Kolom  

Genteng Berlumut Pesanan Ahmad Tohari

Foto: Sukron Makmun/Wiradesa

BERAGAM pola datangnya rezeki. Cara rezeki datang pun terkadang unik. Ada yang sudah ditarget, terprediksi presisi, nyatanya zonk alias meleset. Pulang dengan tangan kosong.

Namun, ada pula rezeki yang tiba-tiba hadir begitu saja. Mak bedunduk. Definisi rezeki dalam konteks ini berupa materi, bisa duit, proyek pekerjaan atau sejenisnya. Tanpa menafikan rezeki dalam wujud lain berupa paling utama: nafas, kesehatan, pertemanan atau relasi yang solid, guyubnya persaudaraan, anak dan istri yang sholeh-solehah serta anugerah lain dalam kehidupan.

Pernah pada satu momen, saya didapuk sebagai moderator dalam acara bedah buku dan dialog budaya di Kebumen. Tampil sejumlah narasumber. Salah satu narasumber yang tampil sebagai pemateri yakni penulis sekaligus budayawan Ahmad Tohari. Penulis masterpiece trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, Jentera Bianglala.

Bisa duduk di depan sebagai moderator bersebelahan dengan Ahmad Tohari bagi saya sudah terhitung rezeki. Jujur saja, sebelum kenal langsung–beberapa kali bertamu ke kediamannya di Tinggarjaya Banyumas, saya banyak membaca tulisan lepas Ahmad Tohari. Tulisan-tulisan, esai, cerpen Ahmad Tohari di Suara Merdeka (Rubrik Pringgitan), Cerpen Kompas Minggu, saya lahap.

Di sela-sela bedah buku, Ahmad Tohari bisik-bisik ke telinga kiri saya. “Apa sampeyan bisa mencarikan genteng bekas? Tapi syaratnya genteng pres yang sudah berlumut, dan berasal dari satu rumah utuh,” ucapnya.

Baca Juga:  Model Diklat Jurnalistik Wiradesa

Mendapat pertanyaan tersebut, saya belum berani langsung menyanggupi. Lantaran belum ada gambaran. Rumah siapa yang bakal dipugar dan genteng bekasnya mau dijual. Mau cari ke pedagang, takutnya harga sudah mahal lagian siapa bisa jamin bila gentengnya berasal dari satu bangunan rumah.

Dasar memang sudah rezeki. Beberapa waktu berlalu, dapat info ada orang mau memugar rumah dan genteng bekasnya mau dijual. Utuh satu rumah, dan gentengnya pun sudah berlumut. Langsunglah tanya harga. Dan ternyata semua masuk kriteria pesanan Pak Tohari–sapaannya. Dari jenis, ukuran reng, kualitas fisik genteng juga harga. Semua masuk kriteria. Deal. Lanjut pengiriman dan pembayaran. Semua berjalan lancar. Sebagai perantara, saya dapat duit.

Begitulah. Rezeki berupa duit yang sama sekali tak terduga. Bermula dari sebuah forum bedah buku dan dialog budaya. Siapa yang menggerakkan hati Pak Tohari untuk memesan genteng. Kali itu jelas belum pernah sekalipun bercerita kalau saya punya usaha sampingan jualan genteng Sokka. Tentu semata atas skenario cantik Yang Maha Kuasa.

Soal pola rezeki, dari dulu mungkin malah tanpa pola. Sampai saat ini belum pernah sekalipun menulis surat lamaran kerja. Bila ditanya tetangga apa pekerjaannya, terkadang perlu berpikir sebelum menjawabnya. Bisa saja orang yang pernah saya wawancara tahunya sebagai wartawan. Lantaran beritanya terbit di media cetak/online. Bagi yang pernah beli genteng tahunya mungkin sebagai pedagang genteng. Bagi beberapa relasi yang pernah berurusan dengan penerbitan buku mungkin tahunya saya sebagai penulis buku.

Baca Juga:  Pola Pikir Bertumbuh Ujung Tombak Suksesnya Pembelajaran Mendalam

Menyoal urusan pekerjaan dan cara mencari duit, sekolah kehidupan lah yang mungkin lebih berperan. Pasalnya di sekolah formal tak satu pun mata pelajaran yang mengarahkan siswa pintar cari duit. Yang penting secara akademik lulus nilai bagus.

Kabar baiknya sebagian sekolah mulai menerapkan beberapa konsep pembelajaran yang melatih siswa melek urusan mencari duit. Hadir materi kewirausahaan, diikuti praktik siswa membikin produk, misal makanan olahan. Lalu sekolah bikin event bazar yang dihadiri orangtua dan masyarakat. Para siswa diminta buka stan dan para orangtua serta masyarakat sekitar bisa belanja. Beberapa sekolah sejak dini (PAUD) sudah mengagendakan kunjungan ke lokasi macam unit usaha batik, ternak domba dan lainnya.

Model pembelajaran yang sangat bagus sebab bisa memprogram alam bawah sadar anak-anak sejak dini bahwa cara orang mencari rezeki, mencari duit sangat beragam. Setidaknya dapat mengubah mindset lama: lulus sekolah, cari kerja, sebagai satu-satunya jalan mencari rezeki. Sekolah dan orangtua sangat berperan membentuk mentalitas anak agar mau berproses, menanamkan pola dalam mendapatkan sesuatu termasuk duit tidaklah instan. Orangtua juga turut berperan dalam membentuk karakter dasar: disiplin, sabar, konsisten, ulet, komitmen, fokus.

Ilmu rezeki, ilmu duit, ilmu kaya atau apa pun istilahnya memang tak secara khusus dibahas di sekolah, di kampus. Namun tak perlu khawatir. Asal mau mencari, di luar cukup banyak literatur buku, konten digital yang membahas hal itu. Jadi ingat, dulu kali pertama saya ketemu buku Think and Grow Rich-nya Napoleon Hill saat usia SMA, malah di rumah. Entah siapa yang membeli.

Baca Juga:  Kesadaran Hukum Pers, Pendamping Wartawan Bekerja

Yang perlu disadari, memberdayakan diri soal rezeki, mengasah skill mencari duit ada ilmunya. Dan ilmu terus berkembang. Pelajaran tentang Neuro Linguistik Program (NLP), Law of Atraction (LOA), ilmu vibrasi, sudah banyak buku yang membahas. Jika merasa kurang maksimal, jangan ragu beli kelas untuk lebih menguasai ilmunya.

Lebih dari itu, dan di atas semuanya, urusan rezeki sudah ada yang mengatur. Dalam Alquran Surat Hud Ayat 6 disampaikan: Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfudz).

Nyambung dengan ayat tersebut, karena memang sudah menjadi jatah rezeki, maka mencari genteng bekas berlumut dan harus berasal dari satu rumah untuk rumah tradisional Banyumas milik Pak Tohari jadi begitu mudahnya. Juga tak butuh waktu lama.


Sukron Makmun, perangkai kata di wiradesa.co

Tinggalkan Komentar