MALANG – Pesantren Tahaffudzul Quran di Kabupaten Malang, salah satu pesantren tempat belajar bagi para santri yang berminat mengafal Alquran 30 juz. Pesantren ini didirikan oleh Abuya KH Abdullah Umar Al Hafidz pada 2001. Kini pesantren diasuh istri Abuya Abdullah Umar Nyai Hj Aminatus Zuhriyah dan salah satu cucu Gus Aufillah.
Usai melangsungkan pertandingan terakhir cabang olahraga tenis meja, di Pekan Olahraga Wartawan (Porwanas XIII) di Kota Malang, wiradesa.co berkesempatan berkunjung ke pesantren yang berjarak sekitar 15 km dari hotel tempat menginap di Kota Malang. Kepada wiradesa.co, Gus Aufi banyak berkisah perihal Abuya Abdullah Umar sang pendiri pesantren.
“Bagi saya pribadi, sangat berat kalau disebut sebagai pengasuh. Berat dari sisi tanggung jawab. Maka sebut saja sebagai konco (teman) ngaji santri,” ucap Gus Aufi saat ditemui Jumat 25 November 2022 di rumahnya Desa Jeru, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Gus Aufi menceritakan sosok Abuya Abdullah Umar, sosok ulama ahli Alquran yang masyhur di Tanah Air dan mendirikan Pesantren Tahaffudzul Quran di rumahnya di belakang Masjid Kauman Semarang, sebagai pribadi yang sangat sederhana.
“Di rumahnya di Semarang Abuya menulis sendiri prinsip hidup beliau ‘sabar, ngalah, nriman, loman’. Tulisan empat kata itu ditulis tangan dan dipajang di ruang tamu beliau,” ujar Gus Aufi.
Menurutnya, Abuya Abdullah Umar kepada istri dan keluarga juga kepada para santri dan jamaah menegaskan, agar dalam kondisi dan posisi apa pun jangan sampai mengalahkan Alquran.
“Boleh jadi tentara, dokter, atau profesi jabatan apa pun tapi hendaknya Alquran jadi nomor satu,” imbuhnya.
Lalu Gus Aufi menerangkan, bagaimana cara menomorsatukan Alquran dalam kehidupan. Ia membagi dua kategori. Sebagai penghafal Alquran dia istilahkan sebagai hamil Quran. “Hamil artinya yang membawa. Seakan-akan sebagai Quran berjalan. Nilai dan ajaran Alquran tercermin dalam laku, tutur kata. Yang kedua sebagai ghoiru hamil Quran, bukan penghafal Alquran, tetapi paling tidak yang bersangkutan meluangkan waktu rutin nderes Alquran,” imbuhnya.
Hamil Quran, hidup secara utuh menomorsatukan Alquran, bahkan tidak pantas bekerja, walaupun sesekali berikhtiar boleh. “Yang hamil Quran ini tidur Quran, bangun tidur Quran, berdiri Quran. Setiap saat setiap waktu fokus kepada Alquran, sedangkan yang ghoiru hamil Quran boleh jadi apa saja. Misal jadi tentara dikirim ke Papua tapi tadarusnya jangan sampai bolong,” jelasnya tentang bagaimana menomorsatukan Alquran dalam hidup.
Gus Aufi pun mengisahkan pengalaman hidup Umi Aminah (Nyai Hj Aminatus Zuhriyah) istri Abuya Abdullah Umar Al Hafidz yang beberapa kali bangkrut kala berupaya buka usaha. Setelah Abuya Abdullah Umar wafat, Umi Aminah pernah berinisiatif dagang pakaian. Awal kulakan laris. Selang beberapa waktu mulai diambil dan diutang dagangannya. Lama-lama reseller minta barang dibawa, setor duit setelah laku. Hingga usaha Umi Aminah bangkrut. Buka lagi namun hal itu terulang kembali. Menurutnya Umi Aminah sebagai hamilul Quran memang tak pantas berdagang.
“Akhirnya Umi Aminah sadar dan tak lagi bekerja apa pun. Namun meski tak bekerja rezeki tetap mengalir. Bisa membiayai saya mondok di mana-mana. Sanggup dan dicukupi,” terang Gus Aufi sembari menyampaikan nasihat Abuya Abdullah Umar bahwa orang yang hafal Alquran hidupnya tak bakal sengsara, tak akan hidup morat-marit.
“Bahkan Abuya pernah berkata kalau ada santrinya hafal Alquran dan hidup morat-marit Abuya bilang kethoken tanganku,” tandasnya.
Santri Tahaffudzul Quran Malang kini ada sekitar 100 orang dan semuanya murni nyantri menghafal Alquran tanpa bersekolah di luar pondok. Gus Aufi pun mengingat bagaimana pesan Abuya Abdullah Umar tatkala dirinya dulu saat dititipkan ke para kiai untuk mondok. “Abuya selalu bilang ke para kiai. Beliau dalam memasrahkan saya ridho saya sebagai santri bila nantinya sampai dicubit bahkan ridho bila sampai digebuki kiai,” ujarnya.
Di samping mengasuh santri, Gus Aufi dalam berbagai kesempatan juga menyampaikan perihal beberapa kitab karangan Abuya Abdullah Umar yakni Mustolah Tajwid dan Kitab Risalatul Quro wal Hufadz. Menurutnya, Abuya Abdullah Umar dulu dalam menyusun kitab sambil menyimak hafalan santri. Sekali menyimak tujuh anak.
“Abuya Thoha Alawy Alhafidz Pengasuh Pesantren Ath Thohiriyyah Purwokerto yang kala itu nyantri adalah salah satu saksi bagaimana KH Abdullah Umar Alhafidz menyusun kitab sembari menyimak hafalan Quran para santri,” pungkasnya. (Sukron Makmun)








