Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓

Teliti Perkawinan Sapi Jaliteng, AdiTiya Warman Ungkap Potensi Peningkatan Produktivitas Sapi Bali

Foto: Istimewa

Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Temuan tersebut diungkap Adi Tiya Warman, mahasiswa Program Doktor Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, melalui disertasinya berjudul “Peningkatan Produktivitas Sapi Bali Melalui Perkawinan dengan Sapi Jaliteng di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat” yang dipertahankan dalam sidang ujian tertutup, Jumat (21/8).

Disertasi Adi tersebut di bawah bimbingan Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., Asean Eng (promotor), Prof. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., Asean Eng (ko promotor) dan Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., Asean Eng (ko promotor).

Dalam penelitian yang dilakukan di Lombok Tengah dan Jawa Timur, Adi membandingkan produktivitas sapi Bali dengan sapi hasil perkawinan sapi Bali dan Jaliteng melalui inseminasi buatan.

Hasil penelitian menunjukkan penggunaan semen Jaliteng pada induk sapi Bali menghasilkan conception rate (CR) sebesar 95,50 persen, lebih tinggi dibandingkan penggunaan semen sapi Bali sebesar 70 persen. Nilai service per conception juga lebih rendah pada kelompok yang menggunakan semen Jaliteng.

Baca Juga:  Pendapatan Pemancingan di Embung Potorono Mencapai Ratusan Juta Rupiah

Selain performa reproduksi, pedet hasil perkawinan Jaliteng × Bali memiliki sejumlah ukuran tubuh lebih besar dibandingkan pedet Bali murni. Saat sapih, panjang badan pedet Jaliteng × Bali mencapai rata-rata 88,15 cm, dibandingkan 82,59 cm pada pedet Bali.

Menariknya, hasil persilangan tersebut tetap mempertahankan sebagian besar karakter fenotipik khas sapi Bali, seperti warna kaus kaki putih, cermin pantat putih, dan garis punggung hitam.

“Sapi Jaliteng potensial menjadi pejantan alternatif dalam program pembibitan sapi Bali, terutama melalui pemanfaatan semen beku dalam program inseminasi buatan,”kata Adi.

Dengan hasil tersebut tetap diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat performa keturunan setelah lepas sapih hingga dewasa.

Seperti diketahui, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan sapi Bali dengan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan, dan menghasilkan keturunan yang kemudian dikenal sebagai sapi Jaliteng. Selanjutnya, semen beku dari pejantan Jaliteng dikembangkan untuk mendukung program inseminasi buatan.

Tinggalkan Komentar