Panen Padi Sistem Bawon

Gotong royong menleser hasil panen padi menjadi gabah di halaman rumah Hj. Ngatirah, Ngipikrejo 1, Banjararum, Kalibawang, Minggu (15/6/2025). (Foto: Wiradesa)

PANEN padi dengan sistem bawon masih dilaksanakan oleh para petani di wilayah Kalibawang, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Cara panen ini mencerminkan budaya gotong royong, berbagi, dan jalinan kekerabatan yang rukun ala perdesaan.

Budaya gotong royong petani perdesaan, antara lain terlihat saat panen padi pada lahan milik Haji Suryono di Banjararum, Minggu 15 Juni 2025. Sejumlah buruh tani guyup rukun memotong padi, membawa hasil panennya ke rumah, dan bersama-sama merontokkan gabah.

Hajjah Ngatirah, istri Haji Suryono menyediakan makan minum di rumahnya, tempat untuk merontokkan gabah hasil panen. Ada pisang godog, geblek, tempe, dan teh nasgitel (panas legi kentel). Sebelum nleser (merontokan gabah dengan mesin) dimulai, para buruh tani wedangan dulu, sambil ngobrol tentang kehidupan di perdesaan.

Usai wedangan, Mas Kelik Sutoro menyiapkan armada tlesernya. Setelah motor diesel dinyalakan, Pak Wajiyo naik ke atas untuk memasukkan hasil panen padi ke dalam mesin tleser. Sedangkan Bu Sri, Bu Tumiyem, Bu Teplo, Pak Sukir mengangkat hasil panen padinya ke Pak Wajiyo.

Baca Juga:  DPRD Purbalingga Berikan Wawasan Fungsi dan Peran Dewan kepada Siswa SMPN 1

Proses selanjutnya, para buruh tani mewadahi hasil gabah yang mengalir dari mesin tleser sesuai dengan hasil potongnya. Sesuai dengan hasil kerja buruhnya, Bu Teplo mendapatkan 81 kilogram gabah, Bu Sri memperoleh 177 kg, Bu Tuminem 90 kg, Pak Judi 148 kg, dan Pak Sukir 93 kg.

Setelah hasil gabah, masing-masing buruh tani, ditimbang, selanjutnya Hajjah Ngatirah mbawoni atau menyerahkan jasa sesuai dengan kesepakatan. Pembagiannya buruh tani yang memanenkan padi mendapatkan bawon seperenam dari hasil panennya.

Berbagi

Hajjah Ngatirah membagi bawon dan bersodaqoh kepada para buruh tani yang membantunya. (Foto: Wiradesa)

“Bu Teplo mendapat 81 kilo untuk bawon 14 kilo, saya tambah 5 kilo insyaalloh 19 kilo, insyaalloh tak nggo sodaqoh ben karo tekan bapak simbokku,” ujar Hajjah Ngatirah saat merekap hasil panen dan pembagian bawon kepada para buruh tani yang semua tetangganya di Ngipikrejo.

Selanjutnya Bu Tumiyem mendapat 90 kilogram bawonnya 15 kg dan Hajjah Ngatirah menambah 5 kg sehingga bawonnya menjadi 20 kg. Ibu Sri memperoleh 177 kilogram bawonnya 29 kg dan ditambah sodaqoh 6 kg dan ibu ini membawa pulang 35 kg.

Baca Juga:  Ciri-ciri Suami Soleh

Pak Judi berhasil memanen 148 kilogram, hasil bawonnya 25 kg dan Bu Hajjah Ngatirah menyerahkan sodaqoh 5 kg, sehingga bapak ini membawa pulang 30 kg gabah. Pak Sukir menghasilkan 93 kilogram gabah, bawonnya 16 kg dan ditambah sodaqoh 5 kg jadi membawa pulang 21 kg gabah.

Hajjah Ngatirah, yang pensiunan guru SD ini menawarkan kepada para buruh tani yang membantunya, gabah hasil bawonnya mau dibawa pulang atau dijual. Kalau mau dijual, Hajjah Ngatirah membelinya dengan harga Rp 5.600 per satu kilogram gabah. Ada beberapa buruh yang ingin membawa pulang gabah dan sebagian ada yang menjualnya.

Bu Sri tidak menjual gabah hasil bawonnya, karena akan dipakai untuk winih atau bibit padi di sawahnya. “Gabahe mboten didol, arep tak nggo winih mawon,” kata Bu Sri sambil menggendong 35 kilogram gabah untuk dibawa pulang. Sedangkan Pak Sukir, hasil bawonnya dijual, karena akan dipakai untuk membayar pajak (PBB) yang semalam sudah ditagih (diingatkan) Pak Dukuh Ngipikrejo I Banjararum.

Baca Juga:  Perkuat Mesin Partai, DPW PKB Jawa Tengah Lakukan Monev Kepengurusan Partai Tingkat Kecamatan di Purbalingga

Panen padi di perdesaan kawasan perbukitan Menoreh, sepanjang Selokan Kalibawang, sangat kental dengan budaya gotong royong, berbagi, dan indahnya jalinan kekerabatan warga di alam perdesaan. Sayang jika budaya leluhur bangsa Indonesia ini tergerus oleh era atau zaman yang mengarah ke individualistik, materialistik, dan tidak saling mengenal antarwarga, padahal bertetangga. (Ono)

Tinggalkan Komentar