KLATEN – Warga Desa Kwaren, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Minggu 21 Agustus 2022, menggelar kirab bertema “Kwaren Bangkit, 100% Merdeka”. Arak-arakan menyambut HUT ke-77 Kemerdekaan RI itu juga dimanfaatkan untuk kampanye peduli lingkungan, krisis iklim.
Panitia Event Kemerdekaan yang dibantu mahasiswa KKN 108 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyadari krisis iklim yang kian parah mendera seluruh lapisan masyarakat dunia sampai hari ini. Apalagi ditambah dengan wabah Covid-19. “Pada kirab 17-an, kami mengkampanyekan untuk melawan krisis iklim,” tegas Aisyah Wahyu.
Krisis iklim juga melanda wilayah Kabupaten Klaten. Di wilayah Klaten sendiri setiap tahunnya tidak kurang dua bencana dirasakan masyarakat karena krisis iklim. Setidaknya, ada 4 kecamatan di Klaten yang rentan terhadap kekeringan dan banjir, yakni Kecamatan Bayat, Cawas, Kemalang, dan Juwiring.
Oleh karenanya kirab bertema “Kwaren Bangkit, 100% Merdeka” menjadi upaya melawan krisis iklim dan menjadi acara inti dalam rangkaian kegiatan warga desa Kwaren pada hari Minggu 21 Agustus 2022.
“Kwaren bangkit adalah upaya warga, solidaritas warga untuk pulih kembali hidup seperti sedia kala seperti sebelum terkena korona,” ungkap Aisyah Wahyu ketika dihubungi dalam event kirab di lapangan “Sor Sawo”, Kwaren.
Sementara, “100% Merdeka” adalah upaya mengingatkan dalam hingar bingar kegembiraan memperingati kemerdekaan yang ke-77. Kita juga perlu menyadari tentang “merdeka” yang seutuhnya. Karena ternyata kita masih dibelenggu oleh krisis iklim.
Kirab ini diikuti setidaknya lebih dari 650 warga Kwaren yang melakukan longmarch dengan jarak 3 km. Terbagi menjadi 6 RT (kelompok) yang menampilkan maskot hasil kreativitas dari bahan organik dan bahan bekas dilengkapi poster kampanye untuk senantiasa menjaga kelestarian bumi.

Perwakilan setiap RT diberikan kesempatan untuk mempresentasikan maskot dalam tiga aspek penilaian: bahan, filosofi, dan besar anggaran yang diperlukan dalam pembuatan maskot. Sebelumnya, seluruh anggota RT menampilkan pementasan yel-yel dan gerak tari.
Wardoyo, salah satu warga peserta kirab, mengungkapkan bahwa filosofi maskot yang dibawakan oleh RT-nya adalah lebah yang seluruhnya terbuat dari bahan bekas seperti galon, plastik, dan botol. Menurutnya, lebah adalah bentuk keikhlasan untuk selalu berbuat baik dan simbol gotong royong.
Selain kirab, acara juga digenapi dengan udar karya lukis anak-anak yang mencoba mengkampanyekan krisis iklim dalam media kain seluas dua meter persegi. Dan anak-anak juga diajak menanam pohon konservasi air dengan dipimpin secara simbolik oleh Budi Santosa selaku Sekdes Kwaren.
Terkait dengan poster kampanye yang dibawa oleh para warga, Arief selaku Juri juga pendamping desa berharap bahwa aspirasi masyarakat terkait perlunya TPS dapat dimasukkan dalam penganggaran Dana Desa Kwaren.
Surya Kusuma, selaku ketua pemuda Kwaren mengungkapkan bahwa kirab ini selain menghimbau sadar krisis juga secara kongkrit mengajak masyarakat memanfaatkan bahan bekas terutama plastik yang ada di sekitar untuk dimanfaatkan kembali menjadi maskot ataupun pernak-pernik.
“Harapannya, ketika sebuah gerakan dilaksanakan dengan riang gembira seperti kirab ini dapat memantik kesadaran dan laku kongkrit yang signifikan dan berkelanjutan oleh masyarakat,” pungkas Surya.
Acara kirab ditutup dengan pembagian doorprize dan pementasan seni dangdut. Adapun pengumuman pemenang dalam kirab ini akan dilaksanakan pada Jumat 26 Agustus 2022. (Ilyas Syatori)








