Omah Cikal Dokumentasikan Budaya Desa Ngrawan

Foto: Wiradesa

SEMARANG – Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi pada tahun 2020 menggelar lomba film dokumenter tentang Cerita Budaya Desaku. Diikuti oleh desa-desa seluruh penjuru Indonesia.

Cerita Budaya Desaku yang diangkat oleh Sanggar Omah Cikal tentang menjaga dan merawat tradisi, salah satunya melalui kesenian rakyat. Karya tersebut masuk dalam 30 besar karya terpilih. Embel-embel Desa Budaya tersemat dalam diri Sanggar Omah Cikal. (Youtube Sanggar Omah Cikal : Cerita Budaya Desaku “Desa Menari”).

Pada tahun 2021 ini, Kemendikbud Ristek meluncurkan anggaran untuk kegiatan Penguatan Desa Pemajuan Kebudayaan. Desa yang terpilih diberikan kesempatan untuk menentukan ide dan karyanya sendiri yang kontekstual. Program ini diharapkan mampu menjadi pelepas dahaga bagi pelaku seni, karena selama pandemi mereka berpuasa, potensi dan hobinya tidak dapat tersalurkan.

Rencana aksi yang disusun oleh Sanggar Omah Cikal yaitu tentang mengulik sejarah kesenian rakyat yang ada di wilayah Desa Ngrawan. Terdapat 5 Sanggar Kesenian Rakyat yang ada, yaitu; Sanggar Seni Reog Ngurawan, Krido Budi Utomo, Krido Yudo Tamtomo, Rodatin Wahyu Illahi, Krido Mudo Pertiwi.

Baca Juga:  Warga Gejayan Menggelar Merti Dusun

Saat ini kebanyakkan warisan budaya yang diwariskan hanya bersifat atraksi dan perayaannya saja, tidak dengan cerita sejarah, filosofi dan maknanya. Berangkat dari keresahaan tersebut, rencana aksi yang akan digarap oleh Sanggar Omah Cikal berupa riset ke masing-masing sanggar seni, menelusuri jejak perjalanan dan menggali informasi yang selama ini sudah terkikis. Hasil akhir dari rencana aksi tersebut akan berupa buku sejarah dan film dokumenter kesenian rakyat.

Foto: Wiradesa

Dalam melakukan riset dan penyusunan buku, Sanggar Omah Cikal berkolaborasi dengan Komunitas Ketjil Bergerak, Yogyajarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Sejarah, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Peran akademisi akan membantu untuk riset dan wawancara lapangan, mengulik lebih jauh tentang cerita sejarah dan penyusunan buku.

Pergerakan di hilir yang dilakukan oleh Komunitas atau Desa, ada pendampingan oleh akademisi Kampus dan mendapatkan suport oleh Kementerian. Yak! Kolaborasi ini sangatlah ideal. (Dwi Purwoko)

Tinggalkan Komentar