Minyak Goreng Langka Harga Komoditas Pangan Naik

Ketua PHRI Tulungagung Nur Wakhidun (Foto: Koran Memo)

TULUNGAGUNG – Menjelang Ramadan 1443 Hijriyah, masyarakat, khususnya pengusaha kuliner di Tulungagung Jawa Timur ‘menjerit’ dengan langkanya minyak goreng di pasaran. Apalagi ditambah dengan naiknya harga komoditas pangan, seperti cabai, telur, daging ayam, bawang merah dan bawang putih, serta tepung. Tambah pusing dengan juga naiknya harga LPG non subsidi.

Kenaikan harga LPG 12 kilogram dan langkanya minyak goreng membuat pengusaha kuliner di Kabupaten Tulungagung resah. Kondisi tersebut memaksa pengusaha kuliner untuk mengurangi laba demi tetap menjaga kualitas untuk memuaskan pelanggan, lantaran minyak goreng langka dan LPG non subsidi naik.

Dalam sebulan terakhir, kenaikan harga LPG non subsidi memang sudah terjadi sebanyak dua kali. Begitu juga dengan minyak goreng yang langka di pasaran. Ketua Perkumpulan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Tulungagung, Nur Wakhidun mengatakan, dalam sebulan terakhir, kenaikan harga LPG non subsidi terjadi sebanyak dua kali.

Bahkan kenaikan harga tersebut terjadi cukup signifikan. Itu karena dari yang semula LPG non subsidi 12 kilogram seharga Rp 150 ribu, meningkat menjadi Rp 200 ribu per tabung. Hal itu membuat pihaknya terpaksa harus mengatur ulang dalam penggunaan LPG tersebut. “Sehari saya bisa menghabiskan 3 ampai 4 tabung gas ukuran 12 kilogram,” kata Nur Wakhidun, Rabu 9 Maret 2022.

Baca Juga:  Lomba Masak Olahan Berbahan Dasar Talas, Ciptakan Pangan Desa yang Unik

Akibat permasalahan tersebut, jelas Nur Wakhidun, pihaknya tentu tidak bisa berbuat banyak. Apalagi sampai harus melakukan langkah seperti pengusaha tahu tempe dengan mengurangi porsi menu makanan yang dia jual.

Itu karena langkah tersebut justru akan membuat usahanya mendapat nilai buruk oleh pelanggannya. Jika mengurangi porsi, justru akan berpotensi kehilangan pelanggan yang mana hal itu merupakan kerugian terbesar.

Dibanding harus melakukan langkah itu, dia memilih untuk mengurangi laba dari penjualan di restorannya. “Menaikkan harga pun juga tidak mungkin. Jalan satu-satunya jelas mengurangi laba sampai dengan 10 persen,” jelasnya.

Kondisi tersebut justru semakin diperparah dengan naiknya harga komoditi lain seperti cabai, telur, daging ayam, bawang merah atau putih, tepung dan lain sebagainya.

Mengingat menjelang bulan Ramadan, kenaikan harga komoditi tersebut memang tidak bisa terelakkan. Bahkan dengan langkanya stok minyak goreng di pasaran, justru menjadi pelengkap terhadap masa sulit yang sedang dialaminya.

Nur Wakhidun melanjutkan, untuk minyak goreng sendiri sebenarnya masih bisa didapat dengan harga murah namun kualitas yang tidak sebagus minyak goreng premium yang sedang langka.

Baca Juga:  Bulan Puasa Belum Datang, Harga Bahan Pangan Merambat Naik

Hal itu tentu berdampak pada biaya produksi, lantaran minyak goreng murah tersebut justru cenderung mudah rusak. “Kalau minyak goreng berkualitas itu bisa digunakan sampai 4 kali penggorengan, sedangkan minyak goreng murah ini cuma dua kali. Otomatis biaya produksi juga meningkat,” ujarnya.

Kendati permasalahan ini diprediksi akan semakin parah pada saat bulan Ramadan nanti, Wakhidun mengaku tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi permasalahan ini.

Dia hanya bisa berharap agar pemerintah bisa berperan aktif secara langsung dalam mengendalikan harga kebutuhan pokok seperti sembako hingga produk lainnya di pasaran. Sehingga pengusaha kuliner di Tulungagung bisa tetap survive hingga memasuki bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Mengingat pada bulan-bulan tersebut, merupakan event yang paling dinanti oleh pengusaha kuliner di Tulungagung. “Semoga pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi permasalahan ini,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Komentar