YOGYAKARTA – Pada Senin sore, 25 Juli 2022, Achmad Munir (40) dengan kaos, sarung, dan peci lusuhnya mempersilakan masuk seorang pasien laki-laki di Omah Pijat Tradisional miliknya di Jl. Pedak Baru Nomor 1, Tegal Tanda, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kasur busa, bantal, dan minyak zaitun telah tersedia di salah satu ruangan.
Tak lama kemudian, pasien yang memang menjadi pelanggan tetap dalam setahun terakhir melepas kaos sambil menyampaikan keluhan bahwa badannya terasa capek-capek dan sakit pinggang. Lalu menengkurapkan diri di atas kasur sambil mengucap “bismillahirrahmanirrahim”.
Munir pun mengawali sesi pijat dengan membalurkan minyak zaitun pada kaki dan betis kliennya. Lalu mengurut dan memijat betis, paha, pinggang, punggung, leher, dan lengan hingga ujung-ujung jari. Berdasarkan keluhan klien, maka yang lama adalah di bagian pinggang.
Setelah kurang lebih 45 menit, si pasien keluar ruangan dan otot-ototnya tak lagi tegang. Sakit pinggangnya pun sedikit reda. Kemudian oleh Munir ia diberi minuman jahe hangat ditambah madu asli.
Begitulah pekerjaan pria kelahiran Jember 1982 yang akrab dipanggil Cak Munir. Bermodalkan keahlian pijat syaraf kejepit, keseleo, lelah, dan kretek bisa bermanfaat bagi banyak orang. Setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 19.00 bisa melayani 9 pasien dengan berbagai keluhan seperti keseleo bahkan patah tulang.
Omah Pijat Tradisional Cak Munir adalah hasil dari konsistensinya. Ia mulai menjalani sebagai tukang pijat panggilan pada tahun 2011. Pada tahun 2015 baru sewa kosan di dekat SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta untuk dijadikan sebagai tempat pijat. Dan kini, ia sewa 1 bangunan rumah yang tak jauh dari Perumahan Polri Gowok.
“Dari dulu saya gak pernah lamar kerja dan gak pernah ikut tes PNS. Hanya malang melintang di dunia usaha mulai dari jual roti bakar, kelapa muda, pisang, buka konter pulsa, dan sebagainya. Tapi ternyata yang paling cocok menjadi tukang pijat,” ujar Cak Munir yang merupakan alumni Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
“Sederhana dan mengena,” begitu pasien mengenalnya. Sosok yang sangat sederhana dan apa adanya, akan tetapi banyak pasien sembuh dengan pijatan dan urutnya. Mulai atlet, dosen, pejabat, pengusaha, politikus, hingga pasien dari luar daerah Yogyakarta.
“Alhamdulillah pelanggan selalu ada. Dengan upaya memberikan pijat dan urut yang baik serta mengena ternyata banyak yang cocok. Karena cocok mereka tak hanya pijat sekali. Banyak dari mereka datang lagi pijat ke sini,” katanya.
Cak Munir juga menjadikan omah pijat sebagai ladang rezeki. Dengan tarif untuk kretek, pijat keseleo, dan angin duduk Rp50.000, serta Rp70.000 untuk pijat lelah, bisa mencukupi segala kebutuhan keluarga. Mulai dari kebutuhan isi rumah, dapur, dan biaya pendidikan dua anaknya di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, salah satu sekolah rujukan nasional versi Kemdikbud.
Marsus yang merupakan pelanggan tetap usai dipijat mengaku lebih rileks. Lebih segar dan fresh. Bagian anggota tubuhnya tidak kaku dan seakan-akan tubuhnya kembali bugar. Jadi, lebih enak untuk menjalankan aktivitas keseharian.
Ia minta pijat hampir setiap bulan sekali, karena pijatan Cak Munir menurutnya bisa melemaskan otot sehingga fungsi kerjanya lebih maksimal. “Melancarkan sirkulasi edaran darah dan bisa menambah nafsu makan,” kata Marsus yang juga mengakui banyak merasakan manfaat lain setelah dipijat oleh Cak Munir. (Ilyasi)








