GUNUNGKIDUL – Para pemuda asal Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) yang belajar pertanian terpadu di Studio Tani Kalisuci Gunungkidul ingin menanam padi, budidaya ikan lele, dan berternak kambing di Siberut Selatan. Mereka akan berusaha menginspirasi masyarakat Mentawai untuk berusaha mandiri di bidang pangan.
Ketika ditemui Wiradesa.co di Studio Tani Kalisuci Dusun Tambakrejo, Kalurahan Semanu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, para pemuda Mentawai sedang memetakan persoalan di tanah kelahirannya. Sebagian masalah yang mengusik hati dan pikiran mereka, antara lain tidak adanya matapencaharian yang tetap, sulitnya mendapatkan pendidikan yang layak, dan masyarakat tidak mengenal bercocok tanam.
Tariq Abdurrohman, asal Madobag, Siberut Selatan, mengemukakan masyarakat Kepulauan Mentawai kebanyakan tidak mengenal pertanian. Umumnya mereka memenuhi kebutuhan pangannya dari sagu, mencari ikan, dan berburu binatang untuk lauk pauknya. “Setiap hari tidak ada kerja yang tetap, sehingga ekonominya gak jelas,” kata Tariq, saat kerja lapangan di Studio Tani Kalisuci, Senin 12 Desember 2022.
Sedangkan salah seorang pemuda yang juga berasal dari Madobag, Siberut Selatan, Ihsan Kaddad mengungkapkan warga Kepulauan Mentawai kurang mengenal pertanian, perikanan, dan peternakan. Mereka hanya mengandalkan dari hasil alam dan hutan. Warga tidak memiliki keterampilan bercocok tanam, tidak tahu cara budidaya ikan, dan tidak paham soal berternak kambing.
“Kami di sini mendapat pengetahuan soal bertanam padi, menanam sayuran, budidaya ikan, dan memelihara kambing,” ujar Ihsan. Dia bersama Tariq dan Muhamad Yakub dari Sali Guma, Siberut Tengah, Afrizal yang tinggal di Muntei, Siberut Selatan, serta Rafli Ahfahzu dan Dedi Eka Putra asal Muara Siberut, belajar pertanian terpadu di Studio Tani Kalisuci Gunungkidul. Dengan difasilitasi Yayasan Aksi Peduli Bangsa, para pemuda dari Mentawai ini akan belajar pertanian terpadu selama empat bulan, mulai 13 September 2022 sampai 15 Januari 2023.
Seusai menimba ilmu soal pertanian terpadu di Studi Tani Kalisuci, para pemuda Mentawai akan kembali ke Kepulauan Mentawai untuk melaksanakan atau menerapkan ilmunya di tanah kelahiran. Mereka akan menanam padi, budidaya lele, dan memelihara kambing. “Sebelum melaksanakan sendiri di desanya, para pemuda Mentawai akan dikumpulkan dulu untuk melakukan ujicoba di lahan yang sudah disediakan,” ujar Wiyono, pendiri Studio Tani Kalisuci.
Muhammad Yakub berharap dengan menanam padi, budidaya ikan lele, dan memelihara kambing, akan membantu memecahkan kesulitan ekonomi di Kabupaten Mentawai. Jika ekonominya maju, semoga pendidikannya juga semakin baik. “Sekolah di Mentawai itu susah, untuk SMP saja harus menempuh perjalanan yang jauh. Apalagi sekolah SMA,” kata Yakub.
Sedangkan Afrizal yang tinggal di Muntei, Siberut Selatan, mengungkapkan anak-anak Muntei yang ingin belajar di SMP atau SMA harus jalan satu hari, karena akses jalan sulit dilalui kendaraan. Makanya kebanyakan para pemuda Muntei hanya lulus SD dan kerjanya hanya nongkrong-nongkrong yang tidak jelas masa depannya.
Banyak anak muda Mentawai yang tidak memiliki pekerjaan. Mereka hidup sangat tergantung pada alam. Makan hasil hutan. Tidak mengerti tentang olah lahan, menanam, memelihara, dan memanen. Sehingga warga sepertinya tidak punya harapan.
Rafli Ahfahzu asal Muara Siberut mengemukakan masyarakat khususnya para pemuda Kabupaten Mentawai kurang beraktivitas. Mereka lebih banyak nongkrong.nongkrong yang tidak produktif. “Kami ingin merubah kebiasaan nongkrong menjadi kebiasaan menanam padi, budidaya ikan, dan berternak kambing,” tegas Rafli.
Masa depan Kabupaten Mentawai sangat tergantung pada anak-anak muda Mentawai. Para pemuda harus bergerak untuk membuka lapangan kerja, menginspirasi masyarakat untuk bercocok tanam, berbudidaya ikan, dan berternak kambing atau hewan ternak lainnya. Semoga peserta Pendidikan Vokasi Pemuda Mentawai dan Aksi Peduli Bangsa mampu menginspirasi masyarakat Mentawai untuk bangkit, bergerak, melakukan usaha pertanian terpadu untuk meraih kesejahteraan dan masa depan yang cerah di bumi Mentawai. (*)







