Rona Mentari Menenun Nyala: Pentas Cerita Pertama untuk Remaja–Dewasa

Rona Mentari Menenun Nyala. (Foto: Wiradesa)

JAKARTA – Pentas cerita Menenun Nyala merupakan gebrakan di panggung dongeng Indonesia. Ini kali pertama seorang pendongeng menuturkan cerita bagi audiens remaja dan dewasa dalam gedung pertunjukan. Proyek edukasi melalui “ramuan” seni tutur, musik, dan tari ini juga hasil kerjasama dengan PPKB FIB UI dan Makara Art Center UI.

Narasi Menenun Nyala akan dibawakan oleh pendongeng profesional Rona Mentari. Menurut Rona, dongeng memang sangat sederhana tetapi punya dampak besar pada kondisi psikologis seseorang.

“Dongeng adalah penyembuh, penghibur, sekaligus inspirasi. Setiap kita membutuhkan cerita, termasuk para dewasa,” ungkap Rona. Mendengarkan cerita seolah oase di tengah hiruk – pikuk aktivitas dan arus digital setiap hari. Cerita mampu membuka pintu – pintu lain bagi penikmatnya untuk melihat kehidupan dengan perspektif baru.

Menenun Nyala praktis menjadi alternatif cara healing yang unik bagi para pekerja, pun anak sekolah. Dipentaskan pada Sabtu, 30 Juli 2022 di Makara Art Center (MAC) Universitas Indonesia (UI). Menenun Nyala akan berlangsung selama 2 jam pada pukul 19.30 – 21.30 WIB. Sementara itu, tiket pertunjukan sudah bisa diakses melalui Atourin.id/Menenun-Nyala.

Baca Juga:  Lurah Condongcatur Buka Turnamen Mobile Legend

Menenun Nyala ditujukan bagi audiens berusia 15 tahun ke atas. Tiket presale dapat dibeli mulai 8 – 13 Juli. Sekitar 300 kursi tersedia untuk kelas 1, VIP, dan VVIP. Harga tiket kembali normal pada 14 Juli yakni mulai Rp 99 Ribu untuk kelas 1, Rp 149 Ribu untuk VIP, dan Rp 249 Ribu untuk VVIP.

Lima cerita sudah disiapkan Rona. Mulai dari cerita rakyat Putri Mandalika, autobiography Rona Mentari di masa kecil, sampai cerita dongeng Aesop. Atmosfer pementasan dibangkitkan lewat kolaborasi dengan para seniman dari Svadara Indonesia. Sebanyak 4 pemusik dan 3 penari akan mengisi cerita-cerita yang dituturkan. Komplet dengan visualisasi Putri Mandalika, iringan nada gegap gempita, dan petikan guitalele.

Cerita dalam Menenun Nyala lekat dengan spirit perjuangan dan pengorbanan. Seorang ratu yang berkorban menjadi nyale (cacing laut) dalam kisah Putri Mandalika, salah satunya. Seolah bercermin, dalam pentas Menenun Nyala, Rona juga sedang berjuang mengatur nafas, lantang melafalkan kata menjadi kisah dalam kondisi mengandung 7 bulan.

Baca Juga:  Menggantungkan Cita-cita Pada Pohon Harapan Condongcatur Bertutur

Menenun Nyala merupakan pertunjukan tunggal pertama Rona Mentari sekaligus terakhir sebelum dirinya hiatus sejenak dari dunia dongeng. Dalam mengemban profesi mulia sebagai seorang ibu, Rona mengaku akan butuh waktu untuk belajar tekun dan menghabiskan 24 jamnya bersama sang buah hati.

Tentang Rona Mentari

Rona Mentari adalah seorang aktivis dongeng Indonesia dengan pengalaman lebih dari 20 tahun dalam dunia tutur. Rona jatuh cinta pada dongeng sejak masih duduk di taman kanak-kanak (TK). Hingga kini, Rona telah mendongeng di hampir seluruh daerah di Indonesia. Bahkan ia sudah meninggalkan jejak di New Zealand, Australia, UK, dan Singapore dengan dongeng-dongeng yang dibawakannya.

Rona juga menorehkan namanya sebagai orang Indonesia pertama yang belajar di The International School of Storytelling – Emerson College, UK, dengan beasiswa penuh. Ia sekaligus menjadi sosok penting di balik Rumah Dongeng Mentari, Dongeng.TV, Awicarita Festival, Pagelaran Dongeng Jogja, dan berbagai agenda dongeng lainnya.

Pada 2018, Rona bertemu Presiden RI Joko Widodo untuk menerima penghargaan khusus sebagai pemuda yang berdedikasi dalam kebudayaan sebagai aktivis dongeng Indonesia dari Bekraf, Opini.id, dan Net TV. (*)

Tinggalkan Komentar