SETIAP proses perubahan selalu ada tokoh penggeraknya. Biasanya orang seperti ini berpikir dan bertindak di luar kebiasaan. Sehingga sering disebut Wong Edan, legan golek momongan, dan awalnya banyak ditentang serta dimusuhi banyak orang.
Anggapan miring dan tentangan hebat itu dirasakan juga oleh Slamet Haryanta (60) saat ingin merubah situasi dan kondisi lingkungan di tempat tinggalnya Kampung Sanggrahan, Kalurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Sanggrahan dulu, sampai tahun 90-an dikenal sebagai tempat lokalisasi terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebagai tempat prostitusi, tentu kehidupan sosial, budaya, agama, dan lainnya yang dijalani masyarakatnya bermasalah atau tidak sesuai dengan etika, norma, adat istiadat, dan nilai-nilai agama. Sehingga menjadi wajar jika hatinya membatu, omongannya saru, dan tindakannya wagu, serta memalukan.
Prihatin dengan situasi dan kondisi lingkungannya yang kelam, Mas Yanto, panggilan akrab Slamet Haryanta, nekat berbuat sesuatu untuk kebaikan lingkungan tempat tinggalnya. Tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, serta rumah bagi keluarganya.
Ada sejumlah program yang sekarang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, yakni penyadaran masyarakat akan lingkungan, konservasi air, penghijauan, dan usaha ekonomi keluarga. “Penyadaran masyarakat untuk peduli lingkungan itu yang paling sulit. Karena itu menyangkut karakter atau perilaku yang selama ini dijalaninya,” jelas Mas Yanto, panggilan akrab Slamet Haryanta, Minggu 13 November 2022.
Dengan ceplas-ceplos, tanda tedeng aling-aling, Mas Yanto mengungkapkan bagaimana sulitnya menyadarkan masyarakat pinggir kali yang sudah terbiasa membuang sampah seenaknya. Bagaimana mengedukasi warga agar sungai itu menjadi latar depan atau halaman rumah yang harus dibersihkan. Bagaimana menggerakkan warga agar memangkas rumahnya agar mundur madep kali.
Apalagi menyadarkan perempuan mantan mucikari atau penjaja cinta untuk mencari rejeki yang halal. Kalau hanya omong saja, pasti tidak akan digugu. Sehingga harus diberi contoh dan dibuktikan hasilnya. Mas Yanto sadar jika apa yang diinginkan itu berat dan susah kalau dijalankan sendirian. Maka dia selalu menjalin relasi dan bekerjasama dengan instansi dan orang yang memiliki visi dan kepedulian yang sama.
Mas Yanto, sebagai Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMK) Giwangan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta, menjalankan program dengan memadukan atau mengolaborasikan unsur 5 K, Komunitas, Kampus, Kampung, Korporat, dan Kota. Kemudian dilaksanakan dengan Slogan: Semangat Tanpa Sambat, Peduli adalah Solusi. Selanjutnya apa yang dilakukan diupayakan agar Tumoto, Kroso, dan Tumonjo.
Tumoto itu tertata lingkungannya, menjadi bersih, nyaman, dan asri. Sedangkan Kroso itu bisa dirasakan manfaatnya. Udaranya bersih, tidak banyak polusi. Akhirnya Tumonjo, tertata masyarakat, baik perilaku dan lingkungannya. Hasilnya, lingkungan resik, silir, dan masyarakat tertib, sopan, dan beretika.

Usaha yang diupayakan tanpa mengenal lelah, nekat tapi maton tersebut akhirnya membuahkan hasil. Bendung Lepen dan Sungai Gajah Wong kini menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Bendung Lepen viral dengan ribuan ikan di aliran irigasi dan Dam Mrican yang membendung Sungai Gajah Wong terkenal dengan Dermaga Cinta.
Selanjutnya Kampung Sanggrahan yang dulu tempat lokalisasi atau prostitusi terbesar di DIY, sekarang menjadi Kampung Taqwa. Kemudian Kampung Sanggrahan Pemukti (RW 10) menjadi Kampung Kelengkeng, sebuah tempat pemukiman yang asri, nyaman, dan bersih. Kampung yang menjaga konservasi air, kualitas udara, dan mewujudkan ketahanan pangan. (Ono Jogja)







