H. Parja, Lurah Bangunjiwo: Maksimalkan Potensi Desa dan UMKM

Lurah Bangunjiwo H. Parja. (Foto: Budi)

NAMA lengkapnya H. Parja, S.T., M.Si. Ia adalah Lurah Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan masa jabatan 2013-2019 dan kembali terpilih untuk periode 2020-2026.

Semenjak terpilih sebagai lurah di Bangunjiwo pada 2013 lalu, Parja berupaya memajukan Bangunjiwo dengan memaksimalkan potensi desa dan UMKM yang ada. Potensi Desa Bangunjiwo, Kabupaten Bantul, sangat beragam termasuk yang dominan adalah Pariwisata.

“Pariwisata unggulan Desa Bangunjiwo terletak pada sektor industri kerajinan yang telah dikemas dalam satu paket bernama Kawasan KAJIGELEM. Nama KAJIGELEM merupakan singkatan dari KA = Kasongan, JI = Jipangan, GE = Gendeng, LEM = Lemahdadi. Keempatnya merupakan sentra industri yang paling menonjol di Desa Bangunjiwo,” kata Parja kepada Wiradesa.co, Senin 15 September 2025.

Ia menjelaskan bahwa Kasongan merupakan suatu sentra industri kerajinan gerabah dan keramik yang saat ini sudah merupakan aset daerah, dengan pangsa pasar telah merambah pasar ekspor. Kasongan merupakan desa wisata, bukan saja dikunjungi oleh wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan manca negara. Sebagai kawasan wisata kerajinan tentu saja membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai bagi kepentingan pengembangan kawasan tersebut.

Baca Juga:  Lurah Ngeposari Ciptadi: Selama Menjabat 4.000 Tanah Warga Bersertifikat

Jipangan merupakan suatu kawasan sentra kerajinan berbahan bambu seperti kipas, dan hiasan bambu, yang telah dijadikan mata pencaharian utama bagi semua warga yang tinggal di Padukuhan Jipangan. Dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan kerajinan bambu di Jipangan, pihak pemerintah Desa Bangunjiwo telah melakukan upaya dengan pelatihan bagi perajin serta membuka akses kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam hal pelatihan, permodalan, peralatan dan akses pasar.

Pedukuhan Gendeng merupakan sentra perajin seni tatah sungging kulit seperti wayang yang kualitasnya telah teruji, bahkan untuk skala DIY, kualitas tatah sungging kulit Gendeng merupakan yang terbaik. Krisis moneter sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan kehidupan perajin tatah sungging kalit di Gendeng.

Sedangkan Dukuh Lemahdadi merupakan sentra industri kerajinan patung batu (pahat dan cetak) dengan skala pasar telah menjangkau pasar ekspor. Dalam satu bulan rata-rata mampu mengekspor 8 sampai 9 kontainer ke pasar luar negeri seperti Eropa, Australia, Amerika, dan Timur Tengah.

Selain itu potensi alam dan budaya yang meliputi sendang, kedung, dan tradisi lokal seperti wiwitan. Potensi ini telah dikembangkan menjadi desa wisata dengan tagline “Paradise Of Culture” yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Sementara, potensi alam dan lingkungan ada beberapa sendang dan kedung yang memiliki sumber mata air dan kolam alami di desa yang melengkapi keindahan alam di Bangunjiwo.

Baca Juga:  Tiga Misi Lurah Srimulyo Wajiran yang Visioner: Hijaukan Gunung, Tata Pemukiman, dan Manfaatkan Sungai

“Potensi budaya dan wisatanya, kita memiliki tradisi wiwitan yakni upacara sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang menjadi daya tarik wisatawan, dengan pembagian makanan hasil pertanian. Dengan tagline desa wisata “Paradise Of Culture”, Bangunjiwo berusaha memaksimalkan potensi desanya termasuk pengembangan pariwisata daerah yang mengedepankan tradisi dan budaya lokal, untuk menarik kunjungan dari wisatawan,” ujarnya.

Potensi Sumber Daya Manusia (SDM), Bangunjiwo memiliki sejumlah seniman dan pelukis seperti almarhum Djoko Pekik dan Subandi Giyanto (pelukis kaca). Melalui pemberdayaan masyarakat di antaranya melalui pelatihan-pelatihan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Desa Bangunjiwo berupaya menjadi salah satu pusat destinasi wisata edukasi di Bantul yang mengedepankan nilai-nilai budaya dan tradisi.

Potensi Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) di Desa Bangunjiwo dibagi menjadi beberapa sektor UMKM di antaranya adalah, sektor industri, sektor kerajinan keramik dan sektor perdagangan. Di antara ketiga sektor tersebut yang paling menonjol adalah sektor industri dan kerajinan keramik.

“Saat ini data untuk pemetaan klaster-klaster potensi Bangunjiwo belum kita update karena membutuhkan dana. Tahun depan akan kita alokasikan dana untuk update klaster-klaster usaha di Bangunjiwo,” kata Parja. sarjana teknik ini. (Budi)

Tinggalkan Komentar