YOGYAKARTA – Adanya berbagai pembatasan selama pandemi Covid-19 dalam waktu lama, terutama pembatasan ruang gerak aktivitas fisik di luar rumah (lockdown) mengakibatkan stres pada banyak orang. Termasuk anak-anak.
Dosen Pascasarjana Magister Ilmu Agama Islam (MIAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr Azam Syukur Rahmatullah SHI MSI MA MPsi C PNLP mengatakan, anak-anak termasuk yang paling rentan mengalami stres selama masa lockdown karena anak-anak belum mampu mengendalikan emosi dan belum cukup mampu untuk memahami situasi yang sebenarnya terjadi.
“Melihat kondisi anak-anak selama dua tahun pandemi, dibutuhkan program untuk mengatasi stres salah satunya lewat play therapy. Penerapan play therapy melalui beberapa tahapan,” ungkap Azam, Rabu 15 Maret 2023.
Ditambahkan Azam, bersama tim dari UMY, belum lama ini pihaknya melaksanakan pengabdian masyarakat mengusung tema besar ‘Play Therapy untuk Pemulihan Stres Pasca Pandemi Covid -19 kepada para siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Klopogodo, Gombong, Kebumen. Tim pengabdi yakni Dr Azam Syukur Rahmatullah SHI MSI MA MPsi C PNLP, bersama Dr Fitriah SPdI MAg, Aleq Rahmat Hidayat, Aulia Muhammad Muttaqin, Kadir, dan Moh Nurwakhid SPd.
Diuraikan Azam, pada masa pandemi lalu, stres akademik, kondisi stres yang umum dialami siswa bahkan hingga mahasiswa. Stres tersebut muncul sebagai respons atas terlalu banyaknya tuntutan dan tugas yang harus dikerjakan di tengah terbatasnya sumber daya aktual yang dimiliki siswa sehingga mereka merasa terbebani dengan berbagai tuntutan di sekolah.
Di samping terbebani berbagai tuntutan, model pembelajaran daring menggunakan media online dirasa lebih membosankan dan melelahkan. Karena pada model pembelajaran daring, siswa tak dapat berinteraksi langsung dengan teman dan gurunya.
Pengabdian masyarakat dilaksanakan di MI Muhammadiyah Klopogodo karena belum pernah diadakan program play therapy untuk pemulihan pascacovid-19. Sosialisasi perihal pentingnya ikut menguatkan motivasi para siswa oleh guru dan stakeholder agar para siswa tak trauma pascacovid-19 pun belum pernah dilakukan. Di samping itu juga belum adanya slogan-slogan yang berbasis bebas stres pasca Covid 19 di area sekolah.
“Kami berusaha memusatkan diri pada problem solving. Diharapkan setelah itu kegiatan berbasis bebas stres pasca Covid 19 dapat diterapkan dengan baik,” pungkasnya. (Sukron)








