Apa arti tulisan BRAAT, SOERABAIA, DJOGJA, TEGAL, SOEKABOEMI di Pasar Bendosari

Tetenger yang ada di kerangka baja kuno Pasar Bendosari yang difoto Rabu (8/2/2023). (Foto: Wiradesa)

Di Kalurahan Canden, Kapanewon Jatis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ada pasar tua bernama Pasar Bendosari. Pasar kuno ini berada di Padukuhan Gadungan Pasar.

Ketika Wiradesa berkunjung ke Pasar Bendosari, Rabu 8 Februari 2023, ternyata pasarnya sepi. Namun yang menarik di rangka baja kuno terdapat tulisan BRAAT, SOERABAIA, DJOGJA, TEGAL, SOEKABOEMI.

Penasaran dengan tulisan yang tertera di rangka besi bangunan pasar tua Bendosari, Wiradesa googling mencari arti kata Braat. Ternyata Braat itu Bahasa Belanda, kalau Bahasa Inggris-nya Brat yang artinya Anak Nakal.

Kenapa ada tetenger Anak Nakal di Pasar Bendosari? Kepala Dukuh Padukuhan Gadungan Pasar, Arif Winarto, mengungkapkan jika di Kalurahan Gadungan dan sekitarnya dulu banyak anak-anak nakal. Tetapi mereka segan dan takut dengan tokoh bernama Muhammad Badri.

“Muhammad Badri itu mbah buyut saya. Anak Muhammad Badri bernama Muhammad Badaruddin, dan anak Muhammad Badaruddin itu bernama Muhammad Bardan,” papar Arif Winarto.

Berdasarkan penuturan para sesepuh Padukuhan Gadungan Pasar, dulu Belanda mau membangun pasar di Gadungan. Namun Belanda khawatir bangunan pasarnya akan dirusak oleh para pemuda yang dinilai Belanda sebagai anak-anak nakal.

Baca Juga:  Pengelolaan Sampah di Kebumen Diharapkan Satu Desa Ada Satu TPS3R dan Bank Sampah

Agar pembangunan pasarnya lancar, Belanda memilih lokasi di depan rumah Mbah Muhammad Badri. Dengan pertimbangan, tokoh ini disegani dan ditakuti. Sehingga anak-anak nakal tersebut tidak akan berani membuat onar di depan rumah Badri.

Rumah leluhur yang disegani dan ditakuti itu sekarang ditempati Kepala Dukuh Padukuhan Gadungan Pasar. “Dulu di rumah ini ada menara tinggi untuk menyampaikan kabar atau pengumuman kepada masyarakat. Sekarang menaranya sudah ambruk,” cerita Arif.

Pasar Bendosari justru ramai saat PPKM. (Foto: Wiradesa)

Pasar Bendosari sekarang sepertinya sudah ilang kumandange. Sepi ditinggal pedagangnya. “Dulu saat PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) di pasar ini justru ramai. Namun setelah normal, para pedagang kembali lagi berjualan di Pasar Pundong,” ujar Pak Dukuh.

Saat PPKM diberlakukan di Bantul mulai tanggal 11 sampai 25 Januari 2021, hanya kerumunan Pasar Bendosari yang tidak dibubarkan. Karena Satpol PP Kabupaten Bantul sudah diancam, kalau berani membubarkan, maka ban mobilnya semua akan dikempesi.

Ternyata “anak-anak nakal” masih ada di Padukuhan Gadungan Pasar. Namun apakah anak-anak nakal itu masih ada jaringan dengan Surabaya, Yogyakarta, Tegal, dan Sukabumi, seperti dikhawatirkan Pemerintah Belanda, hanya waktu yang menjawabnya.

Baca Juga:  Wajan Raksasa Jadi Obyek Wisata

Apapun kondisinya, Pak Dukuh Gadungan Pasar akan terus berusaha agar bangunan asli Pasar Bendosari tidak diubah. Dia bertekad akan terus merawat sejarah. Secara jujur, Pak Dukuh mengaku dulu juga termasuk anak nakal. Namun sekarang sudah mengikuti apa kemauan masyarakat. Semoga kebaradaan pasar lawas itu bisa mensejahterakan warga. (*)

Tinggalkan Komentar