprogo. Dongeng merupakan cara yang menarik, menghibur, dan efektif untuk menanamkan karakter dan menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Terus berkarya, meraih mimpi bersama Rumah Dongeng Mentari. (*)

Redaksi

Mandirikan Desa Sejahterakan Rakyat

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: