Muhammad Tamami, Lahirkan Puluhan Karya dari ‘Studio’ Dapur

 Muhammad Tamami, Lahirkan Puluhan Karya dari ‘Studio’ Dapur

Muhammad Tamami dengan lukisan kaligrafi karyanya. (Foto: Wiradesa)

PURWOKERTO – Lukisan kaligrafi, pemandangan, bunga anggrek tersimpan dan terawat baik di rumah Muhammad Tamami. Pemuda warga Beji RT 01 RW 09 Kecamatan Kedungbanteng memajang sekitar 10 karya lukisnya pada dinding ruang tamu, sebagian karya lain ditata di pojok dan di sisi timur ruang tamu rumahnya yang menghadap ke selatan.

Para tamu, teman, seniman yang bertandang ke rumahnya otomatis begitu pertama kali masuk ruang depan akan disuguhi pemandangan lukisan cat minyak pada kanvas berbagai ukuran.

“Sebagian lukisan langsung terjual karena garapan pesanan. Sementara yang lain ada yang diikutkan pameran beberapa kali namun belum ketemu calon pemilik yang cocok,” ucap Watam, sapaan akrabnya saat ditemui wiradesa.co di rumahnya pada Lebaran hari ke-4 lalu.

Dia menunjuk satu lukisan kaligrafi buatan lima tahun lalu dengan cat rembrandt pada kanvas ukuran 110 x 85, sudah beberapa kali ikut pameran namun belum terjual. Memakai cat rembrandt, pigura fiber, lukisan tersebut dibanderol Rp 5 juta. “Selain pameran kegiatan penggalangan dana buat bencana alam melalui lelang karya sesekali digelar bareng teman-teman seniman di Banyumas, Cilacap dan Purbalingga. Kegiatan macam pameran, lelang karya sekaligus sebagai sarana menyambung silaturahmi,” tuturnya.

Melukis diakui Watam sudah menjadi jalan hidup. Penghasilan utama sehari-hari memang dari menjual lukisan karyanya. Mulai produktif melukis pada 2000, belajar pada Faisal sosok pelukis sanggar ISMI Jakarta yang pernah tinggal di Beji tak jauh dari kediaman Watam.

“Satu minggu target merampungkan satu lukisan. Paling tidak sehari dua jam dipakai buat melukis. Idenya dari lihat tanaman hias, kalau suntuk melukis, dibawa jalan-jalan biar kembali dapat ide segar,” ucapnya sembari menyebut pada puasa lalu dua lukisan anggrek dan satu kaligrafi laku terjual.

Baca Juga:  Eksplorasi Bentuk, Warna, Tata Letak Lewat Desain Vector

Ditambahkan, karya lukisnya dipesan pula untuk suvenir. Dari keseluruhan karya, diakuinya gaya lukis realis dan dekorarif paling banyak dikerjakan. “Harga tergantung ukuran, merek cat. Yang ukuran kecil 40×50 cm ada yang Rp 300 ribuan. Cat biasa. Kalau pakai rembrandt ukuran segitu Rp 1,5 jutaan. Karena kualitas cat memang bagus,” terangnya.

Dari beberapa ruang di rumahnya, sejak awal melukis hingga sekarang, bagian ruang dapur dipilih Watam sebagai studio tempatnya mengerjakan karya. Puluhan lukisan selesai dalam setahun di dapur kecil rumah Watam. Di dapur ia melukis berdekatan dengan tempat masak, kulkas dan meja tempat menaruh makanan. “Yang jelas tempatnya nyaman. Pencahayaan cukup, sirkulasi udara juga bagus dekat dengan pintu. Mau ambil makanan dan minum pun dekat,” kata Watam memberi alasan kenapa ia menjadikan sebagian space di dapurnya sebagai tempat melukis.

Muhammad Tamami menyelesaikan lukisan bunga. (Foto: Wiradesa)

Meski sibuk sebagai pelukis, Watam menyediakan waktu luang mengajar anak-anak mengaji di rumah dan di musala terdekat. Bahkan ia didapuk sebagai imam musala untuk keperluan salat jamaah lima waktu. “Yang ngaji ke rumah, anak-anak ngaji Alquran dan jurumiyah,” kata Watam yang khusus belajar agama di Ponpes Alquraniyah Syekh Maulana Hasanudin Kompleks Masjid Agung Banten berguru pada Tubagus Haji Sajli Wasyi serta beberapa tahun nyantri di Mahad Bani Ali Pandeglang.

Di luar urusan melukis dan mengajar anak-anak mengaji, merawat tanaman hias ditekuni Watam. Walau rumahnya terbilang kecil dan sederhana berdinding anyaman bambu namun bagian teras terlihat begitu bersih, sejuk oleh deretan koleksi tanaman hias. (Sukron)

Sukron Makmun

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: