Libatkan Multistakeholder, Mengelola DAS Butuh Berjamaah

Foto: Istimewa

YOGYAKARTA-Forum Koordinasi Daerah Alirah Sungai (FKPDAS) DIY menggelar webinar nasional Pengelolaan DAS Berkelanjutan Berbasis Multistakeholder Hexahelix, Senin 8 Desember 2025 di Aula BPDAS Serayu Opak Progo.

Bertindak selaku moderator Ketua FKPDAS DIY Dr Masrur Alatas ST MEng, keynote speaker RM Gusthilantika Marrel SBA MSc serta menghadirkan tiga pembicara, Prof Dr Slamet Suprayogi MS dari Fakultas Geografi UGM, Ir Hadiyati Utami (Direktorat Perencanaan dan Pengelolaan DAS) dari Prof Dr rer nat Ir Heru Hendrayana IPU, Guru Besar Fakultas Teknik UGM.

Dalam pengantarnya Mas Marrel, sapaan akrabnya, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut menjaga kelestarian DAS. Menurutnya di DIY banyak sungai yang mesti diawasi betul apalagi di tengah situasi berduka akibat bencana alam banjir di Sumut dan Aceh.

“Di DIY memiliki tantangan lingkungan berbeda di tiap wilayah. Dari barat hingga timur sehingga butuh pengawasan serius,” ungkap Mas Marrel.

Ia menyebut di wilayah utara DIY persoalan DAS terkait aktivitas penambangan pasir yang menjadi tanggung jawab bersama memulihkan kondisi sesuai visi istimewa Ngarsa Dalem. “Cerita tentang Breksi pulih dari aktivitas pertambangan ilegal yang bisa dihentikan kini justru menjadi ikon wisata membanggakan.

Baca Juga:  Di Depan Pimpinan SMSI se-Indonesia, Budiman Sudjatmiko Paparkan Rancangan Metaverse Nusantara

“Pekerjaan menyelamatkan lingkungan banyak yang tak mau mengerjakan karena tak kelihatan berjasa. Minim orang tertarik. Karena itu mindset harus diubah. Jangan sampai kita menjadi hero justru setelah terjadi bencana. Kita tentu tak perlu berfokus pada validasi atau menjadi pahlawan. Kita mesti berpikir apa dilakukan dalam melestarikan DAS adalah untuk anak cucu di masa depan,” ujarnya sembari mengingatkan hal yang mendasar bahwa kultur atau budaya bakal bisa bertahan apabila kelestarian alam bisa terjaga.

Mas Marrel menambahkan, konsep kolaborasi hexahelix diharapkan dapat meminimalkan risiko bencana di DIY. “Menjaga alam dan bumi tanggung jawab bersama seluruh umat manusia tanpa membedakan ras, suku, atau latar agama. Di Yogya banyak potensi yang dapat dirangkul. Di kalurahan bahkan padukuhan banyak komunitas lokal yang peduli lingkungan. Tinggal kita rangkul. Termasuk juga melibatkan anak muda dalam berbagai kegiatan didukung pemerintah dan sektor swasta untuk memperkuat program green movement di Yogya,” imbuhnya.

Dalam paparannya, Slamet Suprayogi yang menjabat sebagai Guru Besar Hidrologi Departemen Geografi Lingkungan UGM menyebut tiga ciri DAS tidak sehat yaitu aliran hujan langsung menjadi aliran permukaan, memicu erosi, dan air hujan membawa pencemaran. Ia menjelaskan fungsi utama DAS sebagai satu kesatuan bentang lahan, satu kesatuan ekosistem, dan satu kesatuan hidrologis yang saling terhubung. Ia mengingatkan pula tentang pentingnya tanaman dan pepohonan tinggi sebagai penahan hujan agar tak langsung jatuh ke tanah, lahan pekarangan sebagai daerah konservasi dan penghidupan. Sedangkan pemampatan tanah di hutan bisa terjadi akibat aktivitas penebangan pohon besar secara masif jatuhan dan penyeretan batang kayu besar memadatkan tanah. “Tanah yang padat, air hujan terkonsentrasi masuk DAS,” terangnya.

Baca Juga:  KPU Purbalingga Gelar Nobar Peluncuran Hari Pemungutan Suara Pemilu Serentak

Ketua FKPDAS Masrur Alatas, menuturkan kegiatan webinar/seminar nasional kali ini pihaknya ingin mematangkan kolaborasi sinergi dan integrasi dalam pengelolaan DAS. Hexahelix dimaksud tak lain dari unsur akademisi, bisnis/swasta, pemerintah, komunitas, plus finansial informasi media dan teknologi. Mengelola DAS di bagian hulu, tengah dan hilir butuh berjamaah agar lebih sistematis dan komprehensif. Syiar FKPDAS juga tak kalah penting melalui medsos media jurnalistik DAS agar sajian informasi makin unik dan menarik perhatian masyarakat serta berbagai pihak yang peduli pelestarian DAS.

“Kolaborasi hexahelix dalam menjaga DAS di Yogya melibatkan ABGCFIT, (a)kademisi, (b)isnis atau swasta, (g)overnment atau pemerintah, (c)ommunity atau komunitas ditambah finansial, informasi dan teknologi. Tanpa finansial, syiar informasi dan dukungan teknologi, upayanya jadi kurang optimal,” kata Masrur.

Pada kesempatan webinar tersebut, Direktur PEPDAS Nurul Iftitah SHut MSi mengajak masyarakat di daerah melalui forum dan multistakeholder untuk lebih meningkatkan lagi pengelolaan DAS secara berkelanjutan. Sedangkan Guru Besar Fakultas Teknik UGM Prof Dr Heru Hendrayana memaparkan materi kesadaran bersama menjaga hutan dan DAS untuk cadangan air berkelanjutan. Peran masyarakat diperlukan dalam perlindungan mata air, air tanah dan air permukaan dengan paradigma baru kesadaran ekologis, proaktif mengelola air, meresapkan air hujan ke dalam tanah untuk cadangan air berkelanjutan.

Baca Juga:  Menteri Koperasi dan UMKM Berharap Mahasiswa KKN Bantu UMKM

Kepala DLHK DIY Kusno Wibowo dan Kepala BPDAS Serayu Opak Progo Rochimah Nugrahini dalam sambutannya sepakat untuk meningkatkan kolaborasi multipihak hexahelix dalam peningkatan pengelolaan DAS berkelanjutan di Yogyakarta. (Sukron)

Tinggalkan Komentar