Pemaparan Amir Machmud tentang Pers Inspiratif

 Pemaparan Amir Machmud tentang Pers Inspiratif

Amir Machmud NS (Foto: Istimewa)

Pada FGD Pers di Semarang, Senin 7 Maret 2022, wartawan senior Amir Machmud NS melontarkan gagasan Pers Inspiratif untuk mewujudkan ekosistem industri pers di Jawa Tengah. Pengelola media harus menggabungkan kebajikan dari unsur-unsur positif sistem pers yang berlaku untuk kemaslahatan bersama.

Ketua PWI Jateng ini mengemukakan media itu bermata dua. Nyala berita seperti api. Bisa menerangi, tetapi juga bisa membakar. Media ada potensi sebagai Nur, tetapi juga bisa menjadi Nar. “Media bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa menjerumuskan ke neraka,” sitir wartawan yang juga sastrawan ini.

Sudah selayaknya, media di Jawa Tengah, menjadi cahaya dan mencerahkan masyarakat. Menjadi panduan masyarakat untuk menemukan titik terang. Setelah memperoleh cahaya sinar terang, dipersilahkan masyarakat menentukan jalannya sendiri sesuai dengan keinginan dan cita-citanya dalam menapaki kehidupannya.

Kemaslahatan bersama menjadi titik penting bagi insan pers untuk merealisasikan pers inspiratif. Fungsi Pers, sesuai UU 40 Tahun 1999 tentang Pers yakni memberi informasi, memberi pendidikan, memberi hiburan, dan menjalankan kontrol sosial. Fungsi ini merupakan “gabungan kebajikan” dari unsur-unsur positif sistem pers yang berlaku.

Gabungan Kebajikan

Menurut Amir Machmud, “Gabungan kebajikan” itu menunjukkan wartawan dan media tidak hanya melayani kepentingan pihak-pihak tertentu, melainkan untuk siapa pun tanpa kecuali, apabila pelayanan itu bertujuan menuju sebesar-besarnya kemaslahatan bersama.

“Apabila kita menyimak Kode Etik Jurnalistik sebagai “jalan” berjurnalistik dan bermedia atas nama etika substantif, etika operasional, dan konsep terkini etika kewartawanan, kebajikan-kebajikan itu akan terpancar dari konsistensi disiplin pelaksanaan pasal-pasalnya,” papar Amir.

Pelayanan informasi tentang kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan untuk kesejahteraan merupakan wujud pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik. Misalnya tentang akurasi, faktual, berimbang, non-partisan, imparsial, menjauhi pemberitaan bertendensi Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA), memproteksi anak-anak, perempuan, difabel, serta melindungi masyarakat melalui hak-hak mengontrol profesionalitas media.

Baca Juga:  Kemakmuran dan Keadilan Muara Ekosistem Industri Pers di Jawa Tengah

Penulis beberapa buku jurnalistik ini melontarkan statemen “Media jangan hanya memberitakan klaim-klaim keberhasilan penguasa, tetapi sampaikan pulalah kekurangan mereka”. Juga “Media jangan hanya menyajikan tudingan-tudingan tentang kekurangan penguasa, tetapi sampaikan pula capaian-capaian mereka”.

Ada sejumlah renungan yang perlu dijawab insan pers: Seperti apa sesungguhnya dinamika independensi media pada era sekarang? Seperti apa penerapan nalar kritis media? Memberitakan atau tidak memberitakan sebuah isu atau pernyataan pembentukan opini publik? Seperti apa seharusnya keberpihakan media?

Sejarah pers di Indonesia penuh dinamika. Dari era otoritarian ke era keterbukaan. Dari atmosfer monolog ke atmosfer inspirasi (mendengar, menyerap, dan menyajikan banyak suara). Dari kepentingan “stabilitas” ke maslahat “pengayaan dialog”.

Apakah Pers Inspiratif termaknai sebagai Pers Pembangunan? Pers Inspiratif mendorong karya-karya anak bangsa. Mengetengahkan hero-hero di berbagai bidang kehidupan. Menciptakan atmosfer keteladanan. Mem-framing inspirasi dari prestasi-prestasi. Menjembatani pencerahan sintesis dari pergulatan tesis dan antitesis, sebagai kompromi dari dialog-dialog ide atau aspirasi.

Kemaslahatan Bersama

Amir Machmud, mengajak para pengelola media untuk memperkuat tema-tema keberpihakan kepada kemaslahatan bersama dengan penajaman spesialisasi. Misalnya: Pers ramah pariwisata. Pers antikorupsi. Pers berperspektif gender. Pers ramah anak. Pers ramah disabilitas. Pers berperspektif lingkungan, dan lainnya.

Memilih sikap untuk menyediakan ruang bagi sebuah pergulatan isu publik, apakah kejadian atau peristiwanya, atau statemen-statemen dari tokoh atau kelompok. Memilih sikap untuk tidak memberi ruang bagi sebuah pergulatan isu publik, apakah kejadian atau peristiwanya, atau statemen-statemen dari tokoh atau kelompok.

Pemimpin Umum Suarabaru.id ini mendorong media menyajikan inspirasi-inspirasi, untuk secara konsisten membangkitkan kesadaran MERAIH CITA-CITA BERSAMA menuju kesejahteraan dan kemaslahatan bersama. Pada diskusi kemarin muncul komitmen untuk kemakmuran dan keadilan masyarakat dimana media berada. (Ono)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: