Kiai Beny Susanto: Prihatin Medsos Jadi Ajang Caci Maki

Kiai Beny Susanto, menyerok gurami. (Foto: Wiradesa)

BANTUL – Tiga kolam ikan di Pesantren Sunan Kalijaga diisi tiga jenis ikan, gurami, patin dan nila. Gurami yang tersedia di kolam terbilang besar, berdaging tebal, dan layak konsumsi. Pengasuh Pesantren Kiai Beny Susanto menuturkan, sejak awal kolam ikan di pesantrennya memang diisi tiga jenis ikan. Setiap kolam dikuras tak semua ikan diangkat masih disisakan ikan sehingga jumlah ikan tambah banyak karena benih baru juga ditebar.

“Kolam ukuran 3×5 yang terbesar. Kedalaman bertingkat. Tengah paling dalam, 1,5 meter. Kalau bagian pinggir kedalaman air sekitar 60 cm,” kata Beny Susanto saat wiradesa.co bersilaturahmi ke pesantren di Gesikan RT 05 Panggungharjo Sewon, Bantul, beberapa waktu lalu.

“Ayo datang ke pondok. Bawa pancing, kalau nggak aku serokkan,” kata Beny ketika berkabar tentang kolam ikannya via chat Whatsapps sebelum wiradesa.co datang berkunjung. Tiba sekitar pukul 17.00 di pesantren, tak sempat lagi buat memancing. Namun Beny rupanya serius. Dia telah mengangkat lima ekor gurami besar masing-masing diatas bobot 1 kg. “Nanti pilih sendiri, jangan cuma ambil satu. Dibawa pulang,” ucapnya. Lalu, Beny menceritakan, meski bukan kategori kolam dalam sebagaimana habitat yang disukai gurami, namun air yang ada tak pernah asat. Dia mencoba juga ternak lele di salah satu kolam, angka ikan mati menurutnya terbilang kecil.

Baca Juga:  Rizqiana Kembali Terpilih sebagai Ketua Fatayat NU Ranting Tambakagung

“Kalau sama sisa ikan terdahulu yang tak diangkat, jumlah ikan jadi terakumulasi. Bahkan di kolam ditambahi sidat, belut. Kadang menangkap pakai pancing meski agak susah. Pengen mudah tinggal pakai serok atau pakai kurungan ayam,” imbuhnya sambil menyebut tebar gurami perdana dulu sekitar 500 ikan.

Selain dikonsumsi sendiri dan warga pondok tatkala menggelar acara di pesantren, sesekali ikan gurami dimasak buat menyuguh tamu. Beberapa kiai di Yogya juga pernah dia kirimi ikan gurami mengambil dari kolam pondok.

“Kalau mancing pakainya senar besar. Kalau senar kecil bisa putus nggak kuat ngangkat yang 2-3 kg. Kalau pakai serok pasti dapat,” timpal Beny.

Beny yang asli Kebumen mengisahkan, di lokasi tersebut dia beli tanah buat bangunan rumah pada 2006. Membangun pondasi rumah 2007 mulai menempati rumah pada 2009. Pasang pondasi, pasang bata bertahap sampai dengan pasang atap. Begitu ditempati, masih berdinding bata, datang satu dua anak tetangga belajar sholat dan ngaji.Kemudian tambah diikuti ibu-ibu. Dalam seminggu waktu dibagi 4 kali buat ngaji anak-anak dan 2 kali buat ngaji ibu-ibu.

Baca Juga:  Ikhtiar Sehat dengan Degan Bakar

Dikatakan Beny, pada 2010 seorang warga memasrahkan tanah buat wakaf dan dibangun musala. Musala tak jauh dari rumah sekarang dikelola warga. Namun sebelum ada musala telah terbentuk majelis taklim embrio pesantren. “Musala dipakai salat lima waktu, juga majelis taklim,” jelas Beny.

Santri dan ustaz Pesantren Sunan Kalijaga. (Foto: Wiradesa)

Ketika punya rezeki, Beny membeli tanah murah di tepi Kali Winongo barat rumahnya. Tanah yang semula sudah ditawarkan namun tak laku-laku dibeli murah Rp 100 ribu permeter. Di sebidang tanah tak terlalu luas, dan di tengah kampung padat rumah warga, kini dibangun musala dan ruang asrama tempat santri menginap. “Jadi dibangun langgar baru di pondok meski sebelumnya sudah ada musala yang sekarang dikelola warga. Ada asrama santri tiga kamar, juga ada kurikulum serta ada ustaz yang mengajar ngaji,” tuturnya.

Ketika musim Covid lalu, pondoknya banyak dikunjungi anak-anak mengaji lantaran musala-musala, majelis taklim sekitar ditutup takmir. “Pondok selain sebagai tempat ngaji bagi para santri dan anak-anak warga sekitar, bergerak sinergi dengan komunitas warga. Walaupun dengan keragaman yang ada. Pernah berkegiatan bersama warga bikin kolam terpal di lahan kosong buat budi daya lele, tapi kini sudah tidak jalan.Yang masih jalan justru kegiatan bank sampah,” ucapnya.

Baca Juga:  Respons SE Sekjen Kemenkumham, Rupbasan Purbalingga Terapkan WFH 90 Persen

Pelatihan bank sampah dilakukan beberapa kali. Pesantrennya juga kerap dijadikan tempat berdiskusi lintas kalangan membahas antara lain persoalan paham radikal di tengah masyarakat yang menjadi keprihatinan bersama sejumlah elemen lain termasuk kalangan lintas iman.

Beny yang didapuk sebagai Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) DIY dan sebagai Ketua Forum LSM se-DIY membentuk komunitas Bela Indonesia yang bergerak di literasi. Lewat literasi alumnus Pesantren Al Huda Jetis Kebumen dan Pesantren Al Munawwir Krapyak Kompleks L ini prihatin dengan ruang media sosial (medsos) karena menjadi ruang kotor tak jarang menjadi ajang caci maki akibat perbedaan berbagai kepentingan; politik, ekonomi.

“Lewat gerakan literasi di Komunitas Bela Bangsa kami mencoba memasukkan dan memberi konten berbeda antara lain soal kebangsaan,” ucapnya. (Sukron)

Tinggalkan Komentar