Percepatan Penurunan Stunting, Anak Berkualitas Lahir dari Keluarga Berkualitas

Ketua DPRD Kulonprogo Akhid Nuryati SE menjadi salah satu narasumber dalam Sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting Bersama Mitra Kerja di Kulonprogo, Minggu 21 Januari 2024. (Foto: Wiradesa).

KULONPROGO-Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan aku guncangkan dunia. Ucapan Bung Karno di awal tulisan mengingatkan pentingnya peran generasi muda dalam peradaban global. Dengan generasi muda yang berkualitas bangsa kita dapat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa lain.

Generasi muda berkualitas tak lahir secara kebetulan. Generasi muda berkualitas harus disiapkan dimulai dari keluarga yang berkualitas. Hal itu disampaikan staf ahli DPR RI sekaligus konsultan ahli Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)RI Dr dr Riyo Kristian Utomo pada Talkshow Sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting Bersama Mitra Kerja di Kulonprogo.

Acara yang diikuti ratusan kader pendamping keluarga, kader Posyandu, kader PKK dan komunitas muda Generasi Berencana (Genre) se-Girimulyo dihadiri Kepala BKKBN Dr (HC) dr Hasto Wardoyo SpOG (K) dan Ketua DPRD Kulonprogo Akhid Nuryati SE serta Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kulonprogo Drs Aryadi MM.

Kaum perempuan, lanjut Riyo, sangat memegang peranan penting dalam program percepatan penurunan stunting. Stunting diartikan sebagai kegagalan tumbuh kembang anak akibat kekurangan gizi sejak berada di kandungan. Anak yang mengalami stunting rentan terganggu kecerdasannya juga rentan terhadap penyakit menular. Bahkan ketika anak tumbuh dewasa juga rentan sakit-sakitan.

Baca Juga:  1 Syawal atau Idul Fitri 1442 H Islam Aboge Jatuh Hari Jumat

“Delapan minggu pertama kehamilan sangat penting artinya karena akan berpengaruh hingga dewasa,” kata Riyo di talkshow yang digelar di Iwak Kalen Salam Rindu, Pendoworejo Girimulyo, Minggu 21 Januari 2024.

Menurut Riyo, saat ini tingkat kecerdasan (IQ) rata-rata di negeri kita masih di angka 78. Dengan kondisi itu, skor IQ rata-rata orang Indonesia berada di peringkat 130 dunia dari 199 negara.

“Itulah kenapa stunting menjadi sangat penting untuk ditangani. Dimulai dari perencanaan pernikahan. Kita harus mengawasi persoalan stunting dari hulu dari calon pengantin,” imbuhnya.

Pemeriksaan calon pengantin seperti pengukuran lingkar lengan atas, kadar Hb dalam darah tak boleh kurang dari normal. “Yang ditakutkan dari stunting bukan karena pendeknya. Yang ditakutkan adalah IQ dan perkembangan otaknya,” jelas Riyo.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kulonprogo Aryadi, data stunting di Kulonprogo bersumber dari BPS dan BKKBN di angka 15,8 persen sedangkan data dari kader dan Dinas Kesehatan Kulonprogo by name by adres angka stunting 9,49 persen.

Baca Juga:  Empat SRU Dikerahkan dalam Pencarian Korban Laka Laut Pantai Parangtritis

Para kader pendamping keluarga, kader Posyandu, PKK, para nakes, para lurah dan masyarakat luas harus bersinergi agar target penurunan stunting secara nasional dengan batas 14 persen bisa tercapai.

“Para lurah jangan bosan-bosan untuk mengingatkan warga, para kader, tentang upaya pencegahan stunting. Manfaatkan maksimal kampung keluarga berkualitas (Kampung KB). Kini di Kulonprogo terdapat 88 kampung KB,” kata Aryadi.

Secara kebijakan, DPRD Kulonprogo terus mengawal program percepatan penurunan stunting dari waktu ke waktu. Baik dalam penegakan peraturan daerah, anggaran maupun pengawasan. Akhid Nuryati mengatakan, di semua dinas yang terkait dengan program percepatan penurunan stunting tak ada serupiah pun dana dipotong.

“Anak berkualitas dilahirkan dari keluarga berkualitas. Bagaimana merencanakan keluarga berkualitas menjadi sangat penting dilakukan. Target nasional 2024 angka stunting 14 persen. Karena itu, harus ada langkah konkret di lapangan. Sosialisasi lewat kader pendamping keluarga, memberi edukasi kepada para calon pengantin. Bahwa merencanakan pernikahan tak semata berfokus pada meriahnya pesta, gedung tempat acara. Tak kalah penting fokus pada tujuan membentuk keluarga samawa dan teredukasi tentang pembentukan keluarga berkualitas ke depan,” ujar Akhid seraya mengingatkan angka kemiskinan di Kulonprogo masih tertinggi di DIY dan ke depan dibutuhkan generasi berkualitas yang bisa mengelola sumber daya alam Kulonprogo dengan sebaik-baiknya sehingga akan memutus mata rantai kemiskinan serta bisa membawa Kulonprogo sejahtera. (Sukron)

Tinggalkan Komentar