Empat Potensi Wisata Padukuhan Semoya Meliputi Wisata Edukasi, Atraksi Budaya, Keindahan Alam, dan Kuliner

Karyadi, anggota Kelompok Peternak Sapi “Andini Mulyo”, sedang memandikan sapi di kandang komunal, Senin (27/4/2026). (Foto: Wiradesa)

SLEMAN – Penggerak wisata di Padukuhan Semoya, mendata ada empat potensi wisata yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata di Semoya, Tegaltirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Empat potensi wisata itu meliputi wisata edukasi, wisata budaya, wisata alam, dan wisata kuliner.

Ketua Pokdawis (Kelompok Sadar Wisata) Tirta Ayodya Tegaltirto, Sumarno, menjelaskan di Padukuhan Semoya terdapat kandang sapi komunal yang dikelola oleh Kelompok Peternak Sapi “Andini Mulyo”. Kelompok ini beranggotakan 60 orang peternak.

“Keberadaan kelompok peternak sapi di Padukuhan Semoya tersebut bisa dikembangkan menjadi wisata edukasi,” ujar Sumarno saat ditemui Wiradesa.co di rumahnya Padukuhan Semoya, Tegaltirto, Berbah, Sleman, Senin 27 April 2026.

Edukasi yang layak disampaikan kepada wisatawan, antara lain cara pembuatan kandang sapi, cara mengupayakan pakan dan memberi pakan sapi, menjaga kesehatan sapi, dan pengelolaan limbah ternak sapi agar tidak mencemari lingkungan.

Kelompok Peternak Sapi “Andini Mulyo” beranggotakan 60 peternak dengan 60 kandang. Setiap satu peternak memiliki satu kandang, dan setiap kandang terisi dua sampai tiga sapi. Seperti kandang yang dikelola Karyadi diisi dua sapi.

Baca Juga:  Salak Gading Ayu Gabugan, Buah Kesukaan Keluarga Raja

“Sapi yang itu untuk korban sendiri, dan yang ini saya tawarkan dua puluh tujuh juta (rupiah),” jelas Karyadi sambil memandikan sapinya dengan air kran yang jaringannya tersambung antarkandang.

Pada Senin pagi, ada beberapa orang yang datang ke kandang “Andini Mulyo” untuk membeli sapi. Harga sapi yang ditawarkan para peternak menjelang Idul Adha 1447 Hijriyah, rata-rata antara Rp 24 juta sampai Rp 30 juta per ekor.

Sapi-sapi yang dipelihara oleh para peternak yang tergabung dalam Kelompok Ternak Sapi “Andini Mulyo” dikenal berkualitas bagus dan sehat. Ari, salah satu peternak, mengungkapkan para peternak di Tegaltirto tidak mengenal pakan fermentasi. Semua pakan yang diberikan sapi peliharaannya merupakan rumput segar dari rumput gajah yang ditanam sendiri para peternak.

“Para peternak, umumnya menyewa lahan tanah kas desa untuk ditanami rumput gajah. Ada yang menanam rumput jenis pakcong, gama umami, dan lainnya,” kata Ari. Dengan pakan rumput segar, sapi-sapi umumnya sehat.

Peternak yang lain, Poniran, menjelaskan selama memelihara sapi sejak tahun 1996, belum pernah satu pun sapinya yang mati. Baginya memelihara sapi itu untuk tabungan. Jika membutuhkan dana mendadak, bisa diupayakan dengan menjual sapi peliharaannya.

Baca Juga:  Yuk, Piknik ke Pantai Pandan Kuning Petanahan yang Makin Bersolek
Sumarno, Ketua Pokdarwis “Tirta Ayodya” Tegaltirto. (Foto: Wiradesa)

Ketua Pokdarwis “Tirta Ayodya” Sumarno mengemukakan, di Padukuhan Semoya terdapat grup karawitan dan ada sejumlah seniman ketoprak dan wayang kulit. Selain itu juga ada joglo yang dapat dimanfaatkan bagi para wisatawan untuk berlatih menabuh gamelan dan balai padukuhan untuk panggung pertunjukan kesenian tradisional.

Untuk wisata destinasi alam, di wilayah Padukuhan Semoya terbentang area persawahan, perkebunan, dan perbukitan yang indah, serta ada Sungai Tepus dan Embung Tegaltirto. Aktivitas yang bisa dijalani wisatawan, antara lain susur sungai, outbond, memancing, bersepeda keliling desa, dan menanam padi bersama petani lokal.

Sedangkan untuk wisata kuliner, Padukuhan Semoya merupakan sentra pembuatan Tape Moya. Wisatawan tidak hanya diharapkan membeli tape sebagai oleh-oleh, tetapi juga diajak membuat tape bersama para perajin tape lokal. Atraksi ini dimulai dari tahap mengupas singkong, merebus, hingga proses fermentasi. Wisatawan juga mendapatkan penjelasan tentang sejarah Tape Moya dan cara pembuatannya yang masih tradisional. (Ono)

Tinggalkan Komentar