Mengawali Panen, Petani Karangwetan Gelar Upacara Wiwit

Lurah Kalurahan Salamrejo Dani Pristiawan SP (kiri) memotong padi pada upacara wiwit, mengawali panen musim tanam satu di Padukuhan Karangwetan. (Foto: Waspodo)

KULONPROGO – Menyambut musim panen, para petani di Padukuhan Karangwetan Salamrejo, Sentolo menggelar upacara wiwit atau wiwitan. Wiwit diikuti anggota Kelompok Tani-Ternak Permaden Rejo, Jumat 24 Februari 2023 sore.

Ketua Kelompok Tani-Ternak Permaden Rejo Suyanto SPd menuturkan, upacara wiwit dulunya dilakukan tiap individu dan berlangsung pada malam hari.

“Upacara wiwit dulu perindividu. Biasanya diselenggarakan malam hari. Mungkin dulu masih zaman larang pangan biar tak dimintai orang. Beda dengan sekarang. Wiwit pelaksanaannya siang-sore hari, mengundang warga sekitar dan bersifat massal,” kata Suyanto, ditemui di kediamannya di Padukuhan Mentobayan Salamrejo, sesaat usai wiwitan.

Menurut Suyanto, Wiwit berasal dari kata miwiti atau mengawali. Wiwit dilaksanakan sebelum panen. Jadi wiwit berarti miwiti panen atau mengawali panen. Upacara wiwit sebagai wujud ungkapan rasa syukur para petani kepada Alloh Swt atas hasil pertanian yang baik dan melimpah.

Acara berupa kenduri dan doa bersama dipimpin Kaum Rois Budi Suyatno. Dilanjutkan potong padi secara simbolis oleh Lurah Kalurahan Salamrejo Dani Pristiawan SP, setelah itu kembulbujono. Warga makan bersama nasi tumpeng kluban, ditambah aneka lauk; tempe bacem, tahu bacem dan telur. “Tumpeng ditancepi lombok ijo dan brambang. Yang spesial di nasi wiwit ada sambal gepleng. Kombinasi lombok, kedelai hitam dan teri,” imbuh Suyanto.

Baca Juga:  Intensitas Cahaya Matahari Cukup Hasil Panen Porang Besar-besar

Terkumpul sebanyak 30 tumpeng yang dibikin anggota kelompok tani dan tambahan nasi uduk atau sego gurih serta tiga ingkung sumbangan warga dan urunan kelompok tani. Upacara wiwit dihadiri 30-an anggota kelompok tani, para tamu undangan. “Wiwit dilaksanakan di lokasi sawah, tepatnya di jalur cor blok penghubung Karangwetan dan Padukuhan Kidulan. Ini yang pertama kali diselenggarakan bersama pada satu lokasi di sawah. Pelaksanaan sebelumnya pas pertemuan kelompok. Sekarang diadakan di sawah,” sambungnya.

Kelompok Tani-Ternak Permaden Rejo menggelar upacara wiwit dengan doa bersama, potong padi secara simbolis dilanjutkan kembulbujono. Warga menyiapkan 30 tumpeng nasi wiwit, nasi gurih dan tiga ingkung ayam. (Foto: Waspodo)

Lurah Kalurahan Salamrejo Dani Pristiawan SP mengatakan, wiwit merupakan tradisi yang baik. Wiwit merupakan warisan budaya luhur sehingga mesti diuri-uri dan dilestarikan. Bahkan menurutnya bila dikemas lebih meriah dilengkapi arak-arakan, bukan tak mungkin bisa menjadi atraksi wisata yang menarik. Hadir pada acara itu Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Sentolo Hendro Santoso SST, petugas penyuluh lapangan BPP Sentolo Sutarsih.

Pola Tanam Padi, Padi, Palawija

Suyatno yang juga ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) Prakoso Rejo Kalurahan Salamrejo beranggotakan 13 kelompok tani ternak mengungkapkan, hamparan sawah garapan anggota kelompok tani Permaden Rejo seluas 6 hektar. Mengikuti pola tanam padi, padi, palawija. Padi yang hendak panen mulai Minggu 26 Februari 2023 merupakan hasil pertanian musim tanam satu. Musim tanam satu, tanam pertama mulai sebar pada 1 November 2022 lalu. Musim tanam kedua akan dimulai 1 April mendatang sedangkan musim tanam ketiga berupa palawija akan dimulai awal Agustus. “Musim tanam ketiga berupa palawija, warga memilih tanaman jagung,” ujarnya.

Baca Juga:  Iis Sosok Kartini Masa Kini, Jalankan Mesin Traktor Demi Bantu Orangtua

Dijelaskan, sistem tanam padi jajar legowo enam baris legowo dijalankan petani Salamrejo. Jarak enam baris tanaman padi 25-30 cm setelah enam baris diberi jeda legowo sekitar 40 cm. Sistem jajar legowo berfungsi memberi ruang sinar matahari masuk. Hasil pertanian padi umumnya perseribu meter dapat memanen 6 kuintal gabah basah. Varietas padi menggunakan pajajaran dengan umur pendek 85 hari, juga memakai citra buana dan inpari 19 serta inpari 42.

Di samping menerapkan gerakan pengendalian hama terpadu penyemprotan memakai sistem organik, proses pemupukan selama masa tanam sebanyak dua kali. Pupuk dasar berupa urea dan phonksa. Pemupukan pertama pada tiga hari setelah tanam. Pada hari kedua puluh diwatun atau pembersihan gulma (tanaman pengganggu). Pemupukan kedua berupa phonksa pada hari ke-45 setelah tanam. “Pemupukan perdana satu karung urea dan dua karung phonksa. Pemupukan kedua satu karung pupuk phonska. Pakai pupuk subsidi sekarang pupuk phonska sekarung Rp 135 ribu. Urea Rp 115 ribu perkarung,” kata Suyanto yang menggarap lahan sawah seluas 1600 meter.

Baca Juga:  Ketum SMSI Serahkan Langsung SK Pengurus SMSI DIY 2026–2030 di Rapimnas dan HUT ke-9 SMSI

Di samping biaya pupuk, dalam bertani padi, kebutuhan modal lain untuk biaya traktor. Tiap 1000 meter biaya Rp 150 ribu. Saat tandur dengan luasan yang ada, Suyanto merogoh dompet Rp 500 ribu. Tandur butuh waktu sehari. Tenaga tandur lima orang. Tambahan biaya berikutnya saat panen. Setidaknya saat panen butuh tenaga lima orang dengan durasi waktu satu setengah hari. Biaya pemanenan satu orang Rp 150 ribu

“Meski untung tipis, tetap ayem. Paling tidak saat harga beras mahal, tidak perlu nempur,” timpalnya. (Sukron)

Tinggalkan Komentar