Kopi Japan (2): Mutiara Hitam Tersembunyi

Ada Mutiara hitam tersembunyi di lereng gunung wilayah Kudus. (Foto: Wiradesa)

PAGI ini, saya dijanjikan untuk bisa turut serta memanen kopi di kebun kopi milik salah satu petani kopi. Setelah sarapan di rumah warga dengan menu olahan dari kebun dan kolam sendiri, pukul 09.00 tepat kami beranjak menuju kebun kopi yang berada di lereng atas desa. Masyarakat di desa ini tidak terlalu terburu-buru untuk pergi ke kebun mereka. Jika kepagian, kita hanya akan menjumpai area kebun yang masih gelap, basah, dan berkabut.

Selama ini mungkin orang lebih mengenal citarasa kopi Muria dari Jolong, Pati dan Tempur, Jepara. Namun nyatanya, masih ada mutiara hitam tersembunyi yang siap dikuak di lereng gunung di wilayah Kudus ini.

Muhammad Habib Yahya, biasa dipanggil Habib, adalah salah satu petani kopi yang juga berprofesi sebagai guru sejarah di salah satu lembaga pendidikan setingkat SMA di Kota Kudus. Ia bercerita, sekitar tahun 1930an, Belanda membangun perkebunan dan pabrik kopi Jolong di sisi timur Pegunungan Muria. Saat ini, Jolong termasuk dalam wilayah Kabupaten Pati dan perkebunan kopi tersebut tergabung dalam BUMN PTPN (PT. Perkebunan Nusantara).

Baca Juga:  Kopi Japan (3): Berjenis Robusta Ada Rasa Coklat

Masih menurut Habib, konon pada masa itu banyak masyarakat Japan yang setiap pekan hilir mudik bekerja di perkebunan Jolong tersebut. Para pekerja dari Japan ini berinisiatif untuk dapat turut serta menanam kopi dari Jolong, namun dilarang oleh Belanda.

Biji kopi dari Jolong ini pun lalu ditanam diam-diam oleh masyarakat Japan di daerah pegunungan yang jauh dari pemukiman warga agar tidak terdeteksi oleh Belanda. Hal inilah yang menyebabkan kopi yang dikembangkan masyarakat Japan berada di lereng-lereng pegunungan yang jauh dari pemukiman dan memiliki akses yang sulit dan terjal.

Tentang sulitnya akses menuju kebun kopi ini sudah saya buktikan sendiri selama perjalanan. Jalanan menuju kebun kopi memang seolah tersembunyi, sangat curam, serasa hampir vertikal dan berkelok-kelok. Sepertinya tak ada pendatang baru yang berani naik motor ke daerah ini. Mungkin hanya warga desa Japan saja yang berani memacu motornya di jalanan berliku nan terjal ini. Saya pun hanya membonceng saja sembari sibuk mengelola adrenalin.

Baca Juga:  Pemuda Desa menjadi Petani Modern, Kenapa tidak?

Proses memetik kopi ternyata juga tidak mudah dan harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Pohon-pohon kopi ditanam di lereng dengan kemiringan yang tajam. Bahkan di beberapa titik, lahannya sangat sempit. Salah melangkah sedikit saja dapat berakibat fatal, langsung tergelincir ke dalam jurang yang menurut warga masih menjadi sarang macan Muria.

“Jangan hanya petik kopi yang merah saja, petik juga yang hijau,” kata Nurul ketika saya hendak memetik buah kopi. Nurul Hidayatul Husna atau yang akrab disapa Nurul ini adalah petani kopi sekaligus tokoh pemuda penggerak desa Japan.

Kopi merah dan hijau tetap dipetik. (Foto: Wiradesa)

Ia menjelaskan bahwa petik asalan atau cabutan ini “terpaksa” dilakukan warga selain karena sekarang adalah masa terakhir panen, juga karena petik merah atau proses panen yang hanya memilih buah merah yang matang saja belum menemukan pasarnya. Meskipun petik merah ideal dilakukan agar mendapat kualitas kopi yang terbaik, namun karena belum ada permintaan dari pasar maka selama ini petani enggan melakukannya.

Tengkulak yang membeli kopi dari petani juga tidak memilah antara yang merah dan hijau karena yang diukur adalah berat per kilogramnya saja. Para petani kopi di Desa Japan memang tak bisa menjual langsung ke pabrik karena kecenderungan pabrik yang tidak mau melakukan pembelian kopi dalam jumlah kecil. Maka yang berfungsi sebagai pengumpul adalah para tengkulak.

Baca Juga:  Lomba K3 Desa Tanggulangin, RT 02/RW 04 Dusun Tuaburu Sabet Juara 1

Saat ini harga green bean kopi per kilo dihargai oleh tengkulak sekitar 28 ribu rupiah. Kopi yang tidak di-grading oleh tengkulak menyebabkan belum tersortirnya kualitas kopi Japan. Hal ini patut disayangkan karena hal ini turut menjadi faktor belum dikenalnya karakter kopi Japan yang asli. (Greg Sindana)

Tinggalkan Komentar