KULONPROGO – Ibu Wahyuli (47 tahun), seorang petani yang tinggal di Ngipikrejo I, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo, Senin Wage (12/1/2026) pukul 16.00, meninggal dunia akibat tersambar petir di area persawahan kalurahan setempat.
Kepala Dukuh Ngipikrejo 1, Purwadi, menjelaskan Senin sore Ibu Wahyuli ngarit atau mencari rumput di area persawahan selatan SMA Negeri 1 Kalibawang. “Dia mencari rumput di bawah pohon kelapa,” ujar Pak Dukuh.
Hari itu, cuaca di lereng Pegunungan Menoreh terlihat mendung sejak pagi hari. Kadang hujan rintik-rintik, lalu reda lagi. Namun pada sore hari, sejak pukul 14.00, kilatan petir mulai terlihat membelah langit Menoreh.
Tiba-tiba pada jam 4 sore, kilatan terlihat terang dan diikuti suara gludug yang memekakkan telinga. Dentuman gludug yang keras itu mengagetkan warga di Padukuhan Ngipikrejo dan sekitarnya. Beberapa warga memperkirakan ada sesuatu yang tersambar.
“Dengan suara gludug sekeras itu biasanya ada yang tersambar,” ujar Suryono, warga Ngipikrejo 2. Ternyata benar, kilatan dan suara petir yang mengagetkan warga itu menyambar pohon kelapa di area persawahan.
Ibu Wahyuli yang sedang mencari rumput di bawah pohon kelapa itu ikut tersambar. Sebagian badannya hangus terbakar. Ibu ini meninggal di tempat kejadian, masih memegang sabit dan rumput di tangannya, dengan sebagian rambut dan bajunya terlihat seperti terbakar.
Jasad korban keganasan petir, pertama kali diketahui oleh tetangganya yang sore itu juga ke sawah. Dia langsung lapor ke Pak Dukuh dan warga bersama tim medis dari puskesmas mengevakuasi jenazah untuk dibawa pulang ke rumahnya di Padukuhan Ngipikrejo 1.
Berdasarkan musyawarah antara keluarga dan para tetangga, diputuskan jenazah almarhumah Ibu Wahyuli dimakamkan pada Selasa Kliwon, 13 Januari 2026 pukul 10.00 di Makam Weru Ngipikrejo 1. Malam itu warga gotong royong mempersiapkan pemakaman, meja kursi, dan menaburkan sekam padi di jalan menuju rumah duka.
Rumah duka berada di bawah, sehingga para takziah atau para pelayat harus menuruni jalan setapak yang licin akibat hujan untuk menuju rumah duka. Agar tidak terpeleset, jalan ditaburi sekam padi.

Pada Selasa pagi, ratusan warga mendatangi rumah duka dan mendoakan almarhumah. Tampak hadir Bupati Kulonprogo Dr. HR. Agung Setyawan ST. MSc. MM. bersama jajarannya dari Pemerintah Kabupaten Kulonprogo. Bupati menguatkan keluarga agar ikhlas dan sabar.
Saat memberikan sambutan pemberangkatan jenazah, Lurah Banjararum, Warudi, memohonkan maaf jika almarhumah selama hidupnya ada kesalahan kepada para tetangga atau masyarakat. “Seperti yang Bapak Bupati katakan tadi, kita hidup ini hanya menjalani apa yang diinginkan Illahi. Pada saatnya kita akan kembali,” jelas Lurah Banjararum.
Setelah memenjatkan doa dan melafalkan Surah Al-Fatihah, jenazah almarhumah, seorang petani yang tekun mencari rumput untuk ternaknya, menanam padi di sawah, dan berikhtiar untuk kesejahteraan hidup keluarganya, diberangkatkan ke tempat peristirahatannya yang abadi.
Dengan rasa duka yang mendalam, hati ini seperti teriris-iris, merasakan kepedihan seorang petani. Petani itu pendapatannya kecil, bekerjanya berat, resikonya tinggi, tanpa dijamin asuransi, dan tidak ada akses informasi.
Contohnya Ibu Wahyuli, seorang petani yang setiap hari bekerja di sawah, menanam padi, mencari rumput, tak mengerti informasi dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), sampai tersambar petir dan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan, tetapi tidak ada yang menjaminnya. Siapa yang bertanggung jawab terhadap nasib petani di Indonesia? (*)







