SLEMAN-Aneka jenis dedaunan disimpan Rahmi Ananta Widya Kristianti dengan rapi. Tersusun sedemikian rupa, diwadahi kertas koran lalu disimpan dalam kulkas.
Oleh Rahmi, daun afrika, insulin, daun body, daun lanang, daun kenikir, daun kalpataru, jarak kepyar, daun suren itu akan dijadikan bahan pewarna alami pada kain batik ecoprint.
Di rumahnya di kawasan Sidoarum Godean Sleman, tersimpan pula serbuk pewarna dari bahan kayu dan dedaunan. Serbuk mengkudu, secang, kayu mer, jolawe, kulit manggis, mangrove, tingi, serbuk kelor, kunyit, serbuk gambir, pinang, bidara, green tea, oak gail.
Rahmi, penyuluh kehutanan BKSDA Yogyakarta kemudian menerangkan proses mewarnai kain ecoprint. Dimulai dari proses skoring dengan tujuan menghilangkan lemak pada kain. “Pembersihan atau skoring bisa memakai sabun pencuci piring,” kata Rahmi, Minggu 26 Mei 2024.
Untuk mengikat pewarna alami, kain yang sudah bersih dimordan terlebih dulu. Bahan dasar mordan yang dipakai yakni tawas, tunjung, kapur. Bahan tambahan berupa soda kue, soda as, cuka.
Setelah kain jenis katun atau kain bemberg siap, kain dientas dari perendaman saat dimordan. Bagi Rahmi, kegiatan ecoprint awalnya menjadi sarana edukasi mengenalkan jenis pohon, mengenalkan tumbuhan. Dengan menempelkan daun ke kain ternyata bisa untuk menjadi semacam katalog pengenalan jenis tumbuhan khususnya kepada anak.

“Setelah daun ditata dan ditempelkan pada kain ecoprint, selanjutnya dilapisi plastik. Digulung dan diikat kuat pakai tali. Terakhir dikukus sekira dua jam. Kejutan saat membuka usai pengukusan. Apakah
pewarnaan sukses, menjadi selembar kain yang cantik? Ecoprint itu seni menata daun di atas kain,” imbuh Rahmi. (Sukron)








