Pemuda Padukuhan Nayan Lestarikan Kesenian Jathilan

 Pemuda Padukuhan Nayan Lestarikan Kesenian Jathilan

Grup Jathilan Turonggo Mudho Lestari Budoyo saat tampil di Pusat Kuliner Condongcatur, Sabtu (29/8/2023). (Foto: Wiradesa)

Turonggo Mudho Lestari Budoyo, grup kesenian jathilan di Padukuhan Nayan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mempunyai visi misi untuk terus melestarikan seni dan budaya khususnya kesenian jathilan.

Grup jathilan ini dipimpin oleh seorang pemuda bernama Sulthon dan memiliki anggota mayoritas anak muda di Padukuhan Nayan.

Sulthon dan kawan seusianya di tahun 2017 berinisiatif untuk menghidupkan kembali kesenian jathilan di kampungnya yang sudah lama vakum.

“Di padukuhan Nayan sebenarnya sudah ada grup jathilan, tapi sudah lama tidak ada yang meneruskan,” terang Sulthon Ketua Turonggo Mudho Lestari Budoyo. Kepada Wiradesa.co, Sabtu 26 Agustus 2023.

Berawal dari obrolan santai dan iseng para pemuda di Padukuhan Nayan punya ide untuk menghidupkan kembali kesenian jathilan. Ternyata disambut hangat dan mendapat dukungan masyarakat serta para sesepuh yang dulu pernah menggeluti kesenian jathilan.

“Awalnya cuma iseng, saya dan beberapa teman-teman yang seusia saya punya ide untuk latihan jathilan,” cerita Sulthon.

Turonggo Mudho Lestari Budoyo, sesuai nama grupnya di era moderen sekarang dan banyaknya budaya luar yang masuk, masih ada pemuda yang mau melestarikan kesenian dan kebudayaan tanpa mengharapkan imbalan materi perlu mendapatkan apresiasi lebih.

Sulthon dan kawan-kawan di sela kesibukannya bekerja masih menyempatkan diri untuk berlatih atau sekadar berkumpul untuk membahas tentang kesenian jathilan ini.

Komitmen dari teman-teman grup Turonggo Mudho Lestari Budoyo untuk terus melestarikan kesenian jathilan akhirnya mendapat apresiasi dari pemerintah setempat. Grup jathilan ini, beberapa kali ditunjuk untuk mewakili Kalurahan Maguwoharjo di berbagai macam pentas regional.

“Dan dari padukuhan sendiri sudah berencana untuk membuatkan fasilitas tempat semacam joglo sebagai sarana untuk pentas dan latihan grup kesenian jathilan,” jelas Sulthon.

Baca Juga:  Hadroh Nurul Amin Srikayangan Tampil di Wisata Alam Watu Bulus

Walaupun masih banyak kekurangan dalam grup jathilan ini, seperti beberapa alat yang rusak dan belum bisa membeli yang baru, Sulthon dan kawan-kawan masih tetap semangat dan optimis dalam melestarikan kesenian jathilan.

Mengakhiri perbincangan dengan wiradesa.co Sulthon mengungkap harapan dan mengeluhkan tentang apresiasi pemerintah terkait yang masih belum maksimal dalam mensuport kegiatan kesenian dan kebudayaan.

“Jujur mas jadi orang seni itu susah, harus ikhlas harus pakai hati, di paguyuban ini masih kurang alat, kami sudah coba pengajuan tapi sudah 2 tahun atau 3 tahun ini masih belum ada respon dan tanggapan juga,” keluh ketua grup jathilan ini.

Pemerintah, khususnya Dinas Kebudayaan Sleman, perlu mendengar dan mengambil kebijakan agar apa yang diharapkan pelaku seni budaya itu bisa terwujud. Apa susahnya membeli peralatan seni jathilan dari anggaran dana keistimewaan. (Aboe Bakar)

Redaksi

Mandirikan Desa Sejahterakan Rakyat

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: