Layani Pesanan Bukber di Masjid, Kupat Tahu dan Soto Semarang Pak Slamet Ragil Diskon 30 Persen

Slamet Ragil, tampil rapi salah satu doktrin sales. (Foto: Wiradesa).

MAGELANG-Ingin berbuka puasa dengan menu tradisional, dapat mencoba berbagai menu andalan di warung kupat tahu Magelang dan soto Semarang Pak Slamet Ragil. Warungnya ada di Blabak Magelang.

Untuk mengembalikan energi dan mengobati rasa haus seharian puasa, wiradesa.co memesan minuman wedang tape khas Muntilan tambah sedikit es. Tape yang tak terlalu banyak sangat cocok, ditambah susu kental manis, klop. Wedang tapenya segar, rasanya manis berenergi.

Pemilik warung kupat tahu, Slamet Riyanto atau akrab disapa Slamet Ragil menuturkan, awal Ramadan warungnya sempat tutup seminggu. Kesempatan libur seminggu digunakan untuk rapi-rapi dan menata tempat.

Kebiasaan mau Lebaran, katanya, pasti menata tempat. Mengecat tembok, bersih-bersih. “Kemarin itu memasang kanopi depan agar parkir motor tak kena air hujan. Sekalian setting banner ganti baru. Menyambut Lebaran harus fresh. Jangan biasa-biasa saja. Kalau tampil biasa-biasa saja rezekinya juga biasa-biasa saja,” terang Slamet, Minggu 1 Maret 2026 petang.

Baca Juga:  Tanam Pisang Cavendish, Sembilan Bulan Panen

Slamet menuturkan, di warungnya kini tersedia 32 menu. Dan semua menu telah bersertifikat halal. Termasuk bumbu inti soto Semarang, tahu gimbal dan kupat tahu.

“Untuk brand soto Semarang Pak Slamet bahkan sudah dipatenkan. Jadi bagi yang ingin bermitra tak perlu ragu,” imbuh Slamet yang sudah 20 tahun menjalankan bisnis kuliner kupat tahu Magelang.

Baru buka tiga hari di Ramadan 1447H, Slamet menuturkan, buka warung di Bulan Ramadan pasti sepi. Umumnya kaum muslim berpuasa. Segmen pembeli hanya kalangan musafir dan kalangan nonmuslim. Pesanan juga datang dari acara buka puasa bersama warga di masjid-masjid. Hanya saja khusus acara bukber di masjid harga soto sama kupat tahu didiskon khusus 30 persen. Biasanya seporsi Rp 12.000 jadi Rp 10.000. “Ramadan kan bulan penuh ampunan. Yang penting sambil mencari berkah,” jelasnya.

Diperkirakan, warung mulai ramai saat mulai mudik Lebaran. Banyak orang lalu lalang dalam perjalanan pulang kampung dari dan menuju berbagai kota.

“Lebaran hari pertama libur. Baru buka pada Lebaran hari kedua versi pemerintah. Karena paling sepuh, hari pertama Lebaran salat Id, ujung, menerima tamu,” kata Slamet yang tinggal di Dusun Sirad, Desa Mungkid, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Baca Juga:  PIMNAS Ke-33 Diikuti 625 Tim Mahasiswa

Sebagai pengusaha kuliner, Slamet yang kini berusia 67 tahun mengaku telah banyak mengalami berbagai situasi bisnis. Omzet menurun saat musim pandemi lalu dan tahun ini belum terlalu kelihatan peningkatan laju usahanya, disikapi dengan biasa saja.

“Menghadapi penurunan omzet sebagai pengusaha kuliner harus konsisten. Warung jangan sampai buka tutup. Triknya tetap sabar. Kalau toh hari ini jualan sepi besok tetap buka, tetap jualan. Jumlah porsi bisa dikurangi. Biar pun hasilnya bak buk, BEP tak masalah,” ujarnya.

Trik lain, konsistensi dalam hal rasa juga mesti diperhatikan. Dalam hal bumbu inti buat masakannya tak pernah berubah. Rempah-rempah bumbu pawon sebanyak 13 macam. Ada jahe, serai, salam, laos, daun jeruk dan lainnya. “Soal rasa yang dijaga di bumbu inti tak pernah berubah. Baik komposisi maupun takaran. Agar takaran tepat bumbu inti sudah ditimbang,” kata Slamet yang kini punya 186 warung mitra cabang di berbagai kota di wilayah Indonesia.

Kiat Slamet berikutnya konsisten dalam menjaga personal branding. Konsisten menjaga penampilan. Topi dan kostum khas, terkadang juga berdasi. Soal penampilan rapi, dia menyebut hal itu sebagai salah satu doktrin seorang sales. Doktrin seorang sales selain penampilan rapi juga harus bisa meyakinkan orang.

Baca Juga:  DK PWI Ingatkan Wartawan Taati Kode Etik untuk Hasilkan Jurnalisme Berkualitas

“Dalam memberi pelayanan, kondisi apa pun harus perform. Biar sudah sepuh tapi penampilan harus rapi,” imbuh Slamet. (Sukron)

Tinggalkan Komentar