PAGI di lereng Gunung Muria nampak berkabut. Dingin pegunungan membuat badan ingin meringkuk lebih lama di tempat tidur. Di desa yang rimbun oleh berbagai macam tanaman pangan ini, berbagai burung dan kumbang bernyanyi riang bersahut-sahutan, menjadikan alunan musik pengiring bagi terbukanya mata.
Waktu pada telepon seluler menunjukkan pukul 06.30. Udara sejuk pegunungan menelusup ke dalam ruangan. Tiap-tiap dapur rumah tampak mengepul dari kejauhan, sibuk menyiapkan sarapan sebagai bekal aktivitas seharian.
Saat ini saya berada di Desa Japan, tak jauh dari wilayah makam Sunan Muria, tempat peziarahan yang selalu ramai pengunjung sepanjang tahun. Masuk dalam Kecamatan Dawe, desa yang berada di lereng Gunung Muria sebelah selatan ini secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Kudus, kurang lebih 21 km dari alun-alun kota.
Di daerah ini, udara senantiasa sejuk meski di siang hari sekalipun karena berada pada ketinggian 900 mdpl. Didukung oleh faktor geografis tersebut, kebanyakan warga desa Japan berprofesi sebagai petani, khususnya petani kopi. Saya datang khusus ke desa ini untuk belajar mengenai kopi, kopi yang masih misterius, kopi Japan. Biar bisa menikmati secuil rasa Muria.
Sebelum berangkat, saya sudah diwanti-wanti untuk tidak menginap di penginapan. Lebih baik menginap saja di rumah salah satu petani muda desa agar lebih merasakan suasana desa. Saya mengiyakan saja. Begitu datang, saya sudah disambut oleh sekelompok pemuda pegiat Pokdarwis yang sedang rapat perihal penerimaan wisatawan luar negeri yang akan datang tak berapa lama lagi.
Desa Japan memang sedang berbenah setelah mendapat pengakuan sebagai desa wisata dari kabupaten beberapa bulan lalu. Perbincangan seputar manajemen pemandu wisata mengalir dengan hangat dan penuh semangat.
Malam semakin larut, obrolan masih terus bersambung. Kami pun beranjak ke destinasi berikutnya, yaitu ke tempat berkumpulnya para petani kopi. Topik perbincangan bergeser dari desa wisata menjadi soal seluk beluk budidaya kopi.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Didorong rasa capek setelah menempuh perjalanan dari Jogja dengan sepeda motor ditambah dengan udara malam yang semakin dingin, saya undur diri untuk beristirahat. (Greg Sindana)







