LIMA belas menit waktu singkat, bisa terasa sangat lama kala kita menghadapi situasi menegangkan. Pernah kala naik perahu penyeberangan dari Pulau Panjang menuju dermaga Pantai Kartini Jepara, tiba-tiba ombak besar mengamuk.
Perahu atau kapal yang tadinya tenang, seketika oleng. Gerakan kapal makin tak menentu. Miring kanan, balik miring kiri. Berkali-kali. Dalam situasi itu juru mudi memberi aba-aba. Belasan penumpang diarahkan ke kiri kala perahu miring tajam ke kanan. Begitu sebaliknya. Terus mencoba merapat ke dermaga, eh gagal. Terhempas goyang ke tengah beberapa kali. Sebagian penumpang mulai panik.
Duduk di belakang, apa yang bisa saya perbuat. Dalam 15 menit yang terasa begitu lama. Sambil menenangkan diri, hati dan mulut komat-kamit mengucap sholawat. Sholallohu’ Ala Muhammad. Tak selang lama amuk ombak mereda. Kapal akhirnya bersandar. Para penumpang satu persatu turun. Ada yang kakinya gemetaran. Yang lainnya turun sambil bergumam baca istighfar.
Peran juru mudi yang kelihatan tenang dalam situasi ombak besar, bahkan sudah seperti mau menelan kapal, patut dipuji. Ia memberi instruksi yang logis. Agar kapal tetap stabil belasan penumpang diarahkan geser kanan kiri. Tangannya tetap mengambil kemudi mengarahkan kapal dengan tidak melawan arus ombak. Ketika kapal bergerak menurun juru mudi mengarahkan bagian depan kapal ke arah ombak yang mulai naik. Para penumpang juga layak dipuji. Berupaya membantu juru mudi sebisanya. Modal berat badan, geser kanan geser ke kiri, mengupayakan gerak kapal stabil.
Situasi ombak besar datangnya sukar terprediksi. Sebelumnya laut tenang, cuaca cerah bersahabat. Penumpang kapal wisata bercat kuning menikmati pemandangan laut Jawa bertolak dari Dermaga Pantai Kartini tiba di Pulau Panjang. Wisata jalan kaki mengitari pulau satu jam. Lepas tengah hari balik ke kapal dan menyeberang kembali ke dermaga asal. Mengobrol dengan juru mudi, biasanya ombak besar dan ganas terjadi pada Desember. Menyebabkan para nelayan dan perahu wisata bersandar tak berani melaut. Padahal saat itu baru September.
Dalam konteks berbeda, situasi tidak menentu dalam jagat bisnis dan ekonomi global membuat gelombang besar sampai ke berbagai kawasan. Banyak perusahaan terdampak. Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) makin sering terdengar. Belasan ribu calon tenaga kerja baru terancam menganggur lantaran sulit cari kerja. Dalam situasi seperti inilah, dibutuhkan ketenangan.
Dalam situasi krisis, ketenangan pikiran ala juru mudi kapal sangat diperlukan. Bagi Anda yang terdampak PHK, tetaplah tenang. Pantau terus situasi ombak. Langkah yang bisa dilakukan, misalnya melakukan journaling atau scripting. Tulis opsi-opsi yang bisa dilakukan guna menyambung hidup. Paksa otak bekerja mencari peluang-peluang yang masih mungkin dikerjakan dan mendatangkan cuan. Dalam suasana tenang, setitik terang dalam kegelapan akan lebih mudah kelihatan.
Ketika semua terasa mentok dan mandek, lakukan gerakan-gerakan kecil untuk memutar roda-roda kehidupan. Bersihkan rumah, jadikan rumah sebagai tempat ternyaman. Gerakkan kaki buat jalan pagi, hirup udara segar, nikmati hangat sinar matahari. Temukan inspirasi. Dalam keadaan ekonomi negeri yang gonjang-ganjing, abaikan kondisi di luar diri. Belajar pada masa pandemi Covid lalu. Beberapa pengusaha dan UMKM malah ketiban rezeki. Kisah Yu Payem, perajin serat alam asal Padukuhan Dhisil Salamrejo Sentolo Kulonprogo barangkali bisa menjadi inspirasi.
Banyak usaha kukud saat pandemi. Lockdown berminggu-minggu.Pada akhir 2020 kampung-kampung di Salamrejo ditutup. Gerbang kampung dipalang bambu. Agar warga luar tak bebas keluar masuk. Kekhawatiran para pendatang masuk membawa virus Covid memuncak. Untuk bisa ketemu orang luar harus sembunyi-sembunyi. Ketemuan pun di warung di luar kampung. Pulang menyelinap dari luar kota kalau ketahuan warga rumah langsung disemprot desinfektan.
Dalam situasi seperti itu, bisnis kerajinan serat alam Yu Payem justru melejit. Omzet usaha naik. Dari untung yang diraup, Yu Payem mampu membeli satu unit pick up Grand Max baru secara tunai. Di saat ekonomi lesu, Yu Payem terus berproduksi. Reseller baru berdatangan. Setelah ditelisik, ternyata pada saat lockdown banyak orang tinggal di rumah. Daripada tak punya kegiatan, mending menyibukkan diri. Rapi-rapi rumah. Termasuk dengan material homedekor berbahan anyaman pandan dan serat gedebok pisang bikinan Yu Payem.
Masih di Sentolo, Yudi seorang pengusaha tanaman hias naik omzet ratusan juta saat pandemi. Gara-gara banyak orang work form home (WFH). Berlimpah waktu luang, lantas memesan tanaman hias buat mengasrikan halaman. Pemilik Latar Asri Garden itu justru mencatat rekor fantastis penjualan tanaman hias saat pandemi. Sebulan pernah tembus Rp 250 juta!. Hanya dari jualan tanaman hias. Saat ekonomi lesu, Yu Payem dan Yudi justru beroleh berkah rezeki melimpah.
Dari dua kisah pelaku usaha di Sentolo, pelajaran yang dapat kita ambil adalah, saat banyak akses ditutup mereka melepas limitasi. Tak terpengaruh batasan yang membelenggu. Tetap tenang seperti juru mudi kapal. Dagangan tetap laris. Losdol. Lepas, jual.
Sukron Makmun tinggal di Salamrejo Sentolo.








