Joglo Padepokan Kilen Lepen, Wahana Belajar Kerajinan Dilengkapi Kafe dan Resto

Edi Cahyono owner Joglo Padepokan Kilen Lepen, Padukuhan Karangwetan Salamrejo, Sentolo. (Foto: Wiradesa)

KULONPROGO – Impian memiliki rumah di pedesaan yang bernuansa tradisional, multifungsi sebagai tempat nyaman buat beristirahat, tinggal sehari-hari sekaligus berfungsi sebagai wahana pembelajaran berhasil diwujudkan Edi Cahyono. Mewujudkan impian tersebut bagi Edi, sosok kelahiran Yogya dan lama merantau di Ibukota, diakuinya tak mudah.

“Upaya mencari lokasi hingga dapat yang sreg ternyata tak mudah. Mencari lewat browsing di internet, keliling mencari di sekitar Yogya dengan kriteria dekat kali berpemandangan bagus bila memungkinkan lokasi ada di ketinggian,” papar Edi Cahyono kepada wiradesa.co di area joglo miliknya di Padukuhan Karangwetan, Salamrejo, Sentolo.

Selain satu unit joglo di area yang ia namai Padepokan Kilen Lepen, Edi membangun rumah limasan, musala, kafe dan resto kecil di atas lahan seluas 1500 meter di pinggir Kali Progo. Di sekitar empat bangunan utama itu ia memanfaatkan sisa lahan buat berkebun sayuran dan buah mangga tabulampot, menanam pohon perindang, talok, dan jambu mete, srikaya, jeruk, apukat, anggur brazil. Di ujung timur dari utara ke selatan dibatasi dengan kolam ikan, dihuni tebaran ratusan nila dan gurami. Halaman joglo dipaving agar sewaktu-waktu dipakai menggelar acara atau sekadar parkir kendaraan tak merepotkan.

Baca Juga:  Bank Sampah Menur'45 Bagikan Tanda Kasih Minyak Goreng dan Sabun Cuci Piring

“Rumah joglo, bangunan limasan, dan area ini memang menjadi obsesi sejak lama dan baru terwujud mulai awal 2020. Harapannya bisa multifungsi. Di samping untuk tinggal juga untuk tempat pembelajaran, kafe dan resto. Makanya kenapa kemudian dinamai padepokan tak lain agar bisa dimanfaatkan sebagai wahana belajar,” ungkap Edi yang memutuskan tinggal di desa usai pensiun dini sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di jajaran Kementerian BUMN.

Suasana Padepokan Kilen Lepen diambil foto lewat drone. (Foto: Istimewa)

Di Padepokan Kilen Lepen, Edi menunjukkan sejumlah koleksi peralatan lukis, kuas, cat minyak, kertas dan kanvas di teras limasan. Tersedia pula alat gosok batu, gerenda buat potong batu, beserta berbagai alat pertukangan dan alat produksi kerajinan, bor, gergaji.

“Entah kebetulan atau bagaimana, yang jelas Gusti Alloh sudah mengatur. Sejak di Jakarta dulu sudah beli alat pertukangan dan dikumpulkan.Bila butuh tinggal pakai. Sekarang dikaruniai tempat yang cukup buat menyimpan sehingga ditempatkan di sini. Sekarang sudah mulai bikin mainan edukatif anak wood puzzle, semacam media permainan asah otak,” ujarnya.

Baca Juga:  Kayu Pinus Cocok untuk Pembuatan Perabot Kafe
Joglo Padepokan Kilen Lepen dikelilingi pepohonan rindang menghijau. (Foto: Wiradesa)

Menurut Edi, Padepokan Kilen Lepen yang ia bangun dirasakan masih jauh dari angan-angan. Meski begitu, ia mengaku puas lantaran bisa mengatur segala sesuatunya sendiri. “Ada kepuasan batin. Karena mengatur segala sesuatunya sendiri, kalau mau jadi sesuai harapan sudah tentu harus tertib sendiri,” imbuh Edi sembari mengatakan resto dan kafe di tempatnya menyuguhkan menu utama mangut lele dan ayam kampung goreng.

Ditambahkan Edi, joglonya telah beberapa kali dipakai buat kegiatan seperti polisi mengajar, mocopatan, upacara ngunduh mantu warga, hingga acara karang taruna. (Sukron)

Tinggalkan Komentar