Pewarta Foto Bencana Beawiharta, Berbagi Coklat Sebelum Memotret

Karya foto Beawiharta mengambil objek foto anak-anak penyintas bencana tsunami Aceh. (Foto: Wiradesa).

SLEMAN – Tugas meliput bencana bagi wartawan tulis, televisi, juga pewarta foto tak dapat dielakkan. Sewaktu-waktu terjadi musibah bencana dan ditugaskan redaksi berarti harus segera meluncur bahkan sejak hari pertama kejadian bencana.

Hal itu diungkapkan Beawiharta mantan pewarta foto Reuters pada talkshow bertema Siaga Memotret Bencana, Rabu 31 Mei 2023.

Pada talkshow yang diikuti para pewarta foto yang tergabung dalam Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jogjakarta, Bea mengisahkan pengalamannya meliput bencana tsunami Aceh 26 Desember 2004.

Sejak tiba di Banda Aceh hari kedua bencana mahadahsyat itu, alih-alih langsung memotret sesuai tugasnya, dia justru mengalami kekagetan luar biasa terhadap situasi bencana. Butuh waktu beberapa saat bagi hati dan pikiran untuk dapat menyesuaikan diri dan mengambil tindakan di lapangan.

“Di Banda Aceh numpang tidur di rumah kayu milik Nunu. Nunu ini yang pertama kali mengangkut saya dan sejumlah wartawan dari bandara menuju lokasi yang banyak mengalami kerusakan parah juga banyak jatuh korban,” ucapnya.

Suasana di awal bencana, gempa susulan kerapkali terjadi. Ibarat tiap satu jam sekali keluar rumah akibat adanya guncangan gempa bumi. “Saat tidur, semua pintu dibuka. Satu jam sekali keluar,” kata Bea yang kemudian ditunjuk sebagai koordinator bagi 10 rekan-rekannya yang menyusul datang ke Banda Aceh.

Baca Juga:  Sebelas Konstituen Minta Dewan Pers Membuka Draf Perpres Media Berkelanjutan

Sebagai koordinator, tugasnya menyiapkan makan, sanitasi dan keperluan air bersih buat mandi cuci. Genset kemudian didatangkan dari Medan.

“Tim yang datang awalnya nggak mau makan daging saking banyaknya melihat mayat. Yang dimakan mie dan coklat,” terangnya.

Keterbatasan logistik di masa tanggap darurat membuat asupan buat Bea dan rekan dibatasi. Bila sudah dapat nasi maka tak beroleh telur. Sudah dapat mie, tak diperkenankan ambil telur. Agar stok makanan awet.

“Pasokan bahan makanan tak ada. Karena harus dibagi ke banyak orang, maka stok makanan sangat dihemat,” imbuhnya. Bea berinisiatif beli ayam milik peternakan ayam yang mau ditinggal pergi mengungsi si pemilik. Sebanyak 45 ayam hidup dibeli dan dijadikan lauk, dipotong tiap hari. Baru beberapa hari kemudian bisa pilih menu: nasi, telur atau ayam.

Problem asupan bahan makanan dan air bersih selalu menjadi persoalan di lokasi bencana. Karena itu, ia berinisiatif menguras sumur menggunakan genset yang didatangkan. Tepatnya pada hari ketiga baru bisa mandi, air buat masak mulai bisa pakai air sumur.

Baca Juga:  Timsel Majukan Seleksi Administrasi Calon Anggota KPID DIY 2020-2023

“Menyiapkan logistik buat teman-teman yang liputan tak mudah. Karena tak boleh merepotkan orang,” bebernya.

Di sela mengurus logistik, Bea sesekali ke lapangan melakukan tugas jurnalistik yakni memotret. Hari keempat, Bea kembali dibuat syok tatkala liputan di salah satu rumah sakit. Mendengar rengekan, tangisan dan ratapan menyayat korban tsunami, lagi-lagi ia tak sampai hati untuk memotret.

Ia baru memotret setelah berbagi coklat kepada anak-anak yang tengah menjalani perawatan. Bea berusaha membuat senang terlebih dahulu anak-anak yang tengah berbaring di tempat tidur rumah sakit.

Enam pekan meliput di Aceh, Bea kembali ke Jakarta. Bukannya nyaman sekembali ke rumah, dia justru mengalami gangguan. Sering teriak, tiap malam mengigau. “Tiap malam mengigau. Seolah apa yang dilihat di Aceh seperti kembali. Jiwa tidak stabil,” kenangnya.

Kepada istri ia berpesan agar sering diajak ngobrol. Ngobrol apa saja. Agar tidak diam. Ia menilai ada gap. Semua hal di Banda Aceh menjadi tak penting. Yang paling penting adalah hidup dan bertemu sanak keluarga. Yang lain menjadi tak penting. Kembali ke kehidupan rumah justru banyak hal sepele diributkan.

Baca Juga:  Tujuh Jamaah Haji Kalurahan Sukoharjo Pamitan

“Karena hal itu bikin saya banyak marah. Orang rumah jadi korban. Istri pun mengeluh. Dan akhirnya konsultasi psikiater. Kata psikiater saya mengalami post traumatic stress disorder (PSTD),” ucapnya.

Dia disarankan kembali ke Banda Aceh namun diberi list apa yang boleh diliput dan apa yang tak boleh diliput. Misalnya penguburan mayat tak boleh diliput. Bea hanya boleh pergi meliput orang-orang yang mau bangkit membangun kehidupan kembali. Seperti kegiatan rescue bangun rumah atau sekolah. Menurut Bea, sakit yang ia alami berlangsung lama bahkan hingga berhenti kerja. “Pada 2018 banyak liputan bencana. Namun angkat tangan nggak mau meliput bencana lagi,” tandasnya.

Pewarta foto Ulet Ifansasti dari Getty Images mengakui sosok Beawiharta menjadi panutan bagi para pewarta foto bencana.

“Sosok Mas Bea di lapangan menjadi rujukan pewarta foto. Spot-spot bagus tatkala mengambil foto kerap menjadi bahan contekan. Kaget juga begitu tahu memutuskan resign. Karena belum banyak belajar darinya,” pungkas Ulet yang kerap bertemu di lapangan dengan Bea saat meliput berbagai bencana. (Sukron/selesai)

Tinggalkan Komentar